Hidup Mandiri

4991 Kata
Ahmad menumpahkan air matanya sendirian di teras. Ibu Tarzia menghampirinya. “Ibuk gak tau hukuman apa yang pantas untuk Tarzia. Permintaan maaf Ibuk juga gak ada artinya. Tapi kalau boleh jujur, lebih baik Ibuk tidak punya anak seperti Tarzia.” Kalimat dari mertuanya membuyarkan kesedihan Ahmad. Pria itu menghapus air matanya. “Ibuk belum tidur?” Ahmad berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Menangislah Nak. Menangis saja kalau itu bisa meringankan beban hati kamu.” Wanita itu begitu sedih melihat Ahmad. “Kalau boleh, Ibuk gak mau pergi dari sini. Ibuk gak mau meninggalkan anak Ibuk. Ibuk gak mau ninggalin kamu.” Ibu Tarzia memeluk Ahmad. “Ibuk.” Ahmad merasa lega dalam dekapan seorang Ibu, sudah lama dia merindukan kasih sayang orang tua. Berdua mereka menangis di sana. Tarzia sudah berkemas dan dia akan pergi dari rumah Ahmad malam itu juga. Tarzia melihat Ibunya di ruang tamu. Dia menuruni anak tangga untuk bertemu Ibunya sambil menghapus air matanya. Dia dapat melihat bahwa Ibunya sudah mengetahui permasalahannya dengan Ahmad. “Yang bersalah harus pergi dari rumah ini.” Sindir Ibunya. “Buk, Zia minta maaf...” Tarzia mencoba meraih tangan Ibunya tetapi malah ditepis. “Kamu gak salah, kamu hanya jatuh cinta. Ibuk yang salah karena tidak bisa mendidik kamu menjadi anak yang baik.” Gumam Ibunya. “Zia tau Buk, tapi Zia gak mau Mas Ahmad semakin terlukan jika kami memaksakan bersama.” Tarzia mencoba memberi alasan. “Pergi!” Sayangnya sang Ibu sudah terlanjur sakit hati. “Buk?” Dia tak akan peduli pada rengekan Tarzia lagi. “Keluar kamu!” Suaranya semakin tinggi sampai-sampai membangunkan Bibi Lorenza dan Ijah yang memang tinggal di sana. “Suara Nyonya.” Bibi Lorenza dan Ijah menuju ke ruang tamu. “Mbak Zia?” Ijah kaget melihat Tarzia membawa tas. “Ijah, tolong bawa barang-barang dia keluar dari rumah ini.”Perintah Ibu Tarzia. “Tapi Nyonya...” Ijah hendak membela Tarzia. “Gak perlu Buk, Tarzia akan pergi.” Tarzia memilih keluar sendiri dari rumah tersebut. “Mbak Zia?” Ijah nampak sedih. Tarzia tersenyum pada Ijah, bagaimanapun mereka selama ini sudah dekat seperti keluarga sendiri. Ijah menghampiri Tarzia lalu memeluknya. “Tolong jaga Ibuk ya?” Bisik Tarzia. Ijahpun mengangguk. “Sampaikan terimakasih saya sama Bibi Lorenza.” Pinta Tarzia. Ijah menghapus air matanya. “Mbak mau kemana?” Tanyanya. “Jaga diri kamu ya.” Tarzia tak menjawabnya. Dia segera keluar dari rumah. Security terkejut melihat Tarzia. “Setelah dia keluar, kunci gerbangnya!” Teriak Ibu Tarzia. Meski sedih karena kepergian Tarzia, security tak bisa berbuat apa-apa. Tarzia berdiri di depan gerbang rumah Ahmad dan memandang rumah itu untuk terakhir kalinya. Tarzia berjalan kaki menuju ke halte bis. Ahmad masih menyendiri di ruang kerjanya. “Semuanya gagal, semuanya sia-sia...” Ahmad merasa putus asa. Malam itu Salsabila tak dapat tidur. Dia bangun dan memeriksa kondisi putranya yang tertidur di kamar sebelah. Salsabila merasa lega karena anaknya tidur dengan nyenyak. “Tapi kenapa aku masih gelisah ya?” Setelah menutup pintu kamar anaknya, tetap saja Salsabila merasa khawatir akan sesuatu hal yang bahkan dia sendiri tak tau kenapa. Salsabila memandang foto keluarga kecilnya yang terpajang di ruang tamu. “Sayang, aku gak tau kenapa hati aku gelisah. Sudah lama sejak kamu pergi ninggalin aku dan Divo, aku gak pernah gelisah lagi. Aku bingung.” Salsabila bicara pada foto itu. Terlihat wajah mendiang suaminya begitu bahagia menggendong Divo (anak mereka yang masih bayi). Tarzia yang sendirian di halte bis memilih pulang ke kampung halamannya dan bukannya menemui Kevin. Keesokan harinya, Tarzia membuka pintu rumahnya. Dia seakan melihat sosok Ayahnya duduk di kursi sambil mencatat hasil panen padi di sawah. Kemudian Ibunya menghidangkan gorengan untuk Ayahnya. Almarhum Ayah Tarzia akan mempersilahkan tamu yang akan membeli padinya menikmati makanan dan teh yang telah dihidangkan. Tarzia kembali melangkah masuk dan seketika bayangan itupun hilang. Tarzia membuka pintu kamarnya yang tertata rapi. Sudah banyak sarang laba-laba di langit-langit kamarnya. Tarzia meletakkan tasnya di atas tempat tidur lalu membuka jendela kamar. Angin yang berhembus membuat debu di gorden jendela kamar Tarzia beterbangan. Tarziapun terbatuk-batuk. Tarzia menuju ke dapur untuk mengambil sapu dan dia mulai membersihkan rumah. “Dulu aku bahkan gak tau caranya nyapu.” Tarzia kembali teringat kenangan masa remajanya. Ibu sangat memanjakan Tarzia, semua pekerjaan rumah dikerjakannya sendiri. “Biar Zia bantu Buk?” Tanya Tarzia suatu kali. “Gak perlu, kamu belajar aja di kamar.” Tetapi Ibunya menolak bantuan Tarzia. Sebenarnya Ibu Tarzia juga merasa sedih. Dia bahkan mengurung diri di kamarnya. Ijah merasa khawatir. “Nyonya, sarapannya sudah siap.” Ijah mengetuk pintu kamar Ibu Tarzia. Bibi Lorenza menghampiri Ijah. “Belum dibuka juga?” Tanyanya. “Iya Bik. Ijah khawatir.” Jawab Ijah. “Nyonya, sarapannya mau dibawakan ke kamar?” Bibi Lorenza mencoba bertanya dari depan pintu. Ibu Tarzia membuka pintu. Matanya tampak sembam sehabis menangis. “Nanti saya ke sana Bik. Terimakasih.” Ucap Ibu Tarzia. “Tuan gak makan, Nyonya juga gak makan.” Ijah begitu bersedih dengan kedua majikannya itu. Mendengar nama Ahmad disebut, Ibu Tarzia bertanya. “Ahmad belum keluar dari kamarnya?” “Iya Nyonya.” Jawab Ijah. “Bik, tolong bawakan sarapan Tuan, saya akan mengantarnya ke kamar.” Perintah Ibu Tarzia. “Baik Nyonya.” Segera Bibi Lorenza dan Ijah pergi dari hadapannya. Hari itu Kevin begitu bersemangat pergi ke Kampus untuk menemui Tarzia. “Dia dimana?” Ternyata Tarzia tak ada di kelas. Kevin mencari Tarzia ke perpustakaan namun diapun tak ada di sana. Tarzia tak ada dimana-mana. Kevin merasa sedih dan hampir putus asa. “Kamu dimana Zia?” Kevin berdiri di depan kantor organisasi mahasiswa. “Pinky?” Kemudian dia teringat pada satu-satunya teman baik Tarzia. Ibunda Tarzia mengambil nampan berisi makanan dan segelas jus yang dibawakan Bibi Lorenza. Dia mengetuk pintu kamar Ahmad. “Boleh Ibuk masuk?” Tanyanya. Saat itu Ahmad sudah selesai berpakaian, sepertinya dia akan berangkat bekerja. Ahmad membukakan pintu. “Masuk Buk.” Ahmad mencoba tegar di hadap mantan Ibu mertuanya. “Kamu mau pergi ke kantor dengan perut kosong?” Ibu Tarzia duduk di atas temoat tidur. Ahmadpun ikut duduk di sampingnya. “Jangan buat Ibu merasa lebih bersalah lagi kalau melihat kamu sakit.” Wanita itu nampak sedih. “Buk, Ahmad gak papa.” Ahmad menggenggam tangan Ibu Tarzia. “Makanlah.” Ibu Tarzia hendak menyuapi Ahmad. Mata Ahmad langsung berkaca-kaca. Dia mau disuapi oleh Ibu Tarzia. “Makan dari tangan Ibuk memang jauh lebih nikmat.” Kata Ahmad. Giliran Ibu Tarzia yang terharu oleh pujian Ahmad. “Bolehkah Ahmad menganggap Ibuk sebagai Ibu Ahmad sendiri?” Tanya Pria tampan itu. Ibu Tarzia mengangguk. Ahmad tersenyum, dia menghapus air mata di pipi sang Ibu. “Ibu juga harus makan.” Ahmad menyuapinya. Diam-diam Bibi Lorenza mengintip. Dia merasa terharu. Tarzia sudah selesai menyapu rumah, mendadak perutnya keroncongan dan dia mulai merasa lapar. “Di rumah gak ada bahan-bahan makanan. Aku harus belanja sekarang.” Tarzia mengambil uang di dalam dompetnya. “Bahkan ini uang kamu Mas.” Tarzia teringat pada Ahmad yang selalu memberikannya uang setiap hari sebelum dia berangkat ke Kampus. “Kalau kurang, bilang aja ya.” Kata Ahmad. “Makasih ya Mas. Ini cukup kok.” Ucap Tarzia. Dengan uang itulah Tarzia menuju ke pasar tradisional untuk berbelanja. “Zia, kamu udah pulang?” Seorang wanita paruh baya menghampirinya. “Iya Buk.” Jawab Tarzia. “Ibuk dan suami kamu pulang juga gak?” Tanya wanita itu lagi. Tarzia terdiam sejenak. “Mereka baik-baik aja kan?” Cemas wanita itu. “Kamu sudah pisah Buk.” Tarzia memilih jujur. “Maaf ya?” Wanita itupun merasa bersalah. “Dulu Ibu sering beli padi di tempat kami kan?” Tarzia mengingat wajah wanita itu. “Iya, padi dan beras kualitas di sawah Ayah kamu bagus. Sayang sekali sudah dijual dan sekarang malah dijual mahal.” Wanita itu sedikit kecewa. “Buk, saya butuh pekerjaan, apa saja. Tolong bantu saya.” Pinta Tarzia. “Kamu serius?” Wanita itu terheran-heran. “Iya Buk.” Tarzia meyakinkannya. “Yaudah, kamu ikut saya sekarang.” Wanita itu mengajak Tarzia bersamanya. Kevin berlari kembali ke kelas untuk menemui Pinky. “Kamu lihat Zia gak?” Tanyanya. “Gak tuh. Coba telpon.” Usul Pinky. “Iya. Aku lupa.” Kevin mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Tarzia. “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Tetapi nomor Tarzia tak dapat dihubungi. “Coba lagi.” Kata Pinky. Kembali Kevin mencoba dan tetap saja hasilnya sama. “Kamu dimana Zia?” Kevin semakin khawatir. “Aku gak tau rumahnya lagi.” Pinky merasa kesal pada dirinya sendiri. “Informasi Kampus.” Ujar Kevin. “Iya, ayo kita ke sana.” Bersama-sama mereka menuju ke bagian pusat informasi mahasiswa. Ahmad dan Ibuk sudah selesai sarapan bersama. Ibuk memakaikan jas pada Ahmad. “Ahmad berangkat dulu ya Buk.” Ahmad mencium tangan Ibuk sebelum pergi bekerja. “Hati-hati.”Pesan Ibuk. Ahmad lalu pergi. Keduanya tak lagi menunjukkan raut kesedihan. Wanita di pasar mengajak Tarzia ke kebun sayuran dan buah miliknya. “Setiap hari tomat-tomat dan cabe dipanen di sini untuk dijual ke pasar. Kamu cuma perlu petik aja tomat yang udah matang.” Ternyata itulah pekerjaan yang akan diberikan pada Tarzia. “Bisa kan?” Tanyanya. “Bisa Buk. Makasih ya.” Ucap Tarzia. Sebagai ketua Organisasi Mahasiswa di Kampus, Kevin diperbolehkan melihat buku data mahasiswa. Kevin yang dibantu oleh Pinky mencari nama Tarzia dengan teliti. “Ketemu.” Pinky memberitahukan pada Kevin. Kevin segera mengambil buku catatan dan pena untuk mencatat alamat Tarzia. Di alamat tersebut tertulis alamat rumah Ahmad. “Ini kan rumah Pak Ahmad Tanzu.” Ternyata Kevin mengetahui alamat tersebut. “Pak Ahmad Tanzu yang jadi pemateri seminar itu?” Tanya Pinky. Kevin mengangguk. “Wah... Berarti suaminya Tarzia...” Pinky hanya bisa bicara di dalam hati. “Tapi setau aku Pak Ahmad anak tunggal. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Apakah Tarzia saudaranya?” Pikir Kevin. Ahmad mengemudikan mobil dan menuju ke rumah sakit. Dia akan menemui Salsabila. Kebetulan saat itu sedang tak ada pasien di ruangannya. “Ahmad?” Salsabila begitu antusias menyambut kedatangan sahabatnya. “Gimana hasilnya?” Tanya Salsabila. “Semuanya sia-sia.” Ahmad nampak sedih. “Maksud kamu?” Salsabila menjadi penasaran. “Dia mencintai orang lain.” Cerita Ahmad membuat Salsabila seakan merasakan apa yang dulu pernah dia alami. Spontan Salsabila memeluk Ahmad. “Aku membebaskan dia Salsa, aku membiarkan dia pergi.” Ahmad larut dalam kesedihannya. “Gak ada orang yang paling mengerti kamu saat ini kecuali aku.” Gumam hati Salsabila. Dengan perut kosong, Tarzia memulai pekerjaannya hari itu di kebun. Dia bekerja dengan baik, banyak tomat-tomat yang sudah dia petik, tetapi matahari yang terik membuat kepalanya terasa sakit dan akhirnya Tarzia malah pingsan. Tomat-tomat di dalam keranjangpun bertumpahan. Para petani yang lain segera menolong Tarzia dan membawa Tarzia ke pondok yang ada di dekat kebun. Tarzia diberi minum air teh dan dihirupkan aroma minyak kayu putih. Tarzia lalu tersadar. “Gimana sih, baru kerja udah bikin saya rugi.” Wanita pemilik kebun memarahinya. “Maaf Buk, saya belum sarapan, makanya saya pusing.” Tarzia membela diri. “Saya minta maaf, lain kali gak akan terulang lagi.” Ucap Tarzia. “Yasudah, kali ini saya maklumi, tapi lain kali saya gak akan toleransi.” Kata Wanita itu. Salsabila menyuguhkan secangkir teh pada Ahmad. “Ini teh camomile, kamu pasti akan merasa lebih tenang.” Kata Salsabila. Ahmad meneguk teh itu. “Keputusan yang kamu ambil sudah tepat. Kalian gak bisa terus bersama kalau gak saling mencintai. Kalian hanya akan menyakiti satu sama lain.” Salsabila berusaha menguatkan hati Ahmad. “Mulai sekarang aku gak mau salah langkah lagi.” Tekad Ahmad. Kevin telah sampai di depan rumah Ahmad. Dia lalu bertanya kepada security. “Apa benar ini rumahnya Pak Ahamd Tanzu?” “Betul, Mas siapa?” Security di rumah Ahmad balik bertanya. “Saya wartawan. Saya mau bertemu Pak Ahmad.” Jawab Kevin. “Oh... Mau masuk koran ya Mas? Kalau itu, mari masuk.” Security itu mempersilahkan Kevin masuk ke pekarangan rumah Ahmad. “Makasih Mas. Mas udah lama kerja di sini?” Tanya Kevin pada security. “Biar asik, ngobrolnya di gazebo aja yuk.” Mungkin jiwa narsis si security sudah muncul saat itu. “Mari.” Dia mengajak Kevin duduk di gazebo. “Pak Ahmad udah pergi kerja. Pulangnya sore atau gak malam.” Jelas security. “Saya wawancara Mas aja, boleh?” Kevin memulai aksinya. “Jelas boleh.” Tak lupa security itu merapikan kerah seragamnya. “Pak Ahmad Tanzu udah nikah ya Mas?” Pertanyaan Kevin langsung menuju ke inti. “Iya, baru 6 bulan atau gak 7 bulan gitu Mas.” Jawab Security. “Istrinya pasti pengusaha juga ya.” Tebak Kevin. “Bukan, istrinya baru aja masuk kuliah. Kayaknya sebaya Mas deh. Beda umur mereka itu 10 tahun.” Cerita Security Ahmad mengarah pada Tarzia. “Boleh saya ketemu Istrinya?” Tanya Kevin. “Waduh... Gak bisa Mas, Nona gak ada di rumah.” Security mulai panik. “Mas bohong ya? Saya kenal betul Pak Ahmad. Beliau orangnya gak terlalu mementingkan status pernikahan.” Kevin memancing Security itu untuk bercerita lebih detil. “Jangan sembarang ya. Saya kerja di sini udah 5 tahun. Pak Ahmad nikahnya dadakan. Tiba-tiba dia pulang bawa istrinya. Saya juga gak tau asal-usul Nona.” Akhirnya Security itu masuk dalam jebakan Kevin. “Pasti nikahnya terpaksa.” Gumam Kevin. “Bisa dibilang begitu, soalnya mereka gak romantis kayak pengantin baru pada umumnya. Tuan sibuk kerja, Nona sibuk kuliah.” Kata Security Ahmad. “Emangnya Nona kamu aslinya darimana?” Tanya Kevin. “Saya kurang tau Mas, kayaknya jauh deh.” Jawab Security. “Makasih ya Mas. Saya mau ketemu Pak Ahmad dulu di kantornya.” Kevin berpamitan pada Security Ahmad. “Wawancaranya udah selesai Mas?” Security Ahmad nampak kecewa. “Aku harus cari kamu kemana Zia?” Meski masih mengemudi sepeda motor, Kevin masih terus memikirkan Tarzia. Ahmad merasa jauh lebih baik setelah bertemu Salsabila. “Aku pergi dulu ya.” Dia berpamitan pada Salsabila. “Kapanpun kamu butuh temen cerita, ingat, aku selalu ada buat kamu.” Kata Salsabila. “Aku tau.”Jawab Ahmad sambil tersenyum. “Oh ya, mau temenin aku jemput Divo nanti siang?” Tanya Salsabila. “Kalau kamu sibuk, biar aku yang jemput.” Ahmad nampak tak keberatan sama sekali. Salsabila merasa senang mendengarnya. Sepulang sekolah, anak laki-laki tampan yang berumur 5 tahun itu menunggu Ahmad di depan sekolahnya. Ahmad turun dari mobil lalu menyapanya. “Halo.” “Om Ahmad?” Divo sangat senang dijemput oleh Ahmad. “Om kemana aja, kenapa jarang ke rumah?” Tanya anak itu. “Om lagi banyak kerjaan.” Jawab Ahmad. “Sekarang kerjaannya udah selesai belum? Mau Divo bantuin? Mama juga sering bantuin Divo ngerjain PR.” Divo memang anak yang cerdas, dia selalu punya banyak bahan pembicaraan sehingga Ahmad merasa terhibur. “Mama kamu memang luar biasa.” Pujinya. “Mama yang terbaik.” Divo juga setuju. Mereka saling tos. “Ayo kita pulang.” Ajak Ahmad. 1 Minggu kemudian, tour konser keliling pulang Jawa oleh Davinci Band telah usai dengan meriah. Mereka diundang ke acara talkshow di salah satu stasiun TV swasta. “Apa yang mau kalian sampaikan kepada penggemar kalian?” Tanya Presenter. “Terimakasih atas dukungan kalian. Terimakasih selalu memeriahkan konser kami. Kami gak bisa membalas kebaikan kalian, tapi kami berjanji akan mempersembahkan yang terbaik di setiap penampilan dan karya kami untuk kalian.” Joshua mewakili bandnya menyampaikan pesan tersebut. Pinky bahkan turut hadir sebagai penonton di acara tersebut. Sesekali Chiko mencuri pandang padanya. “We love you.” Kemudian seluruh personel Davinci band kompak mengucapkan kalimat itu. Semua penonton memberi tepuk tangan meriah tak terkecuali Pinky. Chiko memberikan ciuman jarak jauh pada Pinky. Gadis itu begitu terlena dibuatnya. “Oh ya, melalui acara ini juga, saya mau melamar Pacar saya, dia adalah orang yang menemani saya sejak sebelaum terkenal sampai sekarang ini.” Tiba-tiba Joshua mengatakan hal itu pada Presenter. “Wah, luar biasa. Malam ini kita semua yang berada di studio dan anda yang berada di rumah sangat beruntung karena vokalis kita, Joe akan melamar kekasihnya. Siapakah wanita beruntung itu?” Seketika semua penonton di studio terkejut dan saling bertanya siapakah gerangan orang yang akan dilamar oleh Joshua. Ibu Tarzia yang baru saja menyalakan TV tak sengaja melihat tayangan itu. “Jojo? Dia jadi artis sekarang?” Wanita itu sangat terkejut. “Siapa pacar yang mau dilamar? Jangan-jangan...” Ibuk mulai cemas. Apalagi saat Joshua turun dari panggung dan menjemput seorang wanita yang berdiri di belakang cameraman. Untung saja wanita itu adalah Patricia, Ibukpun dapat bernafas lega. Joshua mengajak Patricia ke atas panggung. “Cantik banget pacarnya.” Puji beberapa penonton. “Dia model di majalah itu.” Bahkan adapula yang mengenali Patricia. “Patricia, will you marry me?” Joshua mengambil serangkai bunga mawar yang ternyata disembunyikan di balik tempat duduk mereka sejak tadi. Patricia sangat bahagia hari itu. “Iya.” Segera saja dia menerima lamaran Joshua. Seluruh penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai karena turut merasakan kebahagiaan itu. Kevin masih bersedih karena tidak mengetahui keberadaan Tarzia. “Pinky kemana sih?” Dia mencari Pinky di kelas. Kevin tak tau kalau saat itu Pinky sedang makan siang bersama Chiko di sebuah restoran mewah. “Aku juga mau ngelamar kamu.” Bahkan Chiko juga berniat melamar kekasihnya itu. Uniknya, Chiko melamar Pinky bukan dengan bunga atau cincin, melainkan dengan ikan bakar. “Kalau kamu nerima lamaran aku, kamu makan daging ikannya, kalau kamu nolak aku, kamu makan tulang ikannya.” Bahkan kalimatnya saja terdengar tidak romantis. “Itu maksa...” Protes Pinky. “Jawab aja.” Pinta Chiko. “Aku terima.” Jawab Pinky sambil mengambil ikan bakar lezat itu. “Enak kan?” Tanya Chiko sambil tersenyum. “Enak.” Jawab Pinky. Mereka terlihat begitu bahagia. Tarzia juga sudah mulai bahagia bisa bekerja di kebun. “Kerjaan kamu bagus juga.” Puji majikannya. “Makasih Buk.” Ucap Tarzia. “Oh ya, kamu tau Joshua anak kampung kita dulu?” Tanya wanita itu. Tarzia sedikit tak nyaman jika nama mantan pacarnya itu disebut lagi. “Iya, kenapa Buk?” Tarzia balik bertanya. “Dia udah jadi penyanyi terkenal sekarang. Dia pernah konser di alun-alun Kota.” Wanita itu begitu bersemangat saat menceritakan tentang Joshua. Tarzia hanya tersenyum dan tak menanggapinya lagi. “Aku turut senang atas keberhasilan kamu Jojo.” Meskipun hatinya turut berbangga hati. Ahmad juga sedang merasa bangga pada anak sahabatnya yang bernama Divo. Mereka sedang mempersiapkan hiasan dekorasi kue ulang tahun yang ke-31 tahun untuk Salsabila. Saat Salsabila tiba di rumah, Ahmad meniupkan terompet. “Kejutan...” Ucapnya. “Ahmad, Divo?” Salsabila terkejut dibuatnya. Dia melihat hiasan di dinding rumah. “Selamat Ulang Tahun Mama terbaik di Dunia.” Salsabila terharu saat membacanya. “Makasih sayang.” Salsabila memeluk Divo. “Sekarang kejutan kedua.” Ahmad memberi kode pada Divo. “Mama pejamkan mata dulu.” Perintah Divo. “Oke.” Salsabilapun menurutinya. Ahmad mengambil kue tart yang dibuatnya tadi lalu meletakkan di atas meja dan menyalakan lilin. “Sekarang boleh dibuka.” Pinta Divo. Salsabila kembali dibuat terkejut oleh mereka. “Selamat ulang tahun Salsabila.” Ucap Ahmad. Salsabila menatap wajah Ahmad yang penuh ketulusan. “Makasih ya.” Ucapnya. “Tiup lilinnya.” Divo membuyarkan lamunan Salsabila dan Ahmad. Salsabila segera meniupkan lilin. Divo memberi tepuk tangan untuk Mamanya. “Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga.” Bersama-sama Ahmad dan Divo menyanyikan lagu itu. Salsabila ikut bertepuk tangan kepada dirinya sendiri. Dia lalu memotong kue menjadi beberapa bagian. “Potongan pertama buat anak Mama yang ganteng dan pintar.” Salsabila menyuapi Divo. “Selanjutnya buat sahabat terbaikku.” Salsabila menyuapi Ahmad. Keduanya kembali saling bertatapan. “Kenapa Mama sama Om Cuma sahabatan sih? Kenapa Om Ahmad gak bisa jadi Papa aku?” Pertanyaan Divo membuat kedua orang dewasa itu salah tingkah. “Ayo kita makan-makan.” Ahmad mencoba mengalihkan perhatian Divo dengan beranjak ke dapur dan mengambilkan pizza yang dibelinya tadi. Keluarga Joshua menyambut kepulangan putra dan calon menantunya, Patricia dengan penuh suka cita di rumah mereka. “Selamat ya Mas, Mbak.” Kedua adik Joshua menyalami mereka. “Ibuk bahagia... banget.” Sang Ibu memeluk mereka berdua. “Ayo masuk, kami sudah siapkan acara makan-makan.” Ajak Ayah Joshua. Patricia terlihat bahagia hari itu. Mereka masuk ke dalam rumah dan menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh keluarga Joshua. Kevin yang masih terus berusaha mencari keberadaan Tarzia meminta tolong pada Pinky untuk menelpon ke rumah Ahmad. Mendengar suara telepon berdering, Ibuk mengangkat telepon. “Halo, kediaman Ahmad Tanzu di sini.” “Selamat siang Ibuk, bisa bicara dengan Tarzia?” Pinky merubah suaranya menjadi lebih dewasa. Mendengar nama Tarzia disebut, Ibuk menjadi emosional. “Dia sudah tidak tinggal di sini lagi.” Jawabnya dengan nada ketus. Pinky sampai terkejut mendengarnya. Kevin menunjukkan daftar pertanyaan yang ditulisnya pada Pinky. “Kami dari pihak Kampus ingin menanyakan kabarnya karena sudah 1 minggu lebih dia tidak masuk kuliah.” Sebelum sempat menutup telepon, Pinky segera menanyai hal itu. “Apa, Tarzia gak kuliah?” Ibukpun terkejut. “Benar Ibuk, apalagi Tarzia juga mengikuti berbagai kegiatan di Kampus, kami khawatir.” Lanjut Pinky. Ibuk mulai merasa gelisah. “Kemana kamu?” Tanya hatinya. “Tolong kabari kami Buk.” Bujuk Pinky. “Sebenarnya ada sedikit masalah di rumah. Mungkin dia sedang menenangkan diri di kampung halamannya. Cuma itu satu-satunya tempat tujuan dia.” Ibukpun mulai luluh. “Boleh kami tau alamatnya atau nomor telepon yang dapat dihubungi?” Tanya Pinky. Ibuk memberi tahukan alamatnya pada Pinky, tak lupa Kevin mencatatnya. “Terimakasih atas bantuannya Buk.” Ucap Pinky. “Semoga kamu baik-baik aja Zia.” Bagaimanapun seorang Ibu pasti mengkhawatirkan anaknya. “Makasih ya.” Ucap Kevin pada Pinky. “Iya. Pokoknya kamu harus bawa sahabat aku kembali ke sini.” Ujar Pinky. Berbekal alamat di tangannya, Kevin pergi ke kampung halaman Tarzia dengan sepeda motor. Jarak yang jauh dan cuaca yang panas terik tak menjadi penghalang baginya. Kevin berhasil tiba di sana dan bertanya pada beberapa orang dimana rumah Tarzia. “Rumahnya yang paling besar di Kampung ini. Lurus aja Mas.” Jawab salah seorang petani yang sedang menanam padi di sawah. Setelah sampai di depan rumah Tarzia. Kevin tak sabar ingin segera menemui gadis pujaannya itu. Kevin mengetuk pintu rumah Tarzia. “Sebentar.” Kebetulan saat itu Tarzia ada di rumahnya, dia sedang memasak di dapur. Tarzia mematikan kompor lalu pergi ke depan untuk membukakan pintu. “Siapa?” Tanyanya. Kevin berdiri di hadapannya dengan tatapan nanar. “Kevin?!” Tarzia merasa takut. “Kamu bilang mencintai aku tapi kamu pergi ninggalin aku?” Kevin memarahi Tarzia. “Kamu gak tau rahasia aku Kevin. Aku tuh gak pantas dicintai oleh siapapun.” Kata Tarzia. “Aku udah bilang, aku gak peduli sama rahasia kamu dan masa lalu kamu. Apakah kamu pernah menikah atau apapun itu.” Tutur Kevin. Mata Tarzia terbelalak. “Darimana Kevin tau?” Pikirnya. “Kamu gak perlu mikirin hal itu sekarang. Aku datang mau jemput kamu balik ke Kampus, selesaikan studi kamu, raih mimpi-mimpi kamu.” Kevin memegang kedua pundak Tarzia. Tarzia melepaskan tangan Kevin lalu masuk ke dalam rumahnya. Kevin menyusulnya masuk ke sana. “Bahkan untuk itupun aku mengharapkan belas kasihan orang lain.” Tarzia berbalik badan dan tak berani menghadap ke arah Kevin. “Kalau gitu kamu harus balik demi aku.” Gumam Kevin. “Aku mau menikah sama kamu Zia. Kita raih mimpi bersama.” Kevin menarik lengan Tarzia dan memegang wajah Tarzia. “Aku mohon Zia.” Kevin memelas di hadapannya. “Aku gak bisa hidup tanpa kamu.” Bahkan Kevin menitikan air mata. Tarziapun menangis. “Aku juga gak bisa hidup tanpa kamu.” Dia memeluk Kevin dengan erat. Joshua dan Patricia tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka yang akan digelar secara meriah di hotel bintang 5 milik Ahmad. Manager hotel menunjukkan aula gedung yang begitu luas, dimana dulu Joshua menyanyi di hadapan Tarzia dan Ahmad kala resepsi pernikahan mereka yang mewah. Joshua tersenyum jika mengingatnya. “Dulu aku cuma badut di acara pernikahan orang yang aku cintai.” Kemudian dia berkata pada manager hotel. “Tolong keamanannya diperketat ya Mas. Hanya tamu yang memiliki undangan yang boleh masuk.” “Baik Mas.” Jawab Manager hotel. “Oh ya, tolong titipkan undangan pernikahan kami pada Pak Ahmad.” Joshua memberikan undangan itu pada Manager hotel. Patricia merasa kagum dibuatnya. “Kamu kenal pemilik hotel ini?” Ahmad baru saja selesai menggelar rapat. Saat dia keluar dari ruang rapat, manager hotel memberikan undangan tersebut padanya. “Ada undangan untuk Bapak dari Joe, vokalis Davinci band yang akan menggelar pernikahan di hotel kita.” Ahmad mengambil undangan itu. “Makasih.” Ucapnya. “Permisi Pak.” Manager langsung pergi dari sana. Ahmad membaca nama yang tertera di undangan tersebut. “Bapak Ahmad Tanzu dan Ibu Ahmad Tanzu.” Ahmad nampak terdiam untuk sesaat. “Sayangnya kami udah berpisah.” Ahmad mencoba untuk tersenyum. Senyum merekah terpancar dari wajah Pinky saat melihat Tarzia datang ke Kampus bersama Kevin. “Tarzia!” Dia segera berlari dan memeluknya dengan erat. Keduanya saling melepas rindu. “Kenapa gak kabur ke rumah aku aja sih?” Pinky memarahi Tarzia. Tarziapun tersipu malu. “Sekarang aku tinggal di rumah Kevin.” Jawab Tarzia. “Kami sudah mengajukan berkas ke KUA.” Tambah Kevin. “Serius? Aku ikut senang.” Pinky kembali memeluk Tarzia. “Bentar lagi aku sama Chiko juga bakal nikah. Berarti anak-anak kita bakal seumuran dan jadi sahabat juga.” Pinky mulai berkhayal lagi. Ketiganya hanya bisa tertawa. Tidak lama lagi acara pernikahan Joshua dan Patricia akan digelar. Ahmad kembali melihat undangan yang diterimanya. Dia lalu menelpon Salsabila yang sedang menangani pasien di ruang kerjanya. “Ahmad, tumben kamu nelpon? Biasanya kalau ada masalah kamu langsung ke rumah sakit.” Ujar Salsabila. Ahmad tersenyum mendengarnya kalimat yang dianggap lucu itu. “Ini bukan masalah besar tapi akan menjadi besar kalau kamu menolak membantu.” Kata Ahmad. “Serius?” Salsabila merasa cemas. “Temani aku ke pesta pernikahannya Joe dan Patricia.” Ahmad menyampaikannya. “Aku? Tapi...” Salsabila hendak menolaknya. “Gak ada tapi. Nanti malam aku jemput kamu, oke?” Ahmad langsung menutup telepon tanpa mendengarkan alasan Salsabila terlebih dulu. “Divo gimana?” Rupanya Ahmad sudah memikirkan tentang hal itu. “Buk, Ahmad diundang ke pernikahannya Jojo. Ahmad mau pergi dengan sahabat lama Ahmad. Boleh?” Dia meminta izin pada Ibuk. “Tentu aja boleh. Dia pasti wanita yang sangat hebat dan baik.” Tebak Ibuk. “Dia yang membantu Ahmad selama ini agar tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.” Terang Ahmad. “Seorang wanita yang begitu special, kenapa tidak perkenalkan dengan Ibuk?” Tanyanya. “Dia seorang janda dengan satu anak. Suaminya meninggal dunia karena penyakit kanker.” Jawaban Ahmad membuat Ibuk merasa bersalah. “Pasti sangat sulit bagi dia hidup sendirian.” Bagaimanapun wanita itupun pernah merasakannya. “Ahmad mau mengajak dia pergi tapi bagaimana dengan anaknya.” Ahmad terlihat bimbang. “Ada Ibuk kan, ajak dia ke sini.” Ternyata Ibuk menyambutnya dengan baik. Malam itu Ahmad menjemput Salsabila di rumahnya. Salsabila tampak begitu cantik dengan gaun panjang yang dikenakannya, Divo juga terlihat imut dengan kemeja yang dipakaikan oleh Ibunya. “Kamu yakin gak masalah bagi Ibuk untuk jagain Divo?” Ahmad sudah memberitahukan pada Salsabila perihal ide itu. “Ibuk sendiri yang minta.” Jawab Ahmad. “Divo pernah nanya ke Om, kapan diajak ke rumah Om kan? Malam ini Om ajak Divo ke rumah Om dan ketemu Ibuk Om, panggil dia Oma. Oke?” Tutur Ahmad. “Wah... Divo seneng banget Om. Ayo kita berangkat.” Divo segera masuk ke dalam mobil Ahmad. “Kamu lihat sendiri kan, Divo juga senang.” Kata Ahmad. Salsabilapun merasa sedikit lega. Sebelum pergi ke hotel, merekmenuju ke rumah Ahmad terlebih dahulu. “Rumah Om besar banget kayak istana.” Puji Divo. Ibuk sudah menunggu mereka di ruang tamu. “Kamu pasti Divo kan?” Dia menyapa anak laki-laki itu dengan ramah. “Iya Oma, salam kenal.” Divo meraih dan mencium tangan Ibuk. Seketika hati wanita itupun luluh lantah. “Kamu pinter sekali.” Pujinya. “Malam Tante.” Salsabila menyapa Ibuk. Ibuk tersenyum lalu memeluk Salsabila. “Terimakasih.” Ucapnya. Salsabila bingung kenapa Ibuk mengucapkan hal itu. “Harusnya saya yang terimakasih karena Tante mau menjaga Divo.” Gumamnya. “Ini gak seberapa dibandingkan perhatian dan kebaikan kamu sama Ahmad.” Itulah alasan Ibuk sangat terharu bisa bertemu dengan Salsabila. “Oma cantik jangan nangis.” Divo meraih tangan Ibuk dan memberikannya sapu tangan untuk menghapus air mata di pipinya. Ibuk langsung memeluk Divo. Salsabila melihat ke arah Ahmad, Ahmadpun menoleh padanya sambil tersenyum. Acara pesta pernikahan Joshua dan Patricia begitu meriah, banyak wartawan yang datang untuk mengabadikan momen bahagia itu. Kedua orang tua Joshua duduk dengan wajah penuh senyum merekah di sisi pelaminan, begitupun dengan Ibunda Patricia yang hanya duduk sendirian di sana. “Kalau saja Ayah kamu masih hidup.” Bisiknya pada Patricia. Patricia memeluk Ibunya. Mereka menangis bahagia. Joshua memeluk kedua wanita itu. “Sekarang ada Joe yang akan selalu jagain Mama dan Patricia.” Ucapnya. Lalu Ahmad dan Salsabila masuk ke aula tersebut. Ahmad mengulurkan tangannya dan Salsabila menyambutnya. Mereka bergandengan tangan masuk ke sana. Kini fokus camera wartawan beralih padanya. “Pemilik hotel ini, Pak Ahmad Tanzu turut hadir bersama seorang wanita. Siapakah wanita tersebut? Seperti kita ketahui, Pak Ahmad Tanzu pernah dikabarkan telah menikah sirih dengan seorang wanita. Apakah dialah wanita itu?” Bahkan salah satu reporter langsung melaporkan berita itu secara live. Saat itu Nenek Kevin sedang menonton berita di televisi bersama asisten rumah tangganya. “Orang kaya mah bebas mau gonta-ganti pasangan.” Asisten rumah tangga memberi komentar. Saat itu Kevin turun dari tangga dan melihat berita itu di TV, di saat yang bersamaan, Tarzia akan membawakan cemilan ke ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN