Sofie Emang Me-sum

1458 Kata

Mata Sofie berkaca-kaca. Rasa malu menusuk hingga ke ulu hatinya saat Arrash membentaknya di depan para pekerja. Suaranya yang tegas dan dingin memecah suasana siang itu, membuat semua orang yang berada di dapur hanya bisa menunduk tak berani menatap. Bahkan, Arrash sampai menegur orang yang sama sekali tak bersalah, hanya karena emosi yang tak bisa ia kendalikan. Sofie menunduk dalam-dalam, menahan isak yang nyaris pecah. Di dalam hatinya, amarah dan kecewa sudah menjadi satu. Arrash tak akan pernah berubah. Sebesar apa pun usahanya untuk menjadi istri yang baik, rasanya semua itu sia-sia di mata pria itu. “Kalau begini... lebih baik aku keluar saja dari rumah ini,” ucap Sofie lirih namun tegas. Ucapan itu membuat mata Arrash membola. Para pekerja yang menyaksikan kejadian itu pun sont

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN