"Bu Asih! Bu Asih! Aku berlari menuju kamar Bu Asih dan mengetuk pintunya. Keringat dingin menetes di pelipisku. Tangan dan lutut gemetar karena ketakutan. Pintu membuka dan berdiri wanita yang rambutnya mulai dipenuhi oleh uban, sambil mengucek matanya. Sepertinya Bu Asih sudah sempat tertidur. "Ada apa, Nak Nina?" "Anu, anu, itu tadi, Bu. Dua kali saya ngeliat bayangan hitam lewat. Pertama di situ waktu saya mencuci botol," ucapku menunjuk jendela di dapur. "Lalu di sana." Kemudian aku menunjuk ke jendela teras. Napasku memburu. "Masa iya sih hantu," ucap Bu Asih sambil berjalan ke arah jendela dapur. Aku dan Lina, ART-ku yang satu lagi, berjalan dengan memegang bahu Bu Asih. Dengan berjinjit, ibu kandungnya Dinda itu melongok ke jendela dan melihat ke kiri dan kanan. "Sepi, Na

