Adnan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia menghela napas panjangnya. Entah kenapa hari ini begitu melelahkan untuknya. Tenaganya seakan terkuras habis-habisan. Adnan menatap langit-langit apartemennya. Putih dan bersih. Tenang dan sepi. Ini sudah masuk malam ketiga ia memilih tidur di apartemen, dibandingkan rumahnya sendiri. Adnan menghela napas panjang sekali lagi. Ia bangkit duduk, menarik satu laci dari nakas yang ada di samping tempat tidur. Amplop cokelat sudah berpindah ke tangannya. Adnan membuka amplop tersebut perlahan dan menarik selembar kertas yang ada di dalamnya. Tertera jelas judul yang diketik tebal di atas kertas tersebut "Surat Permohonan Gugatan Perceraian", lengkap dengan materai 6000 yang sudah menempel di kolom kosong tanda tangan. Adnan menghela napas panja

