Eca berjalan dengan cepat menuju dapur. Dia masuk dan langsug melepaskan celemek yang sedang dia kenakan. “Dasar orang-orang kaya tidak mempunyai hati!” dia berteriak cukup keras. Hingga membuat beberapa temannya menoleh dan melihat ke arahnya. Seorang temannya pun berjalan dan menghampirinya. “Soal yang tadi ya? Sudah, nanti aku akan membantumu membayarnya. Jangan khawatir, oke?” Laura mengusap pundak Eca dengan lembut. “Tapi, itu kan sangat mahal. Aku tidak ingin membuat gajimu juga dipotong karena orang kaya tidak tahu diri itu.” Eca menempelkan kepalanya di pundak Laura. “Ah, syukurlah. Gajiku tidak jadi dipotong.” Laura dengan sengaja mengucapkannya dengan bersemangat. Hal itu membuat Eca menarik kepala dan menatap ke arahnya. Dia menatap pada Laura seolah sedang berkata ‘

