Arrash berbalik perlahan, menatap Sofie yang berdiri tepat di belakangnya. Tatapannya datar, namun sorot matanya penuh kegelisahan. “Kau mungkin tidak percaya pada takhayul,” ucapnya pelan namun tegas, “Tapi aku sangat mempercayainya.” Ia mengangkat kedua telapak tangannya, memperlihatkannya pada Sofie. “Lihat ini,” ucapnya lirih, “Dua tahi lalat kembar di tanganku. Ada sebuah buku yang mengatakan tanda seperti ini hanya akan menjadi petaka bagi orang yang dicintai pemiliknya. Om-ku juga mengatakan hal yang sama. Dan aku sendiri sudah membaca buku itu. Semuanya sama, seolah-olah takdir buruk ini memang sudah ditulis untukku.” Sofie menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Aku tahu kau suka membaca, Rash,” ujarnya lembut. “Tapi tidak semua yang ditulis di buku itu benar.” Ia merai

