Bagian 7-Cemburu... . . Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar suaminya di kediaman sang mertua terasa jauh lebih hangat. Amara terbangun dengan posisi kepala bersandar di d**a bidang Izz, mencium aroma wangi khas tubuh suaminya yang sangat ia rindukan. Selama hampir tiga puluh menit, Amara hanya diam, memandangi wajah Izz yang sedang terlelap. Bulu mata suaminya yang lentik, rahangnya yang tegas namun tampak rileks saat tidur, hingga napasnya yang teratur bahkan suara dengkur halusnya yang di awal setelah menikah, untuk pertamanya tidur sekamar bersama sempat membuat Amara sulit tidur, namun kini sudah beradaptasi menerimanya. Ya, semuanya terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Amara mengulurkan jari, ragu-ragu mengusap ujung hidung Izz, lalu tersenyum sendiri. Ia meras

