13 | Tamparan

1586 Kata

Raya menghela napas sekali lagi. Merasakan kepalanya yang terus berdenyut tiada henti. Raya memejamkan mata sembari terus menekan kepalanya. Berharap sakit kepala ini akan segera pergi agar Raya bisa segera pergi bekerja. "Non Raya..." "Ya, Bi?" jawab Raya tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya juga pelan dan terdengar lirih menyapa telinga Bi Ira. Bi Ira mendekati Raya yang sedang duduk di atas sofa. Ia berjongkok dan menyentuh kedua lutut Raya dengan tangannya. "Non mau Bibi buatkan bubur?" Tanpa mengangkat kepalanya, Raya menggeleng. "Nggak usah repot, Bi. Saya lagi nggak pengen makan." "Kalau gitu Bibi buatkan teh hangat, ya?" "Nggak usah, Bi." Raya tetap menolak tawaran Bi Ira dengan halus. "Non...perut Non Raya itu belum diisi dari pagi. Kemarin juga cuma sarapan dan makan malam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN