Kevin sudah membawakan obat untuk Neneknya ke ruang tamu. “Nenek kemana?” Namun Nenek tak ada di sana. “Nek. Tarzia.” Kevin memanggil mereka. Mendengar canda tawa dari kamar Nenek, Kevin menyusul mereka ke sana. “Kalian di sini? Kevin nyariin ke depan tadi.” Kevin masuk ke kamar Neneknya. “Kevin, tolong pakaikan jepitan rambut ini di rambut Zia.” Perintah Nenek. Kevin dan Tarzia saling bertatapan. “Ayo dong.” Bujuk Nenek. Kevinpun menurutinya, dia meletakkan obat dan segelas air putih yang dibawanya tadi di atas meja rias Nenek lalu mengambil penjepit rambut itu dari tangan Tarzia dan memakaikannya di rambut Tarzia yang dibiarkan terurai. “Kamu cantik sekali.” Nenek kagum melihat kecantikan alami Tarzia, bagitupun Kevin. “Ini adalah hadoah pertama yang diberikan almarhum Kakek ke Nenek dulu.” Nenek kembali terharu. “Ini berarti benda yang sangat berarti buat Nenek.” Tarzia merasa bersalah telah menerima hadiah kecil itu. “Sekarang bagi Nenek yang paling berharga adalah kebahagiaan Kevin.” Nenek memandang wajah Kevin. Kevin segera memeluk Neneknya. “Kevin sayang Nenek.” Tarzia juga terharu melihat mereka.
Supri, supir Tarzia sudah menunggu sejak tadi di depan Kampus sampai-samapi dia mengantuk dan tertidur di dalam mobil. Tak lama Tarzia datang diantarkan oleh Kevin. “Makasih sudah datang.” Ucap Kevin dengan tulus. “Aku harus pergi.” Tarzia melambaikkan tangan pada Kevin. Dia berjalan ke arah mobilnya. “Kalau kamu menoleh, itu artinya kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku.” Kevin masih melihat ke arah Tarzia. Benar saja, setelah beberapa langkah berjalan, Tarzia menoleh ke belakang dan tersenyum pada Kevin. Kevinpun sumringah. “Yes!” Dia tertawa senang. Kevin menyalakan mesin motornya dan dia bisa kembali ke rumah dengan perasaan berbunga-bunga begitupun dengan Tarzia.
Ahmad sedang menemui pengacaranya di kantor. “Bapak yakin dengan surat-surat ini?” Tanya pengacaranya lagi. “Iya Pak. Saya sangat yakin dan saya sadar sepenuhnya.” Ahmad meyakinkan pengacaranya itu. “Baiklah Pak, sebagai pengacara, saya hanya bisa menjaga amanah dari anda.” Pengacaranya mengangguk. Entah apa yang ditanda tangani oleh Ahmad, tetapi terlihat jelas dari wajahnya bahwa itu adalah keputusan yang terbaik.
Tarzia merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Dia tak dapat menyembunyikan perasaannya itu saat tiba di rumah. “Mas di rumah?” Dia terkejut melihat Ahmad berada di rumah. “Iya.” Ahmad tersenyum. Ahmad melihat penjepit rambut yang dipakai Tarzia namun dia tak berkomentar apa-apa. Ahmad berlalu begitu saja dari hadapan Tarzia, tak seperti biasanya. “Mas Ahmad kenapa?” Pikir Tarzia. Bukan hanya sekali, Ahmad kembali cuek pada Tarzia saat makan malam. “Buk, Ahmad duluan ya.” Dia menyelesaikan makan malamnya lalu meninggalkan Tarzia dan Ibunya di ruang makan. “Pasti di kamar.” Tebak Tarzia sambil berjalan menaiki anak tangga. Namun dugaannya salah, Ahmad tak ada di kamarnya. “Dimana dia?” Tarzia mencoba mencari Ahmad ke ruang kerjanya. “Dia gak di sini?” Tarzia semakin penasaran. “Kenapa dia cuekin aku seharian?” Tarzia duduk seorang diri di ruang keluarga. “Apa karena aku bilang...” Tarzia mengingat kata-katanya malam itu pada Ahmad. “Aku bingung...” Tarzia terlihat galau. Saat kembali ke kamar, Ahmad sudah tidur terlebih dulu sehingga Tarzia tak bisa bertanya padanya.
Ahmad melakukan sholat subuh sendirian tanpa membangunkan Tarzia. Tarzia terpaksa sholat subuh sendirian. Ahmad tak bicara pada Tarzia sama sekali. “Pagi banget ke kantornya Mas?” Tarzia memberanikan diri bicara pada Ahmad yang akan masuk ke kamar mandi. “Hari ini aku telat pulangnya.” Kata Ahmad lalu masuk ke kamar mandi. Tarzia tercengang. “Ada apa sih? Aku salah apa?” Tarzia merasa kesal dan dia memutuskan mandi di kamar mandi lain. Hari itu penampilan Ahmad terlihat berbeda, bukan dengan kemeja dan jas seperti biasanya, dia memakai kemeja dengan atasan rompi dan gaya rambutnya juga berbeda. Ahmad terlihat sangat keren bak artis Korea saja. Tarzia yang baru kembali dari kamar mandi. “Di hotel ada acara ya Mas?” Tanya Tarzia. “Bukan di hotel, tapi di luar.” Ahmad lalu keluar dari kamar. “Jadi kamu nyuekin aku? Terserah.” Tarzia mendumal di dalam hati.
Suasana hati Tarzia sangat buruk saat tiba di Kampus. “Ada apa sih?” Tanya Pinky. “Kenapa cowok tiba-tiba berubah?” Tarzia malah balik bertanya. “Berubah gimana?” Pinky nampak binging. “Biasanya dia gak terlalu peduli sama penampilan, sama style, tiba-tiba jadi peduli dan cuek sama kita.” Cerita Tarzia membuat Pinky tertawa. Tawa canda itu membuat Kevin mengetahui keberadaan mereka. Kevin yang berada di belakang mereka hendak menghampiri Tarzia dan Pinky. “Itu berarti dia punya selingkuhan.” Pinky menakut-nakuti Tarzia. “Selingkuh?” Tanya Tarzia. Kevin menghentikan langkahnya. “Mungkin dia bosan karena kamu terlalu sibuk sama kegiatan kuliah, jadi dia cari selingan di luar sana.” Pinky terus saja mengusili Tarzia. “Siapa yang selingkuh?” Kevin mengagetkan mereka berdua. Seketika Tarzia terperanjat, dia memberi kode pada Pinky agar tak menggubris pertanyaan Kevin tadi. “Dosennya udah masuk ya?” Tarzia mengalihkan perhatian Kevin. “Aku tau kamu nyembunyikan sesuatu Zia.” Kevin berpura-pura tidak tau di depan kedua perempuan itu.
Sebenarnya Ahmad tidak berselingkuh, dia hanya menjalankan misi sesuai arahan Salsabila. “Gimana reaksi Tarzia tadi?” Tanyanya. “Dia pasti kesal aku cuekin.” Tetapi Ahmad tak terlihat senang. “Itu awal yang bagus. Selanjutnya kamu ke Kampus dia dengan alasan kunjungan bisnis.” Salsabila begitu bersemangat dengan ide-ide yang telah dia rancang.
Di kampus sedang ada acara seminar di aula. “Ikut yuk?” Ajak Pinky. “Acara apaan sih?” Tanya Tarzia yang masih tak bersemangat karena memikirkan perubahan sikap Ahmad padanya. “Buruan...” Pinky memaksa Tarzia ikut bersamanya. Salah satu panitia penyelenggara acara seminar tersebut adalah Kevin. “Kalian ikutan juga. Masih ada bangku kosong di tengah.” Kevin merasa senang melihat Tarzia dan Pinky datang. Kevin menunjukkan bangku kosong tersebut pada mereka berdua. “Makasih ya.” Ucap Pinky. “Dia udah datang. Ya ampun keren banget...” Beberapa mahasiwa peserta seminar yang baru saja masuk ke aula terlihat heboh sekali. “Pematerinya pengusaha sukses yang ganteng banget.” Bahkan peserta seminar yang duduk di barisan depan juga membicarakannya. “Aku jadi penasaran...” Pinky kembali antusias. “Bukannya kamu udah jadian ama anak band itu.” Tarzia mengejek Pinky. “Ssst... Nanti ketahuan.” Pinky mencubit tangan Tarzia. “Aduh, sakit tau.” Tarzia mengeluh kesakitan. “Selamat siang semuanya, terimakasih sudah mengikuti seminar dengan tema : Yang Muda Yang Berkompetensi.” Pembawa acara membuka acara siang itu. “Mari kita sambut narasumber kita hari ini, seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya di usia muda. Bapak Ahmad Tanzu.” Mendengar nama sang suami disebut oleh pembawa acara, Tarzia kaget bukan kepalang. “Mas Ahmad?” Raut wajah Tarzia menjadi pucat. Ahmad memasuki aula dan mengambil mikrophone yang diberikan oleh Pembawa acara.
Seluruh peserta seminar yang wanita langsung heboh kembali. “Wah... Ganteng banget.” Bahkan Pinkypun bereaksi sama. “Ini sih cowok aku lewat...” Pinky memuji ketampanan Ahmad yang kharismatik. “Semua peserta seminar antusias sekali nih Pak. Mungkin mereka gak menyangka kalau Pak Ahmad itu semuda ini.” Pembawa acara membuat suasana dia aula kembali tenang. “Terimakasih atas sambutan hangatnya. Bapak Rektor, Dekan, penyelenggara acara. Ini sebuah kebanggan bagi saya bisa diundang dalam seminar ini.” Ahmad menyapa mereka semua. “Mari kita mulai bincang-bincangnya.” Pembawa acara mengajak Ahmad duduk di kursi yang berada di atas pentas. “Aku mau ke toilet.” Tarzia bernjak dari aula tetapi Kevin menghalanginya. “Kamu mau kemana? Acara baru dimulai loh.”
“Aku mau ke toilet.” Jawab Tarzia. Kali ini Kevin tak bisa mencegah Tarzia. Ahmad melirik ke arah Tarzia. Tarzia tak pergi ke toilet, dia malah pulang ke rumah.
Acara seminar telah selesai. “Duh... Tarzia mana sih, dari tadi gak balik-balik. Masa ke toilet 1 jam.” Pinky celingukan mencari keberadaan Tarzia. “Tarzia gak ada di toilet.” Kevin berbisik pada Pinky. “Di kelas juga gak ada.” Lanjutnya lagi. “Kamu kemana sih?” Pinky semakin cemas. “Permisi.” Ahmad menghampiri mereka berdua. “Pak Ahmad?” Pinky terbelalak. “Kata Dekan, ini semua ide Kevin, jadi saya mau ucapin makasih sama Kevin.” Ternyata Ahmad mau menemui Kevin. Kevin merasa tersanjung mendengarnya. “Justru saya yang makasih Pak. Anda sudah meluangkan waktu yang sangat berharga untuk membagikan pengalaman anda pada kami semua.”
“Ini kartu nama saya, kalau kamu perlu apapun, kamu bisa hubungi saya.” Ahmad mengambil kartu nama di dalam dompetnya dan memberikannya pada Kevin. “Sekali lagi terimakasih.” Ahmad mengulurkan. Mereka berdua bersalaman. Pinky masih terpana melihat wajah Ahmad dari dekat. “Permisi.” Tak lupa Ahmad berpamitan pada Pinky. “Kevin, aku boleh pegang tangan kamu gak?” Pertanyaan Pinky terdengar aneh. Pinky lalu meraih tangan kanan Kevin. Setelah bersalaman Pinky mencium bekas tangannya. “Wangi banget...” Ternyata Pinky ingin merasakan sentuhan tangan Ahmad. Kevin hanya bisa geleng-gelang kepala dengan tingkah konyol Pinky.
Ahmad menelpon Salsabila untuk mengabari apa yang terjadi tadi. “Jadi dia pergi dan gak berani balik lagi?”
“Iya, kata Ibuk Zia udah pulang.” Jawab Ahmad. “Jangan pulang dulu, biarkan dia sendiri. Setelah itu lanjut ke rencana ketiga.” Perintah Salsabila. “Udah jam 5, kenapa dia belum pulang?” Tarzia mondar-mandir di depan rumah. Saat melihat mobil Ahmad muncul, dia segera menemuinya. “Loh, kamu udah pulang?” Ahmad kekuar dari mobilnya. Ahmad berjalan masuk ke dalam rumah. “Kok Mas gak bilang mau ada seminar di Kampus aku?” Tarzia terlihat sedikit marah. “Kamu kan kuliah di sana, masa gak tau sih?” Ahmad memberikan tas kerjanya pada asisten rumah tangga yang berada di ruang tamu. “Tolong bawa ke ruang kerja saya ya?” Pinta Ahmad. “Lagipula katanya kamu gak mau teman-teman di Kampus tau kalau kamu istri aku, kamu gak mau mereka berteman sama kamu karena status kamu.” Ahmad kembali menjelaskan alasannya. Ahmad menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkas. “Iya, tapi setidaknya Mas ngomong dulu supaya aku gak kikuk.” Tarzia berdiri di samping Ahmad. Ahmad meneguk jus jeruk di tangannya. “Aku mau mandi dulu.” Ahmad malah pergi meninggalkan Tarzia. “Mas!” Tarzia hendak menyusulnya tetapi Ibunya menghalangi langkahnya. “Sekarang kamu ngerasain apa yang dirasakan Ahmad selama ini.” Setelah mengutarakan kekesalannya pada Tarzia, Ibunyapun kembali ke kamar.
Tarzia kembali dalam kesedihannya, dia duduk sendirian di gazebo. Ahmad sudah berganti pakaian, kali ini gayanya sangat simple namun tetap menarik. Ahmad akan pergi lagi sore itu. “Mau kemana lagi dia?” Tarzia melihat Ahmad masuk ke mobil. “Aku harus cari tau sendiri.” Tarzia memutuskan untuk mengikuti Ahmad secara diam-diam. “Supri, ikutin Tuan ya.” Perintahnya pada sang supir. “Baik Nona.” Supri membuntuti mobil Ahmad dengan sangat berhati-hati agar tak mencurigakan. Ahmad sedang menelpon Salsabila. “Kamu benar, dia ngikutin aku.” Dan menceritakan apa yang sedang terjadi. “Bagus. Aku udah stand by di depan rumah.” Salsabila telah siap dalam penyamarannya sebagai seorang wanita cantik berkelas yang menunggu Ahmad di depan rumahnya. Mobil Ahmad masuk ke pekarangan rumah Salsabila sedangkan mobil Tarzia berhenti agak jauh dari sana. “Ngapain Mas Ahmad kesana?” Tarzia tak bisa melihat dengan jelas. Ahmad turun dan membukakan pintu mobil untuk Salsabila. Setelah Salsabila masuk ke dalam mobil, mereka bersama-sama melanjutkan perjalanan. “Sama siapa dia?” Tarzia semakin penasaran. “Mereka masih terus ngikutin.” Salsabila melihat lewat spion mobil Ahmad. “Apa ini gak keterlaluan?” Ahmad begitu mencemaskan Tarzia. “Aku penasaran siapa yang sebenarnya dia cintai.” Pikir Salsabila.
Mobil Ahmad berhenti di depan gedung bioskop. “Dia gak pernah ngajak aku ke bioskop.” Tarzia merasa cemburu melihat Ahmad keluar dari mobil bersama seorang wanita cantik. “Tuan sama siapa?” Supri juga penasaran. Terpaksa Tarzia menunggu di dalam mobil sampai Ahmad dan Salsabila keluar dari bioskop. “Filmnya 2 jam.” Protes Ahmad. “Sabar. Kita lihat aja nanti.” Pinta Salsabila. “Lama banget sih?” Tarzia mulai ketar-ketir. “Gak sekalian ikut nonton Non?” Tanya Supri. “Diam aja deh.”Kesal Tarzia. Beberapa kali Tarzia mondar-mandir di depan mobilnya menunggu mereka. Tarzia malah bertemu dengan Pinky dan Chiko. “Zia?” Chiko terkejut. “Sayang, ini sahabat aku di Kampus.” Pinky memperkenalkannya pada sang kekasih. Tarzia berpura-pura tersenyum. “Halo.” Lalu menyapa Chiko. “Kamu sama siapa?” Tanya Pinky yang terus menggandeng tangan Chiko. “Oh... Aku tau... Yaudah, kami masuk duluan ya.”Pinky mengedipkan mata pada Tarzia. “Dah.” Tarzia melambaikan tangan pada Pinky. “Keterlaluan.” Tarzia memilih masuk kembali ke dalam mobil. “Pasti Zia lagi nunggu suaminya. Itu artinya kehidupannya sekarang baik-baik aja, dia bahagia dengan pernikahannya. Lagipula Joe juga udah melupakan dia.” Pikir Chiko. “Sayang, besok kamu lanjut konser keliling pulau Jawa lagi?” Pinky membuyarkan lamunan Chiko. “Iya, gak papa kok, buat ngumpulin duit supaya bisa ngelamar kamu.” Jawaban Chiko meluluhkan hati Pinky.
Film belum berakhir sepenuhnya tetapi Ahmad sudah berdiri dan ingin keluar dari teater. “Ahmad!” Salsabila menarik lengan Ahmad agar duduk kembali. Setelah film selesai barulah Salsabila dan Ahmad keluar dari ruang teater. Salsabila dan Ahmad tertawa bahagia sambil menceritakan film yang baru saja mereka tonton. “Non, itu Tuan.” Supri memberitahukannya pada Tarzia. Tarzia segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka berdua. “Mas?” Dia memanggil Ahmad. “Zia? Kok kamu di sini?” Ahmad bertingkah seolah-olah dia baru tertangkap basah berselingkuh. “Aku belum pernah nonton di Bioskop Mas, jadi aku penasaran mau lihat-lihat, ternyata ada film yang seru banget di sini.” Tarzia melihat sinis kepada Salsabila. “Oh ya, cerita apa?” Tanya Ahmad sambil berusaha tersenyum. “Kisah nyata.” Jawab Tarzia. “Ini istri kamu?” Salsabila memberi kode agar Ahmad memperkenalkan mereka. “Iya. Tarzia, dia Salsabila, sahabat aku.” Barulah Ahmad memperkenalkan mereka berdua. “Istri kamu cantik sekali dan masih muda. Pasti kalau di luaran banyak yang ngira masih single.” Puji Salsabila. Tarzia mengibas rambutnya dan merasa sedikit sombong. “Begitulah.” Jawabnya. Ahmad terheran-heran dengan sikap Tarzia yang sangat aneh. “Kalau dia nunjukin sikap yang aneh, itu artinya dia cemburu. Dia menaruh hati sama kamu. Tinggal kamunya aja harus melebihkan perhatian ke dia.” Ahmad mengingat kata-kata Salsabila. “Mbak juga cantik. Udah nikah?” Tarzia bertanya pada Salsabila. Salsabila terdiam dibuatnya. Melihat suasana mulai tegang, Ahmadpun tertawa. “Kamu ke bioskop pakai baju ini?” Dia mencoba mengalihkan perhatian. Tarzia menyadari kalau memang dia hanya memakai pakaian rumahan. “Ini gaya baru.” Meski sedikit merasa malu, Tarzia berusaha percaya diri. “Ahmad, aku harus pulang sekarang.” Bisik Salsabila. “Zia, aku nganterin Salsa pulang dulu ya. Kamu sama Supri kan?” Mulut Tarzia menganga mendengar apa yang baru saja dikatakan Ahmad. “Mas, aku istri kamu loh. Aku aja belum pernah kamu ajak nonton.” Protes Tarzia. Salsabila hampir tersenyum melihat kecemburuan Tarzia. “Bentar ya.” Ahmad minta izin pada Salsabila untuk bicara 4 mata dengan Tarzia. “Kamu kenapa sih? Biasanya kamu gak pernah mempermasalahkan apa yang aku lakuin. Kamu sibuk dengan kegiatan kuliah dan gak sempat nonton sama aku. Daripada tiketnya mubazir, aku ajak Salsabila aja.” Ahmad mencoba memberi pengertian pada Tarzia. Tarziapun terdiam, dia tak bisa protes apa-apalagi saat Ahmad pergi dari hadapannya. “See you Zia.” Salsabila melambaikan tangan padanya. Hati Tarzia terasa sakit saat itu. “Kamu kenapa Zia? Apa aku cemburu? Apa aku jatuh cinta?” Pikir Tarzia.
Tarzia masuk ke dalam mobil. “Kita pulang Non?” Tanya Supri. “Kita ke rumah temen saya.” Perintah Tarzia. Rumah yang dimaksud adalah rumah Kevin. “Kamu pulang aja duluan. Nanti saya pulang sendiri.” Tarzia segera keluar dari mobil. “Baik Non.” Supri meninggalkan Tarzia di sana. “Ning, Nong...” Tarzia menekan bel rumah Kevin. Asisten rumah tangga membukakan pintu. “Mbak Tarzia?” Dia sumringah. “Nek, Den Kevin, ada Mbak Tarzia nih.” Asisten rumah tangga Kevin saja sangat antusias menyambut kedatangannya. Tarzia yang masih merasa sedih merasa sedikit terhibur. Kevin mendorong kursi roda Neneknya menuju ke depan. “Zia? Kok kamu di sini?” Kevin terkejut. “Hus, yang bener kalau ngomong. Zia, ayo masuk.” Nenek mencubit tangan Kevin. “Sakit Nek.” Keluh Kevin. Tarzia menjadi tertawa kecil karena mereka. Tarzia diajak masuk ke dalam rumah oleh Nenek Kevin. “Kalian ngobrol aja dulu di sini. Nenek mau siapin cemilan yang lezat untuk kalian. Nenek memberi kode pada asisten rumah tangganya agar membiarkan Kevin bicara berdua dengan Tarzia. “Kamu kenapa?” Tanya Kevin. Tarzia menyeka air mata yang akan menetes ke pipinya. “Aku boleh di sini sebentar kan?” Tanya Tarzia. “Butuh bahu gak?” Kevin menepuk pundak kanannya. Tarzia tersenyum, merasa sedikit terhibur. Asisten rumah tangga mengintip dari balik dinding. “Mbak Zia tidur di pundaknya Den Kevin Nek.” Dia memberitahukan apa yang dilihatnya pada Nenek Kevin. “Ya Allah... Semoga mereka bisa bersama selamanya.” Nenek sangat berharap sekali Kevin dan Tarzia menjalin hubungan.
Ahmad sudah tiba di rumah. Dia melihat Supri sudah ada di rumah. “Non Zia mana?” Tanyanya. “Ke rumah temennya Tuan.” Jawab Supri. “Temennya cowok atau cewek?” Tanya Ahmad. “Waduh, kalau itu saya kurang tau Den. Tapi temennya Non Zia itu orang kaya, tinggalnya aja di perumahan elit.” Jawab Supri. “Bisa antarkan saya ke sana?” Pinta Ahmad. “Siap Tuan.” Supri nampak bersemangat.
“Kalau kamu butuh temen cerita, aku siap dengerin.” Kevin membiarkan Tarzia bersandar di bahunya. “Aku bingung sama perasaanku sekarang.” Tarzia memulai ceritanya. “Aku juga.” Jawab Kevin. Tarzia mengangkat kepalanya dan memandang Kevin. “Kevin, aku mau cerita...” Tarzia mengeluh padanya. “Sorry.” Kevin memasang wajah polosnya. “Kamu bingung harus memilih siapa kan?” Tebak Kevin. “Kok kamu tau?” Tarziapun tercengang. “Bukan aku, Pinky.” Tarzia segera meralat jawabannya. “Pinky?” Kevin mengernyitkan alis. “Iya, inget dia pernah cerita personel band yang naksir dia?” Tanya Tarzia. Kevin mengangguk. “Pinky suka sama cowok itu, tapi dia udah dijodohin sama orang lain yang emang baik banget sama dia, berjasa gitu deh. Dia bingung pilih siapa. Aku didesak buat mikir.” Cerita Tarzia membuat Kevin bingung. “Pasti dia dijodohin sama orang kaya raya yang udah tua kayak di film-film.” Tebak Kevin. “Gak setua itu juga. Masih muda dan ganteng juga kok.” Bantah Tarzia. “Kamu kenal orangnya?” Tanya Kevin. “Iya, kan pernah dikenalin.” Tarziapun berbohong padanya. “Menurut aku, cinta itu bukan soal jasa, hutang budi atau apalah. Cinta itu tentang kenyamanan dan kebahagiaan. Dimana Pinky merasa bahagia, di sanalah dia seharusnya.” Kevin menanggapinya dengan bijaksana. Tarzia telah menemukan jawaban dari kebimbangannya.
“Ini rumahnya Tuan.” Supripun telah menunjukkan lokasi rumah Kevin pada Ahmad. “Siapa temannya Zia? Kenapa di dalam kondisi seperti ini dia malah datang ke rumahnya?” Pikir Ahmad. “Kita pulang sekarang.” Perintah Ahmad. “Baik Tuan.” Maka merekapun pergi dari tempat itu.
“Tarzia, bisa bantu Nenek sebentar?!” Suara Nenek yang begitu ceria terdengar sampai ke ruang tamu. “Nenek manggil kamu tuh.” Kevin mengajak Tarzia ke dapur. Nenek tampak sedang mengaduk adonan dasar kue dengan spatula. “Tolong aduk-aduk ini dengan pengocok telur ya.” Nenek memberikan wadah kaca itu pada Tarzia. “Nek, Zia kan tamu di sini.” Dengan lembut Kevin menegur Neneknya. “Hari ini dia tamu, gak tau besok.” Nenek menggoda mereka. “Iya, gimana kalau Mbak nikah dan harus cuti?” Asisten rumah tangganya ikut angkat bicara. Tarzia yang ssdikit tersipu malu segera melakukan perintah Nenek. “Kevin, kamu potong-potong buahnya ya.” Tak lupa Nenek juga memberi tugas pada Kevin. Suasana di dapur terasa ramai dan menyenangkan. Kuepun telah matang dari oven. Asisten rumah tangga Kevin mengeluarkannya dari oven dan meletakkan di atas meja. “Kalau udah agak dingin, kita lepas dari cetakan dan tinggal dihias sesuai selera Den Kevin dan Mbak Tarzia.” Tuturnya. Kevin dan Tarzia saling berpandangan. “Sesuai keinginan kita?” Tanya mereka bersama-sama. “Kalau gini biasanya jodoh.” Kembali Nenek menggoda mereka. “Tapi kami kan 2 kepala dan 2 ide tentunya.” Kevin mencoba tidak terpancing oleh Neneknya. “Kalian harus berkolaborasi.” Tegas Nenek. Kembali Kevin dan Tarzia saling berpandangan satu sama lain.
“Kira-kira decornya gimana?” Tanya Tarzia. “Aku gak pernah bikin kue.” Keluh Kevin. Mereka berdua nampak berkompromi di dapur sedangkan Nenek dan Asisten rumah tangganya sedang mempersiapkan minuman di atas meja. “Kita kasih whipe cream trus buah-buahan aja gimana?” Usul Tarzia. “Oke.” Kevinpun setuju. Kevin mengambil whipe cream yang sudah tersedia di dalam kantong plastik kemudian mencoba membalurkan ke seluruh kue. “Bukan gitu, dikasih perlahan di atasnya.” Protes Tarzia. “Yaudah, kamu aja.” Kevin menjadi kesal. Tarzia mengambil whipe cream dari tangan Kevin kemudian memperagakan apa yang pernah dilihatnya dati Bibi Lorenza. Kevin terkesima untuk sesaat. “Boleh aku coba?” Tanyanya pada Tarzia. Tarzia memberikan kantong plastik berisi whipe cream pada Kevin. Bukannya menghias di atas kue bolu, Kevin malah mencoleknya ke hidung Tarzia yang mancung. “Kevin?!” Tarzia terkejut. Kevin malah menertawainya. “ Kalau warna merah pasti mirip badut.” Kevin melarikan diri dan Tarzia mengejarnya. Mereka malah bermain whipe cream sampai berceceran di lantai. “Kevin, Tarzia?!” Nenek kembali ke dapur dan memarahi mereka berdua. “Kuenya gimana?” Mereka tak dapat menjawab pertanyaan Nenek. Kue bolu di sajikan di atas meja dengan hiasan yang seadanya. Hampir saja Asisten rumah tangga di rumah Kevin tertawa terbahak-bahak, namun ditahannya di hadapan Nenek. “Sebagai permulaan, ini buruk. Tapi sebagai orang baru, kalian bagus juga.” Puji Nenek. “Yes!” Kevin terlihat senang begitupun Tarzia, keduanya saling tos di depan Nenek. Nenekpun merasa senang melihat mereka. Sejenak kegalauan di hati Tarzia sirna.
Ahmad kembali bertemu dengan Salsabila di rumah sakit. “Aku yakin pada akhirnya Tarzia akan jujur sama kamu tentang perasaannya ke kamu. Dan pada saat itu, kamu jangan nolak dia lagi.” Kembali Salsabila memberi nasehat pada Ahmad. “Makasih ya. Kamu udah bantu dan dukung aku.” Ucap Ahmad. Salsabilapun tersenyum. “Kita kan sahabat.” Ucapnya. Sesungguhnya jauh di lubuk hati Salsabila menaruh perasaan pada Ahmad sejak lama. “Kamu adalah sahabat terbaik aku.” Tetapi kalimat Ahmad sewaktu SMA telah mematahkan hati Salsabila. “Kamu dan Raisa pacaran?” Tanya Salsabila kala itu. “Iya, dia bilang kalau dia tau selama ini aku yang ngirimin dia bunga dan surat di laci mejanya.” Ahmad begitu bahagia saat menceritakannya pada Salsabila. “Selamat ya.” Salsabila berusaha tegar di hadapan Ahmad. “Aku masih mencintai kamu Ahmad, meskipun mungkin tidak sepenuhnya seperti dulu.” Perasaan itu terpaksa dikubur dalam-dalam.
Setelah menikmati kue yang lezat, Kevin mengajak Tarzia pergi. “Hati-hati ya.” Kata Nenek. Tarzia yang hendak pergi berbalik, mendekat untuk memeluk Nenek dan mencium pipi Nenek Kevin. “Makasih ya Nek.” Ucap Tarzia. Nenek merasa terharu oleh sikap manis Tarzia. Hati Kevin tersentuh karena Tarzia memperlakukan Neneknya begitu istimewa. Mereka pergi dengan sepeda motor Kevin. “Kamu bilang tempatnya istimewa, bukan peternakan kan?” Tarzia mulai penasaran. “Peternakan tempat yang bagus, tapi bukan itu.” Jawab Kevin. “Terus dimana?” Tanya Tarzia. “Tempat yang tenang.” Tetap saja jaswaban Kevin tak memuaskan hati Tarzia. Ternyata tempat yang dimaksud Kevin adalah di sebuah jembatan. “Ngapain kita ke sini?” Tanya Tarzia. Kevin berjalan dan berdiri di sisi jembatan. “Di sini kamu bisa teriak sekeras-kerasnya.” Tutur Kevin. Tarzia menjadi bingung. “Masalah itu jangan dipendam, lepasin aja.” Sambung Kevin. “Ayo teriak.” Perintah Kevin. Tarzia menggelengkan kepalanya. “Tarzia...!” Kevinpun memulai berteriak ke arah sungai, dia sama sekali tak peduli pada pengendara yang berlalu lalang di jalan. “Kevin.” Tarzia menegur Kevin. “Zia...!” Tapi Kevin tetap tidak peduli, dia malah terus berteriak dengan lantang. “Lega banget.” Kevin tertawa karena senang. Tarzia jadi ikut tertawa karenanya. “Kevin...!” Dia memberanikan diri untuk berteriak. “Apa?!” Kevin menanyainya lewat teriakan. “A...a...!” Tarzia kembali berteriak. “Aku, cinta, kamu...!” Kevin mengutarakan perasaannya lewat teriakan. Tarzia terdiam mendengarnya. “Iya Zia, aku jatuh cinta sama kamu.” Kemudian Kevin tak lagi berteriak dan menatap mata Tarzia. “Sejak kamu mengubah pandangan aku tentang cewek-cewek kaya.” Tarzia benar-benar bingung saat itu, haruskah dia membalas perasaan Kevin? Kenyataan bahwa dia sudah menikah sangat menyiksa batinnya. “Aku gak minta jawaban kamu dan aku gak minta kamu jadi milik aku. Aku Cuma mau mengatakan perasaanku aja.” Sepertinya Kevin tau kalau Tarzia dalam dilema. Tarzia benar-benar tersentuh dengan kalimat Kevin. “Aku juga jatuh cinta sama kamu.” Hingga dia memutuskan mengatakan perasaannya yang sebenarnya saat itu juga. Bak punggung kejatuhan bulan, Kevin tersenyum lepas, matanya berbinar-binar mendengar hal itu. “Kamu serius?” Tanya Kevin. Tarzia mengangguk. “Yuhu...!” Kevin kembali berteriak ke arah sungai. “Tapi ada 1 hal yang harus kamu tau Kevin.” Tarzia memegang pundak Kevin. “Apa?” Tanya Kevin. “Aku...” Tarzia sedikit ragu untuk mengungkapkan kebenaran tentang dirinya. “Kalau kamu mau bilang tentang kekurangan kamu, aku gak peduli, aku mencintai kamu dan bukan kelebihan dari kamu.” Kevin memegang kedua pundak Tarzia. “Ini tentang rahasia aku.” Tarzia hampir menangis. “Kalau itu adalah hal yang menyakitkan dan menyedihkan buat kamu, biarkan menjadi rahasia. Aku gak mau tau tentang masa lalu kamu.” Kevin memeluk Tarzia. “Aku harus gimana?” Tarzia merasa bersalah pada Kevin.
Selanjutnya Kevin menemani Tarzia menunggu taxi untuk pulang. “Bye.” Kevin melambaikan tangan pada Tarzia. Tarzia membalasnya dari jendela taxi. Kevin masih terus berdiri di jembatan dan melihat taxi yang dinaiki Tarzia benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Tarzia masih bersedih. “Aku harus jujur.” Kemudian Tarzia bertekad akan mengatakan yang sebenarnya pada Ahmad.
Malam itu, Ahmad baru pulang bekerja. Dia melihat Tarzia belum tidur di kamar. “Mas, kamu mandi dulu terus kita sholat berjamaah ya.” Tarzia membantu Ahmad melepas jasnya lalu mengambilkan handuk dan memberikannya pada Ahmad. Ahmad mengangguk. “Apakah sekarang Zia udah sadar tentang perasaannya?” Pikir Ahmad. Setelah selesai mandi, Ahmad melihat sarung dan peci di atas tempat tidur. Tarzia telah menyiapkannya. Sdtelah berganti pakaian, Ahmad memakai sarung dan peci lalu keluar dari kamar dan menuju ke ruang musholla di dalam rumahnya. Tarzia sudah mengenakan mukenah dan sedang menunggu Ahmad. Ahmad berdiri di depan dan menjadi imam sholat. Mereka beribadah dengan khusyu dan berdoa bersama. “Ya Allah, apakah ini pertanda baik untuk hubungan kami?” Ahmad begitu berharap. Tarzia meraih tangan Ahmad untuk bersalaman. “Kamu udah makan? Aku siapin ya?” Tanya Tarzia. Malam itunTarzia sangat perhatian padanya. Tarzia menemani Ahmad makan malam. Ternyata Tarzia juga belum makan. Ahmad mengira Tarzia sengaja menunggu dirinya pulang bekerja. Tarzia sendiri yang menghidangkan makanan dan membereskan piring kotor. “Biar besok aja diberesih Ijah.” Ujar Ahmad. “Gak papa Mas. Selama ini aku gak pernah ngelakuin kewajiban aku sebagai istri di rumah ini.” Jawab Tarzia. “Kamu tumben begini, Apa ada masalah?” Ahmad mulai khawatir. “Aku mau bicara sama kamu Mas, boleh?” Tanya Tarzia yang telah selesai mencuci piring di wastafel. “Tentu.” Jawab Ahmad.
Mereka bicara empat mata di teras atas lantai 2 rumah. Semilir angin begitu sejak disinari cahaya rembulan. Suasana terasa begitu romantis. “Aku jatuh cinta Mas.” Ditambah lagi Tarzia mengucapkan kata cinta. “Apakah Tarzia akan jujur sama perasaannya ke aku?” Tanya hati Ahmad. “Aku tau ini salah, gak seharusnya aku jatuh cinta sama orang lain padahal aku sudah menikah sama kamu.” Bak petir yang menyambar, kalimat Tarzia yang berikutnya itu membuat Ahmad terkejut. “Aku yang melibatkan kamu dalam pernikahan ini. Tapi aku yang mengingkari ikatan suci ini.” Tarzia masih terus bicara padahal Ahmad sangat terpukul mendengarnya. “Aku minta maaf Mas?” Tarzia menundukkan wajahnya di hadapan Ahmad. “Jadi Zia gak pernah mencintai aku?” Pikiran Ahmad berkecamuk. Kenangan ketika mereka pergi ke villa untuk bulan madu yang terkesan liburanpun seakan sirna. Ahmad harus menguatkan hatinya. “Apakah dia mencintai kamu?” Pertanyaannya membuat Tarzia terkejut. Tarzia menganggukkan kepala, dia tak berani menjawab langsung. “Apakah dia tau kalau kamu sudah menikah?” Tanya Ahmad lagi. “Dia gak peduli dengan masa lalu aku.” Jawab Tarzia. “Kamu yakin mencintai dia?” Sekali lagi Ahmad bertanya. Tarzia menghela nafas, air mata sudah menetes di pipinya. “Iya.” Jawab Tarzia. Ahmad begitu sakit hati, dia berdiri dan berkata. “Kalau kamu yakin dan kamu bahagia bersama dia, pergilah.” Tarzia mengangkat wajahnya dan melihat wajah Ahmad. “Lagipula pernikahan kita tidak resmi secara hukum Negara kan?” Lanjut Ahmad. Tarzia merasa semakin sedih mendengarnya. Begitupun dengan Ibu Tarzia yang rupanya sejak tadi menguping pembicaraan mereka. “Mulai malam ini, aku menjatuhkan talak. Aku menceraikan kamu.” Dengan berat hati Ahmad mengucapkan kata-kata pahit itu. Tarzia sangat terkejut dwngan keputusan Ahmad. “Sekarang kamu bebas.” Ahmad berbalik dan tak mau melihat wajah Tarzia. “Mas?” Tarzia hanya bisa menangis. “Maafin aku.” Ucap Tarzia. Rupanya Ahmadpun meneteskan air mata. “Pergilah.” Pinta Ahmad. “Aku benar-benar menyesal.” Sambil sesegukan, Tarzia beranjak dari sana dan menuju ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.