Bayam - 45

1430 Kata

“Udah tahu nanti lanjut kemana?” “Belum heheh.” “Lo enggak kepengen jadi apa gitu? Kalo Kampus impian ada enggak?” “Enggak hehe.” Sekali lagi lo hehehe, gue lempar lo. Batin Laras. “Atau... sesuatu yang lo suka? Hal yang bikin lo nyaman?” “Hm. Ada.” Arken mengangguk-angguk. “Apaa?” tanya Laras tertarik. “Lo.” “YAK YAK YAK! DUNIA SERASA MILIK BERDUA YANG LAIN CUMAN NUMPANG LEWAT!” “Mulut lo kayak toa, Di. Sumpah,” decak Laras kesal sambil menarik teh hangatnya yang berada diatas meja, uap dari gelas itu mengepul, menandakan bahwa ia baru diseduh, alasan kenapa belum ia sentuh sedari tadi. “YOK! BEB KITA PINDAH KE SEMAK-SEMAK AJA TAKUT GANGGU.” Keenan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya. Untung sekarang telinganya sudah cukup kebal mendengar suara bass Diandra. “T

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN