"Sudahlah! Lebih baik kita tidur saja! Jangan harapkan apapun dariku. Bila perlu, jangan anggap aku suamimu!" bentak Arrash, suaranya berat dan dingin. Ia segera membalikkan tubuh, menghadapkan punggungnya pada Sofie.
Seprei putih diremas erat di tangan Sofie. Hatinya berdesir, bukan karena kaget, tapi karena rasa perih yang begitu familiar. Arrash masih saja sama, bahkan setelah kesempatan kedua ini. Sulit dipahami, keras kepala, dan selalu menutup dirinya dengan dingin.
Di kehidupan pertamanya, Sofie hanya memilih diam. Ia membiarkan semua kata-kata tajam itu menancap tanpa perlawanan, lalu tertidur dengan air mata yang ia sembunyikan dalam gelap. Namun kini, segalanya berbeda. Setidaknya di kehidupan kedua ini, ada sedikit perubahan. Saat ini mereka masih berada di ranjang yang sama, meski tak saling menatap.
Sofie menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya. Tatapannya lurus ke punggung lebar pria itu. Tidak lagi. Kali ini ia harus merubah takdirnya.
"Baiklah," ucap Sofie datar namun tegas, "Kalau itu mau mu, kalau begitu ayo kita tentukan tanggal perceraian."
Tubuh Arrash refleks menegang, lalu perlahan ia berbalik. Tatapannya jatuh pada Sofie yang tengah berbaring menyamping, dan seketika matanya melebar. Pandangannya tanpa sadar menuruni lekuk tubuh istrinya dan melihat dengan jelas belahan p******a Sofie yang terlihat lebih berisi karena wanita itu tidur menyamping dan tanpa bra pula. Ia cepat-cepat menelan ludah, berusaha menguasai diri. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Rasa yang tak ingin ia akui.
Ia segera memutar tubuh menatap ke langit-langit kamar, berusaha mengusir bayangan itu. "A-apa maksudmu? Kita baru saja menikah, kenapa harus membahas perceraian!" suaranya melemah, nyaris seperti gumaman.
Sofie terkekeh pendek, penuh sindiran. "Justru karena kita baru menikah, semuanya harus jelas sejak awal. Aku tidak mau bertahun-tahun terperangkap menjadi istrimu, padahal kau sendiri tak menganggap ku. Bahkan barusan kau bilang aku jangan mengganggap mu suami." Sofie mengepalkan tangan, sorot matanya tajam, berusaha membalas ucapan Arrash. "Untuk apa aku menghabiskan masa mudaku bersamamu, kalau aku bisa mencari pria yang benar-benar mencintaiku?"
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan penuh tantangan.
Sofie tersenyum samar, getir sekaligus puas. Hal ini dulunya tak pernah ia lakukan. Di kehidupan pertamanya, ia hanya memilih diam. Namun kali ini, ia akan melawan dengan cara yang lebih berkelas.
"Ba-baiklah kalau begitu… kau saja yang memikirkannya. Yang penting, jangan libat kan aku apalagi sampai Om Firman marah," ujar Arrash gugup, mencoba mengalihkan beban.
Sofie mendengus, kemudian terkekeh sinis. "Dasar pengecut! Kau bicara seakan semua ini kemauanku. Kau mau melimpahkan semua kesalahan padaku, supaya Papa hanya marah padaku, begitu? Dasar licik!"
"Bukan begitu!" Arrash segera membela diri, wajahnya kini kembali menoleh ke arah Sofie. "Aku hanya tidak ingin Om Firman kecewa padaku."
Sofie menatapnya tajam. "Munafik! Jadi yang kau pikirkan hanya dirimu sendiri. Kau ingin aku jadi tumbal, agar Papa kecewa padaku karena pernikahan ini gagal. Dulu… karena hal inilah aku menahan semuanya, sampai akhirnya aku gila, sampai aku melakukan hal-hal yang tidak bermartabat," umpatan itu hanya ia simpan dalam hati, getir dan penuh luka.
Arrash kembali memalingkan wajahnya, menatap langit-langit kamar dengan kaku. Bukan karena marah, melainkan karena ia tidak tahan melihat Sofie yang hanya mengenakan lingerie tipis dan transparan. Bayangan tubuh Sofie membuat dadanya berdesir, meski ia berusaha menolaknya.
Tentu saja hal itu tak luput dari penglihatan Sofie. Ia tahu, di kehidupan pertamanya, Arrash bahkan tak pernah sekalipun menyentuhnya. Setelah 5 tahun menikah mereka bahkan tak pernah berhubungan suami-istri. Justru Sofie malah menyerahkan kesuciannya pada Andreas, sepupunya Arrash, hanya demi melukai harga diri pria itu.
Senyum licik perlahan terbit di wajah Sofie. "Kalau begitu mari kita ubah permainan." batinnya.
Ia bangkit dari posisi berbaring, duduk anggun di atas ranjang. Cahaya redup lampu kamar membuat siluet tubuhnya semakin menggoda. "Kalau begitu," ucapnya pelan namun penuh tantangan, "setidaknya untuk sekarang… kita lakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan suami-istri."
Sofie membiarkan tali sebelah kanan lingerie melorot hingga payudaranya yang sebelah kanan terlihat jelas. Walaupun suasana dikamar remang-remang tetap saja Arrash bisa melihat p****g Sofie yang menggoda. Mata Arrash melebar, tubuhnya menegang, hingga ia tersedak oleh liurnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan! Pakai bajumu dengan benar!" bentak Arrash panik, lalu memutar tubuhnya. Ia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang, membelakangi Sofie.
"Memangnya kenapa? suka atau tidak suka! cinta atau tidak cinta! kita kan sudah jadi suami istri dan sudah seharusnya kita melihat tubuh satu sama lain! mana tau kau bisa membuka hatimu untukku begitu juga dengan ku!" bentak Sofie.
Arrash menoleh setengah, wajahnya sudah merah padam. "Berapa kali aku harus bilang! Aku tidak akan melakukan hal-hal seperti itu denganmu! Kau… bukan tipeku!"
Sofie terperanjat. "Bukan tipemu?" ia menatap tubuhnya sendiri lalu mendengus dalam hati. "Aku cantik, kulitku terawat, tubuhku ideal. Dasar b******k!"
Kemarahan mendorong Sofie untuk bertingkah lebih jauh dan berani. Ia turun dari ranjang, berdiri tepat di hadapan Arrash. Tatapan matanya menyala penuh perlawanan.
Arrash yang sejak tadi sedang menahan diri dengan menundukkan kepala akhirnya menatap ke mata Sofie yang menyala.
Arrash masih melihat tali lingerie Sofie yang melorot. "Apa yang kau-"
Sofie langsung melepaskan seluruh lingerie dari tubuhnya.
Tubuh Sofie polos tanpa sehelai benang pun membuat Arrash melotot. "K-kau... "
Tapi kini Arrash tak punya alasan untuk memalingkan wajah karena dia sendiri tak bisa lagi menolak untuk melihat keindahan tubuh istrinya tanpa sehelai benang pun itu.
"Lihat baik-baik dengan matamu! apa kurangnya aku Ha...!" teriak Sofie sambil menyibakkan rambutnya hingga kedua p******a miliknya terekspos jelas begitu juga bagian bawahnya yang terawat.
"Dasar perempuan gila! kau sama sekali tak ada takutnya ya!" pekik Arrash melemparkan selimut tebal kepada Sofie.
Ia pun langsung bangkit dan memilih masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, Arrash bersandar lemah pada dinding dingin. Napasnya memburu, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya merah, matanya gelisah, dan dadanya berdegup keras tak terkendali, namun yang paling menjengkelkan, miliknya di bawa sana sudah berdiri tegak.
"Sofie... kau benar-benar membuatku gila. Hampir saja aku menerkamnya tadi, kalau aku tidak bisa menahan diri mungkin aku pasti akan membuatmu tak bisa bangkit besok pagi! dasar gadis bodoh! kau mau menjerumuskan diri pada pembawa sial seperti ku!" gumamnya.
Arrash langsung membasuh wajahnya.
Ia pun duduk di atas closet lalu membuka celananya perlahan. Arrash terpaksa menenangkan miliknya yang sudah tegak dengan tangannya sendiri sampai cairan miliknya keluar dan membuat seluruh tubuhnya kembali tenang.