Beberapa hari telah berlalu, Sarena sudah tidak pernah melihat Giozan datang, ada sepi yang menyelimuti hati, namun ia berusaha tidak terpengaruh, ia juga tidak pernah mendengarkan kabar Jesica lagi yang berusaha meraih hati Giozan. Sarena mendesah napas halus dan mengelus leher belakangnya, tak lama kemudian suara ketukan di kaca terdengar, Sarena menoleh dan melihat suaminya itu datang dengan senyuman lebar di wajahnya. Sarena melambaikan tangan dan bangkit dari duduknya. Sarena dan suaminya duduk berhadapan dan mereka menyesap kopi buatan resto Saren. Sarena menatap suaminya dan berkata, “Tumben kamu di sini sepagi ini?” tanya Sarena. “Aku tidak ada pekerjaan, jadi aku kemari saja,” jawab Jeffry.”Karena setelah dari sini aku akan meeting.” “Kamu meeting dimana?” “Di sini,” jawab Je

