Orang yang berkerumun tadi, berlari ke arah tepi pembatas. Tentu saja mereka penasaran ingin tahu apa yang terjadi. "Ya Allah, Dinda! Mas Thoriq!" teriakku. Ketika aku hendak melihat ke arah sungai, Mami cepat menahanku. "Jangan! Kamu di sini aja. Kamu aja masih lemes begitu." "Nina! Nina!" panggil Papi, menerobos kerumunan dan langsung menarikku ke dalam pelukannya. "Kamu gak papa, Nak? Ada yang luka?" Aku menggeleng. "Alhamdulillah gak ada, Pa. Cuma sedikit perih," ujarku sambil mendongakkan kepala, menunjukkan leher yang sedikit tergores. "Astaghfirullah. Harus segera diobati juga, Sayang. Takutnya infeksi." "Gak papa, Pi. Aku masih pengen di sini. Pengen tau gimana kabar Mas Thoriq dan Dinda." Rumah sakit ini memang sangat kurang ketat penjagaan dan pengawasan. Sehingga set

