Pintu kamarnya kembali tertutup, Bunda yang menutupnya setelah keluar bersama Bara. Kembali meninggalkannya sendirian. Seandainya saja Bara mengerti dia tidak ingin ditinggalkan. Dia ingin Bara tetap di sini, terus membujuknya dengan cara apa pun sampai dia luluh. Percayalah, hatinya tidak sekeras itu. Apalagi tadi melihat Bara menangis, dia nyaris melupakan semua kemarahan dan rasa kecewanya. Namun, sekarang semua itu kembali lagi. Ternyata perjuangan Bara cukup sampai di sini saja,ia lebih memilih mengikuti Bunda daripada tetap membujuk istrinya. Vivi menyeka air matanya kasar menggunakan punggung tangan. Membuang muka ketika terdengar pintu terbuka. Salahkah dia berharap suaminya yang kembali ke sini menemuinya? Vivi menggigit pipi dalamnya, harapannya hancur berkeping-keping setelah

