Arraya duduk di tepi ranjang dengan perasaan gugup. Sejak tadi jantungnya tak dapat berhenti berdetak dengan begitu cepat. Arraya memeriksa pakaiannya. Ia sudah mandi dan mengganti baju tidurnya dengan yang baru beserta kerudung berwarna biru muda. Matanya menerawang ke depan. Ia terus memikirkan saat ia dan Adnan berbaikan di bawah derasnya hujan. Kenangan yang begitu manis untuk diingat. Bibirnya melengkung tanpa sadar. Ia masih ingat jelas bagaimana tatapan Adnan yang begitu dalam menatapnya, dan hangatnya pelukan Adnan. Rasanya masih tak percaya. "Ra?" Suara bariton Adnan yang menyapu pendengarannya membuat Raya menoleh refleks. "Astaghfirullah!" pekik Raya dengan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia juga menutup kedua matanya yang baru saja melihat pemandangan menakj

