Arraya berusaha bangkit duduk dan langsung meraba perutnya. Ia bahkan sampai lupa jika ia sedang mengandung 4 minggu. "Dia nggak papa, kan?" Arraya menatap Adnan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Adnan tak bisa menjawab. Ia hanya menunduk dengan bahu bergetar menahan tangis dalam diam. "Mas?!" Arraya menyentuh dan mencengkeram lengan Adnan. Memohon penjelasan maksud ekspresi dan tangis Adnan padanya. Tidak, ia tidak butuh ditangisi. Ia hanya butuh sebuah jawaban. "Mas! Mas Adnan!" Adnan langsung menarik tubuh Arraya ke dalam dekapannya. Adnan memeluk tubuh istrinya dengan erat dan airmata yang tiada henti surut. "Jawab aku, Mas..." lirih suara Arraya yang terdengar memilukan di telinganya. Arraya merasakan matanya memanas. Pelukan Adnan yang erat seolah secara otomatis meremukkan s

