Bagian 8-Cemburuku Wajar... . . Setelah pembicaraan yang menguras emosi itu, Amara pamit untuk istirahat. Ia masuk ke kamar lamanya untuk berganti pakaian. Saat ia keluar, ia melihat Izz baru saja menutup teleponnya dengan wajah serius. Izz menyambar kunci mobil di atas meja dan mengenakan jaketnya kembali. “Mas mau ke mana? Sudah malam begini,” tanya Amara heran. “Ke rumah Eyang?” tebaknya lagi “Bukan... Ini barusan, ada telepon darurat dari RMC, Sayang. Ada pasien kecelakaan beruntun dan tim bedah kekurangan orang. Aku harus ke sana sekarang,” jawab Izz cepat. Ia menatap Amara sejenak, lalu menambahkan, “Sekalian, Maura baru saja kirim pesan. Ada barangnya yang tertinggal di mobil, mungkin di bawah kursi atau di dashboard. Aku akan periksa. Dia tanya apa bisa dibawakan sekalian ke r

