“Mau kemana?” Arken menoleh ketika sang Ayah bertanya, pria paruh baya itu sedang duduk disofa dengan ipad ditangannya. Kaca mata yang bertengger itu ia turunkan perlahan. “Mau pergi, Pi.” “Oh, hati-hati.” Ridwan kembali membenarkan kaca matanya. Berfokus kembali dengan grafik-grafik yang naik turun seperti hidup Arken. Anak laki-laki itu menunggu, biasanya sang Papi akan menceramahinya atau memarahinya jika pergi dengan tujuan tak jelas. Namun sekarang pria itu malah terlihat biasa-biasa saja. Arken menggaruk kepalanya pusing. Kenapa pula ia malah menunggui Papinya mengomel? “Arken.” “Mau ngomel, Pi?” tanya Arken. “Kamu diantar sopir Papi aja, dia ada di basement.” “Aku naik tranportasi umum aja, Pi. Deket Rumah sakit Mount Elizabeth kok.” “Tahu emang rutenya?” tanya Ridwan sambi

