“Ras.” “Apa? Arken menghela nafasnya, pandangan awalnya tertuju pada jalanan rumah Laras, beralih ke arah piala berwarna emas yang berada ditangan gadis itu.o “Piala itu menurut lo apa?” tanya Arken yang membuat kening Laras mengerut. “Hasil kerja keras kita.” “Cuman itu aja?” tanya Arken. “Ehm. Iya.” “Oke. Gue pulang dulu.” Laras menatap bingung ke arah Arken, lalu menghendikan bahunya acuh dengan pertanyaan random pria itu. Namun ketika lelaki itu menghidupkan motornya, pandangannya ia alihkan ke arah piala yang berada didekapannya. Tiba-tiba, semua kenangannya bersama Arken menyeruak dikepalanya. Detik, menit, jam bahkan hari-hari yang ia lalui bersama Arken tiba-tiba berputar layaknya bianglala. Perasaan bahagia, sedih, marah saat bersama Arken memenuhi relung hatinya. Bersama

