Arraya membuka matanya perlahan dan menyesuaikan dengan pencahayaan di hadapannya. Kepalanya yang terasa berat membuat Raya mengangkat tangannya untuk menekan bagian kepalanya yang sakit. "Arraya, kamu tidak apa-apa?" Mendengar suara pria di dekatnya, Raya langsung melirikkan matanya perlahan ke samping. Wajah Muaz yang tampan langsung tertangkap dalam manik hitam Arraya. Sedikit menghadirkan kejutan bagi Raya yang melihat Muaz ada di hadapannya. "Arraya, kamu baik-baik saja, kan?" Pertanyaan yang sama itu kembali meluncur dari bibir Muaz. Garis wajahnya yang khawatir menatap sendu kedua mata Arraya. "Ra, apa kamu ingat kalau kamu tadi pingsan di bandara?" Raya menggeleng sebagai jawabannya. Ia menatap langit ruang rawat sambil menjelajah kembali pada beberapa saat yang lalu. Yang ia

