Perjuangan

3954 Kata
Kevin segera berlari lalu mengambil remote TV di atas meja yang berada di hadapan Neneknya. “Sinetron favorit Nenek udah tayang kan?” Kevin mengambil chanel lain. “Malam ini sinetronnya tidak tayang karena ada berita pernikahan penyanyi baru itu, siapa namanya tadi?” Nenek bertanya pada asisten rumah tangganya. Tarzia sudah tiba di sana. “Ini kuenya Nek, Zia bikin sendiri loh.” Gumamnya. “Davin...” Baru saja Asisten rumah tangga hendak menjawab, Kevin memotong pembicaraannya. “Kue terenak yang pernah aku makan.” Kevin mengambil piring itu dari tangan Tarzia. “Kamu kan belum cobain.” Ujar Tarzia. “Pasti enak, dari aromanya dan bentuknya.” Kevin segera memakan kue tersebut. “Kalau gitu, mari makan.” Nenekpun ikut makan kue tersebut. Kevin merasa lega karena Tarzia tidak melihat Ahmad di televisi. Tak hanya Ahmad dan Salsabila yang masuk berita, Chiko, salah satu anggota Davinci Band juga menjadi perbincangan karena menghadiri undangan pernikahan Joshua dan Patricia dengan kekasihnya, Pinky. “Kapan rencananya kalian akan menikah?” Tanya salah satu wartawan. “Secepatnya, karena saat ini Pinky sedang menyelesaikan kuliahnya dulu.” Jawab Chiko. Ibuk dan Divo sedang bermain petak umpet bersama Ijah di rumah Ahmad. “Sekarang Mbak Ijah yang jaga.” Divo kembali menemukan Ijah dan dia yang jadi pemenangnya. “Kamu curang ya? Pasti tadi ngintip kan?” Ijah merasa kesal. “Makanya kalau ngumpet jangan di tempat yang terbuka.” Kata Divo. “Awas aja kali ini kamu yang jaga.” Ijah terpaksa harus berjaga. “Ijah, ini kan cuma permainan.” Ibuk tertawa melihat tingkah Ijah yang seperti anak kecil saja. “Yaudah, kali ini biar Oma yang jaga.” Sehingga Ibuk memutuskan untuk mengalah. “Jangan Nyonya...” Ijah merasa tak enak hati. “Gak papa.” Ibuk tersenyum padanya. “Jangan sampai gak jadi maksudnya... He, he.” Ijah malah bercanda sehingga Divo tertawa dan Ibuk yang merasa konyol. Ahmad dan Salsabila menikmati hidangan yang disediakan pada acara tersebut. “Wartawan mulai gosipin kita.” Bisik Salsabila. Ahmad malah tersenyum dan mengabaikannya. “Kok kamu sesantai ini sih?” Keluh Salsabila. “Nanti kamu bakal tau jawabannya.” Hanya itu saja yang diucapkan Ahmad. Para tamu undangan yang lain satu-persatu mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang terlihat serasi dalam balutan baju pengantin adat Jawa. “Dimana mereka?” Joshua mulai mencari-cari keberadaan Ahmad dan Tarzia. Lalu dia melihat Salsabila sedang berbisik pada Ahmad. “Jadi mereka datang juga?” Joshua mengira itu adalah Tarzia, karena wajah Salsabila tak terlalu jelas kelihatan dikarenakan ada seseorang yang duduk di hadapannya. “Aku mau ucapkan selamat dulu ya.” Ahmad meninggalkan Salsabila di sana. Ahmad naik ke pelaminan dan bersalaman dengan Joshua. “Selamat ya.” Ucapnya. “Istri anda tidak ikut?” Tanya Joshua. Ahmad menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Jadi kamu masih mencintai aku sampai-sampai kamu gak berani ketemu aku?” Pikir Joshua. Ahmad lalu bersalaman dengan Patricia. “Selamat ya.” Ucapnya. “Terimakasih Pak.” Balas Patricia. Setelah itu Ahmad menjumpai Salsabila kembali yang sedang menunggunya di mobil. “Kalau aku ngajak kamu nemuin Joshua, dia akan tau kalau aku dan Tarzia sudah tidak bersama lagi, dan dia akan gamang. Dia pasti akan menyesal sudah menikah.” Ahmad memberi penjelasan pada Salsabila. “Aku tau.” Salsabila menatapnya dengan penuh kekaguman. “Kita jemput Divo sekarang, pasti Ibuk sudah lelah menemani dia bermain.” Gumam Salsabila, kemudian keduanya tertawa. Dugaan Salsabila memang benar, setelah bermain petak umpet, Divo mengajak Ibuk bermain ular tangga. “Aku menang.” Kembali anak itu memenangkan permainan. Ijah yang hanya menontonpun menggerutu. “Yaiyalah menang, permainan bocah.” “Ijah...” Seperti sebelumnya, Ibuk akan menegurnya dan membela Divo. Kemudian terdengar suara Ahmad dan Salsabila yang sudah pulang ke rumah. “Mama...!” Divo berlari dan memeluk Ibunya. “Kamu gak ngerepotin Oma kan?” Tanya Salsabila. Ibuk segera menemui mereka. “Sama sekali gak. Justru sangat menyenangkan.” Kata Ibuk. “Maaf ya Tante, jadi mengganggu waktu istirahatnya?” Ucap Salsabila. “Rumah ini terlalu sepi. Divo mengubah suasana menjadi ceria.” Gumam Ibuk. Ahmad tersenyum pada Ibuk. Salsabila tersentuh mendengar kata-kata Ibuk. “Andaikan kalian juga tinggal di sini.” Ibuk seakan memberi kode untuk Ahmad, pria itu menjadi salah tingkah. “Sudah malam, Divo harus pulang karena besok dia pergi ke sekolah.” Kemudian Ahmad mengalihkan pembicaraan. Salsabila merasa lucu melihatnya. “Permisi Tante.” Salsabila berpamitan pada Ibuk. “Panggil Ibuk aja.” Pinta Ibuk. “Iya Buk.” Salsabilapun mencobanya. Mereka semua terlihat bahagia. Tarzia juga merasa bahagia bisa memiliki keluarga baru. Nenek yang sangat sayang padanya, Kevin yang begitu peduli padanya dan asisten rumah tangga yang bersikap baik padanya. “Makasih ya Nek. Nenek udah mau nerima Zia tinggal di sini.” Ucap Tarzia. Seketika suasana berubah haru olehnya. “Nenek yang berterimakasih karena kamu mau tinggal di sini. Di saat anak dan cucu kandung Nenek pergi ninggalin Nenek, Tuhan mengirim Kevin dan kamu dalam hidup Nenek.” Kata Nenek Kevin. Mereka lalu berpelukan. Sudah 1 bulan sejak pernikahan Joshua dan Patricia. Mereka tinggal berdua di apartment milik Joshua. Patricia sedang memeriksa alat tes kehamilan dan dia begitu bahagia melihat dua garis biru di sana. “Joe!” Patricia keluar dari kamar mandi lalu membangunkan Joshua yang masih tertidur. “Kenapa sih berisik banget?” Joshua bangun sambil mengucek matanya. Patricia menunjukkan test pack miliknya pada sang suami. “Apa nih?” Joshua tak tau fungsi alat itu. “Kamu akan jadi Ayah.” Lalu Patricia memberitahukannya. “Kamu hamil?” Joshuapun terkejut, dia memeluk Patricia. “Aku akan jadi Ayah.” Joshua begitu girang. Dia menggendong Joshua sambil bersorak. “Aku akan jadi Ayah.” Patricia tertawa senang melihat Joshua yang begitu antusias. “Kita kabarin Mama, Ibuk dan Ayah.” Usul Joshua. Patricia mengangguk tanda setuju. Saat itu di Kampus, Kevin dan Tarzia baru saja keluar dari ruang akademik. “Mulai sekarang segala informasi dan keperluan kuliah kamu dialihkan atas nama kamu sendiri. Jadi kamu gak bergantung sama orang lain lagi. Kamu gak perlu merasa berhutang budi lagi.” Tutur Kevin. “Makasih aja gak akan cukup, kamu udah banyak membantu dan mendukung aku.” Tarzia merasa terharu. “Nanti setelah usaha kue kamu dan Nenek berhasil, jangan lupa upahnya buat aku.” Gurau Kevin. “Siap Boss.” Tarzia memberi hormat pada Kevin. Mengetahui kalau Tarzia tidak menerima biaya kuliah darinya lagi, Ahmad terkejut. “Jadi dia gak mau menerima biaya kuliah dari saya lagi?” “Betul Pak. Tarzia sendiri yang melapor ke saya.” Jawab Petugas yang bekerja di Kampus Tarzia. “Yasudah Pak, terimakasih atas informasinya.” Ahmad menutup telepon. “Aku senang kalau kamu bisa mandiri Zia.” Dia bicara sendiri di ruangannya. Tarzia mulai merintis berjualan kue dari toko ke toko dengan bantuan Nenek. Dia mendapat penghasilan dari penjualan kue yang kemudian akan ditabungnya untuk biaya kuliah. “Kue buatan kamu enak banget.” Pinky dan teman-teman Tarzia juga memujinya. “Aku mau pesan kue kamu untuk acara pertunangan aku.” Tanpa sadar Pinky membocorkan acaranya pada semua teman-teman di kelas. “Yang mau tunangan ama anak Band ni ye...” Mereka serentak menggoda Pinky. “Duh... Keceplosan deh.” Pinky merasa malu sekali. Kevin menemani Tarzia berbelanja keperluan bahan-bahan kue di toko. Tarzia yang sudah terbiasa begitu pintar dalam memilih telur sampai dengan keju. Kevin mulai kewalahan membawa barang-barang belanjaan yang sangat banyak di tangannya. “Aku pulang naik taxi saja ya. Susah kalau naik motor.” Usul Tarzia. “Gak bisa. Nenek pesan sama aku supaya aku jagain kamu terus.” Kevin menolaknya. “Terus gimana?” Tanya Tarzia. Kevin berpikir sejenak. “Ikut aku.” Kemudian dia mengajak Kevin menunggu taxi. Setelah taxi melintas, Kevin menaruh barang-barang belanjaan di dalam taxi. “Tolong nyetirnya pelan-pelan ya Pak. Soalnya ada telur, takut pecah.” Pinta Kevin. Tarzia masih bingung dengan ide apa kiranya yang dimaksud Kevin. “Bapak ikutin saya aja.” Kevin lalu naik ke motornya. “Zia, ayo!” Dia memanggil Tarzia yang masih terpaku di samping taxi. “Kita naik motor, barang-barangnya diantar sama taxi.” Kata Kevin. Barulah Tarzia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar.” Begitulah komentarnya. Setelah sampai di rumah, Kevin membayar ongkos taxi dan mereka berdua membawa barang-barang belanjaan ke dapur. “Kalian udah pulang?” Nenek menghampiri mereka. “Semuanya sudah lengkap?” Tanya Nenek. “Berkat bodyguard ganteng ini, semua beres.” Jawab Tarzia sambil menepuk punggung Kevin. “Buru gih masak-masak. Jangan lupa jatah aku.” Kevin meninggalkan Nenek dan Tarzia di dapur. Nenekpun tertawa melihatnya. Acara masak-memasakpun dimulai. Nenek yang memberikan resep dan Tarzia yang mengolahnya dibantu oleh asisten rumah tangga. Mereka akan memasak cupcake dalam jumlah yang banyak. Melihat kesibukan di dapur, akhirnya Kevin turun tangan untuk membantu mengemas kue-kue itu. Pinky sudah berdandan di kamarnya, masih dengan tema warna merah muda kesukaannya. Pinky menelpon Tarzia. “Zia, buruan, acaranya mau dimulai.” “Iya, aku dan Kevin udah di jalan kok.” Jawab Tarzia. Saat taxi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah Pinky. Joshua dan Patricia sudah tiba di sana. Mereka masuk ke dalam pekarangan rumah dengan berjalan tepat di hadapan Tarzia dan Kevin yang sedang sibuk mengangkat kotak-kotak berisi cupcake. Joshua dan Patricia tidak melihat Tarzia begitupun sebaliknya. Apalagi Tarzia dan Kevin masuk lewat pintu samping dan bukan pintu depan. Kue-kue pesanan Pinky ditata kembali di dalam piring saji lalu Tarzia membawa piring-piring itu ke ruang tamu tempat acara dilaksanakan. “Fina Darwinky, aku ingin melamarmu menjadi istriku, sudikah kau menirimaku?” Saat itu Chiko sedang berdiri di hadapan Pinky dan melamarnya di hadapan kedua keluarga besar mereka serta sahabat-sahabat mereka. Seluruh personel Davinci Band yang berhadir bersorak untuk mereka. “Terima, terima.” Saat itulah Tarzia melihat Joshua yang terlihat begitu bahagia. “Jojo?” Tarzia segera pergi dari sana dan menuju ke dapur dengan wajah ketakutan. “Kamu kenapa?” Tanya Kevin. “Kita pulang sekarang.” Mendadak Tarzia mengajak Kevin segera pulang. “Tapi kita belum ketemu Pinky.” Sanggah Kevin. “Aku pulang duluan ya.” Tarzia hendak pergi tetapi Kevin menarik tangannya. “Kamu sakit?” Dia terlihat cemas. “Mendadak aku gak enak badan.” Terpaksa Tarzia berbohong. Di ruang tamu, Fina alias Pinky sudah menerima lamaran Chiko, merekapun saling bertukar cincin. Tepuk tangan meriah menambah ceria suasana. Tarzia segera pergi meninggalkan Kevin dalam acara itu. Tarzia memilih pulang ke rumah. Semua tamu di rumah Pinky menikmati hidangan yang disediakan termasuk cupcake buatan Tarzia. “Cup cakenya enak banget.” Puji beberapa tamu undangan. “Joe, aku pengen cup cake ini. Kamu tanyain Pinky ya, dia pesan dimana.” Sejak hamil sikap Patricia memang berubah menjadi manja. “Iya, aku juga suka. Nanti aku tanyakan.” Joshua juga menyukai kue itu. Pinky menghampiri Kevin yang sedang berbincang-bincang dengan tamu lainnya. “Kevin, Zia mana?” Tanyanya. “Dia mendadak sakit perut.” Kevin memilih alasan itu. “Sayang banget. Padahal aku mau ngenalin dia ke Joe, dia mau pesan kuenya.” Ujar Pinky. “Gimana kalau aku aja yang nemuin dia.” Usul Kevin. “Kamu bener juga. Ayo.” Lalu Pinky mengajak Kevin menemui Joshua dan Patricia. “Mas, Mbak, ini Kevin yang ngebantu usaha cup cake temen aku.” Pinky memperkenalkan Kevin pada pasangan Suami-Istri itu. “Halo, saya Joe, ini Istri saya Patricia.” Joshua mengulurkan tangan. Merekapun bersalaman. “Istri saya ngidam pengen cup cake buatan kalian. Saya mau pesan tapi dalam jumlah kecil, apa bisa?” Tanya Joshua. “Tentu, tidak masalah. Kami menerima pesanan jumlah besar dan kecil. Bahkan special buat Mas, kami akan antar ke tempat.” Kevin mengatakan hal itu dengan mudah karena dia tidak tau siapa Joshua bagi Tarzia. “Wah... Kami jadi tersanjung.” Patricia turut merasa senang. Joshua mengambil kartu nama dari saku bajunya. “Ini kartu nama saya, besok antarkan saja ke alamat itu ya.” Dia memberikannya pada Kevin. “Dengan senang hati Mas.” Kevin menerimanya dengan senyuman. “Soal biaya dan jumlah, saya kabari lewat telepon.” Kata Joshua. “Itu gampang.” Kevin menerima tawaran itu. Melihat Tarzia yang pulang ke rumah sendirian, Nenek bertanya. “Zia, cepet banget pulangnya. Kevin mana?” “Zia gak enak badan Nek.” Tarzia malah buru-buru pergi meninggalkan Nenek dan menuju ke kamarnya di lantai atas. “Kenapa sikapnya berubah?” Nenek semakin bingung. Tarzia menutup pintu kamarnya lalu duduk di atas tempat tidur. “Semoga Jojo gak ngelihat aku, jangan sampai dia tau sekarang aku udah gak sama Mas Ahmad lagi dan aku jualan kue di acara itu.” Hal itulah yang ditakutkan oleh Tarzia. Asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Tarzia atas perintah dari Nenek. “Mbak Zia sakit apa?” Tanyanya dari depan kamar. “Gak papa kok Mbak. Aku kecapean aja.” Teriak Tarzia dari dalam kamar. “Mau dibuatkan jamu?” Tawar Asisten rumah tangga. “Gak usah. Nanti juga sembuh sendiri. Aku mau tidur sebentar.” Jawab Tarzia. Asisten rumah tangga turun ke lantai 1 dan menemui Nenek. “Katanya kecapean Nek, mau tidur sebentar.” Dia menceritakan pada Nenek. “Syukurlah dia gak papa.” Nenek merasa sedikit lega. Namun masalahnya adalah ketika Kevin pulang ke rumah setelah acara pertunangan Pinky dan Chiko. “Tuk, tuk, tuk.” Dia mengetuk pintu kamar Tarzia. Saat itu Tarzia baru saja selesai sholat. “Masuk.” Tarzia mempersilahkannya masuk ke dalam kamar. “Kevin, kamu udah pulang? Aku kira tadi si Mbak.” Tarzia terkejut karena ternyata itu adalah Kevin. “Kita dapat orderan lagi.” Wajah Kevin terlihat sumringah. “Alhamdulillah. Untuk kapan?” Tarzia juga turut merasa senang. “Besok, bisa kan?” Tanya Kevin. “Tenang aja. Bisa kok.” Tanpa bertanya itu pesanan dari siapa, Tarzia begitu bersemangat membuat kue padahal sudah larut malam. Kevin juga turut serta menemani dan membantu Tarzia. Keesokan paginya, cup cake pesanan Joshua dan Patricia sudah siap diantar. Tarzia begitu bersemangat akan mengantarkan kue itu. “Biar aku aja yang ngantar pesanannya. Semalam kamu udah masak dan tidur juga gak cukup. Kamu istirahat aja di rumah, kalau kamu sakit kayak kemarin, aku bakal dimarahi Nenek.” Tetapi Kevin melarang Tarzia untuk ikut bersamanya. “Makasih ya.” Ucap Tarzia. “Siap Boss.” Kevin membalas Tarzia saat memberinya hormat tempo hari. Tarzia terhibur olehnya. Untung saja Tarzia tak ikut mengantarkan kue itu ke apartment Joshua dan Patricia atau dia akan kikuk bila bertemu mantan pacarnya itu. Kevin menekan bel apartmen. Patricia sendiri yang membukanya. “Kevin?” Dia antusias saat melihat Kevin datang. “Ayo masuk.” Patricia mempersilahkan Kevin masuk. “Sayang, Kevin udah datang.” Kemudian dia memanggil suaminya. Joshua menemui Kevin di ruang tamu. “Duduk dulu.” Pinta Joshua. “Makasih Mas, tapi saya buru-buru mau ke Kampus.” Jawab Kevin. “Kamu mahasiswa juga toh. Hebat juga.” Puji Patricia. Joshua mengambil sejumlah uang di dompetnya lalu membayar cup cake pesanannya. “Ini kelebihan Mas.” Kevin hendak mengembalikan uang tersebut. “Anggap aja bonus untuk kerja keras dan semangat kamu.” Gumam Joshua. “Makasih Mas. Saya permisi.” Segera Kevin berpamitan pada mereka berdua. “Aku salut sama dia. Mahasiswa juga, usaha juga jalan.” Ujar Patricia. Joshua memandang wajah Patricia. “Kamu juga hebat, mahasiswa iya, modeling iya dan bentar lagi bakal jadi Ibu.” Kevin mengelus perut Patricia. Patricia tersipu malu dibuatnya. Salsabila juga tersipu malu manakala Ahmad melamarnya di rumah sakit, di hadapan rekan kerja dan pasien yang ada di sana. “Will you marry me?” Ahmad berlutut di hadapan Salsabila sambil membuka kotak cincin di tangannya. Salsabila tak kuasa menahan air matanya. “Yes. I will.” Meski terisak dia berusaha menjawabnya. Rekan-rekan serta pasien di sana memberikan tepuk tangan meriah. Ahmad berdiri lalu memasangkan cincin di jari manis Salsabila. “Thank you.” Ucap Ahmad. Mereka saling bertatapan sambil tersenyum haru. Akhirnya Ahmad menemukan pasangan hidup yang tepat untuknya, yaitu Salsabila. Mereka memutuskan menikah secara sederhana namun khitmat. Tak lupa Ahmad mengumumkan pernikahan mereka pada wartawan yang menunggunya seusai ijab qabul di sebuah Mesjid. “Alhamdulillah pada hari ini kamu sudah sah sebagai pasangan suami istri baik di mata hukum maupun agama.” “Mas kawinnya tadi unik sekali Pak, 2000 USD. Bisa dinelaskan maknanya?” Tanya salah satu wartawan. “2000 itu tahun pernikahan kami. Yang akan dikenang selamanya oleh anak-anak kami nantinya.” Ahmad merangkul Divo bersamanya. Terlihat Ibuk juga menghadiri akad nikah mereka. “Bakal ada resepsi gak Pak?” Tanya wartawan yang lain. “Sesuai permintaan istri saya, tidak ada resepsi besar-besaran, kami akan gelar syukuran dengan keluarga dan kerabat dekat saja di Bali.” Jawab Ahmad. Tak lama setelah hari itu, foto-foto pernikahan Ahmad dan Salsabila tersebar di surat kabar. Patricia yang sedang hamil besar menerima koran pagi itu. Dia melihat di halaman utama surat kabar tersebut ada berita tentang Ahmad. “Pemilik hotel bintang 5 gelar pernikahan sederhana.” Patricia tak sabar ingin segera membacanya. Maka diapun duduk di sofa untuk membacanya. “Ahmad Tanzu, pengusaha ternama di Indonesia resmi menikah dengan seorang Dokter cantik bernama Salsabila. Tak ada yang istimewa dari acara akad nikah mereka, namun suasana khidmat begitu terasa. Dr. Salsabila diketahui bekerja di rumah sakit Negeri dan memiliki seorang putra.” Patricia terkejut saat membacanya. “Dia nikah sama janda anak satu? Kok bisa? Padahal dia bisa dapaetin gadis belia.” Seperti wanita lainnya, Patricia juga senang akan gosip. “Siapa yang nikah?” Tak sengaja Joshua mendengarnya. “Pak Ahmad Tanzu, pemilik hotel tempat kita resepsi dulu.” Jawab Patricia. Joshua sama sekali tak terkejut mendengarnya. “Oh...” Begitulah reaksinya yang datar. “Kamu udah tau ya?” Tanya Patricia. “Iya, itu berita lama.” Jawab Joshua sambil memakai sweater di tangannya. “Kok dia mau sama Janda anak 1 ya? Memang sih, Dokter, tapi...” Patricia melanjutkan ceritanya. “Apa, janda? Dokter?” Barulah Joshua menyadari bahwa yang dimaksud Patricia bukanlah pernikahan Ahmad dan Tarzia melainkan orang lain. Joshua merebut koran itu dari tangan Patricia. “Tuh kan, kamu aja kaget.” Patricia meledek Joshua. “Bukan Tarzia?” Pikir Joshua. Tanpa bicara sepatah katapun, Joshua malah pergi begitu saja. “Kamu mau kemana?” Teriakan Patricia tak dihiraukannya lagi. Joshua masuk ke mobilnya. “Aku melepaskan Tarzia bukan untuk disakiti.” Joshua merasa geram, dia mengemudi dalam keadaan marah. Joshua menuju ke rumah Ahmad. Security tak membukakan pintu dan memeriksa terlebih dulu. “Cari siapa?” Namun dia salah bertanya, karena Joshua adalah seorang selebritis yang sangat populer saat itu. “Mas Joe kan?” Tebak Security di rumah Ahmad. “Boleh saya masuk?” Tanya Joshua. “Baik-baik.” Segera dia membukakan gerbang agar Joshua dapat masuk. Joshua memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah Ahmad. Security tadi menghampirinya. “Mas, boleh minta tanda tangannya gak?” “Ahmad!” Joshua yang keluar dari mobil langsung berteriak dan memanggil Ahmad. Joshua menerobos masuk ke dalam rumah Ahmad. “Gawat nih!” Security itupun menyusul Joshua dan mencoba mengahadangnya. “Keluar kamu!” Joshua mendorong Security itu dan berdiri di depan tangga. “Jangan jadi pengecut!” Teriakan Joshua semakin keras. Ijah lalu menemui Joshua. “Mas, tolong tenang dulu.” Pintanya. “Kamu minta saya tenang?!” Joshua malah semakin marah. “Ada apa ribut-ribut?” Ibukpun muncul. “Ibuk?” Joshua kaget melihat Ibu kandung Tarzia ada di sana. Kemudian Ahmad dan Salsabila juga turun dari lantai atas. Joshua merasa emosi melihat pasangan pengantin baru itu. Tanpa basa-basi Joshua langsung meninju wajah Ahmad yang sebenarnya bertubuh lebih besar darinya. “Ahmad?” Salsabila histeris. Hidung Ahmad sampai berdarah karena pukulan itu. “Jojo, apa-apaan kamu!” Tegur Ibuk. Salsabila sibuk mengambil tisu dinatas meja dan memberikannya pada Ahmad. “Harusnya aku yang nanya, Ibuk macam apa yang lebih memilih orang lain ketimbang anak kandungnya sendiri?” Joshua membalas perkataan Ibuk. Ahmad marah mendengarnya, dia lalu membalas meninju Joshua sampai bibirnya berdarah. “Ahmad, udah!” Teriak Salsabila. Securitypun berusaha menahan Joshua dan Salsabila menahan Ahmad agar tak terjadi perkelahian. “Aku melepaskan Tarzia untuk kamu karena aku pikir kamu orang yang tepat untuk dia, kamu akan mencintai dia lebih dari aku, kamu akan menjaga dan membahagiakan dia, tapi kamu malah meninggalkan dia dan menikah sama perempuan ini!” Joshua melampiaskan amarahnya. “Ahmad memang mencintai Zia lebih dari cinta kamu ke Zia. Tapi Zia berkhianat, dia selingkuh!” Terpaksa Ibu Tarzia sendiri yang membongkar aib anaknya. Ijah dan Bibi Lorenza terkejut mendengarnya. “Nyonya, ayo kita masuk.” Bibi Lorenza menghampiri Ibuk yang mulai merasakan sesak di dadanya. Joshua tercengang mendengarnya. Bibi Lorenza membantu Ibuk naik tangga dan pergi ke kamarnya. Joshua memberontak dan melepaskan diri dari Security Ahmad. Ahmad juga meminta Salsabila melepas tangannya dari lengan Ahmad. “Aku berusaha membuat Zia mencintai aku, tapi kenyataannya dia gak bahagia hidup bersamaku, jadi aku membebaskan diri dari hubunga ini.” Ahmad menjelaskannya kembali pada Joshua. Joshua yang merasa bersalah teringat akan kebodohannya yang diam-diam menjalin hubungan dengan Tarzia meski tau kalau Tarzia sudah menikah dengan Ahmad. “Tapi dia sudah mengakhiri hubungan kami, dia memilih kamu.” Kemudian Joshua teringat saat Tarzia tiba-tiba kembali pergi dari kehidupannya. “Aku tau Zia melakukan itu karena terpaksa. Hubungan yang dipaksakan itu gak baik.” Ujar Ahmad. Joshua tak bisa berbicara apa-apalagi, dia memutuskan pergi dari rumah Ahmad. Salsabila yang cemas memeluk Ahmad. “Aku takut banget barusan.” Ahmad membelai rambut Salsabila agar perasaannya menjadi tenang. Setenang itulah Kevin dan Tarzia yang kembali aktif dengan kegiatan sosial mereka di Kampus. 3 tahun kemudian, Kevin dan Tarzia telah lulus kuliah dan menjadi sarjana. Bahkan Kevin meraih nilai tertinggi di Kampus. “Silahkan Kevin menyampaikan pidato.” Pembawa acara memanggilnya ke podium. Tarzia yang duduk di samping memberi turut berbangga hati padanya. Nenek juga hadir dan duduk dibangku penonton bersama Asisten rumah tangga sekaligus perawatnya itu. Tarzia melambaikan tangan pada mereka. “Assalamu’ailaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi teman-teman wisudawan semuanya. Yang saya hormati Rektor, Dekan dan Dosen-Dosen kami semua. Beribu terimakasih kepada seluruh keluarga, kerabat dan sahabat semua yang telah hadir pada hari ini. Kebahagiaan ini kami persembahkan untuk kalian. Untuk Kakek, Nenek, Ayah,Ibu, Paman/Bibi, maupun Adik/Kakak, kami mohon dukunglah kami sekali lagi karena perjuangan kami belum berhenti sampai di sini. Kami masih harus berjuang mendapatkan hati para pimpinan di tempat kerja idaman. Teman-temanku semua, semangat!” Pidato singkat dari Kevin terdengar bagai sebuah orasi yang menyuarakan kenyataan akan kondisi mahasiswa yang justru menjadi pengangguran setelah lulus kuliah. “Semangat!” Salah satu wisudawan berdiri dan ikut berteriak sehingga yang lainpun menyusul mengucapkan kata. “Semangat!” Termasuk Tarzia. Setelah acara selesai, Kevin dan Tarzia menemui Nenek. “Nenek bangga sekali sama kalian.” Nenek memeluk mereka berdua. “Nenek akan lebih bangga lagi kalau tau berita dari Kevin.” Kata Tarzia. “Apa?” Tanya Nenek. “Zia nerima lamaran Kevin.” Sungguh kalimat yang tak terduga. Nenek begitu bahagia mendengarnya begitupun asisten rumah tangga mereka. “Syukurlah...” Ucap Nenek. Meski Nenek Kevin non Muslim, tetapi dia sangat menghormati perbedaan dan keberagaman. Misalnya ketika hari pernikahan Kevin dan Tarzia, Nenek memakai selendang menutupi kepalanya saat memasuki pekarangan Mesjid dengan tidak meninggalkan kalung salip di lehernya. Teman-teman sekelasnya saat di Kampus mengadakan garden party untuk mereka. Suka cita begitu terasa saat itu. Seperti juga yang dirasakan Joshua saat menggendong putri pertamanya dan kini dia sudah dikarunia seorang anak laki-laki tampan. Joshua menemui Patricia yang masih terbaring lemah lalu mencium keningnya. “Makasih ya sayang.” Ucapnya. Rumah Ahmad juga terasa ramai karena dari pernikahannya dengan Salsabila, dia telah memiliki seorang Putra yang tampan. Ibuk yang selalu menjaga balita itu saat kedua orang tuanya pergi bekerja. Apakah setelah semuanya bahagia, cerita ini akan berakhir? Sama sekali belum. Babak baru akan dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN