Praaang. Gubraaak. Mas Thoriq tak hanya sekedar mengancamku. Beberapa benda yang ada di dekatnya dibantingkannya ke lantai, sehingga menimbulkan suara gaduh. "Allahu Akbar, Mas, hentikan! Jangan … awww! Udahlah, Mas!" Seperti tak peduli dengan teriakanku, lelaki itu semakin brutal. Tong sampah di depan toilet pun menjadi sasaran tendangan kemarahannya. "Biar aja. Ini maunya kamu kan? Jangan coba-coba menantang seorang Thoriq!" "Tolooong! Tolooong!" teriakku ketakutan melihat Mas Thoriq mengangkat sebuah vas bunga kecil ke arahku. "Astagaaa, ada apa ini?" teriak Om Rahmat melotot bingung melihat keadaan di lorong itu benar-benar hancur berantakan. "Om … tolong, Om! Dia berusaha memeras saya dengan terus meminta uang. Kalau saya gak ngasih, dia mengancam akan akan terus menggan

