“Pelan-palan dong.” “Ssst! Bacot banget.” “Yawloh. Alis gue kenaaa!” “Enggak papa biar glowing.” “Bibir gue kenapa kena juga, sih?!” “Perawatan sebelum dipake gibah.” “Ini berdua bisa diam enggak, sih?!” tanya Calya sedikit gemas. Gadis itu sedikit menendang pintu kamarnya untuk membuka, ia tak bisa menggunakan kedua tangannya karena membawa nampan yang berisi cemilan dan minuman. Pintu pun ditutup lagi dengan cara yang sama. Laras dan Diandra berdecak kagum. Tidak menyangka Calya memiliki bakat terpendam. Membuka pintu dengan kaki. “Biadab lo berdua, bukannya dibantu!” Keduanya malah terkekeh membuat Calya semakin kesal. “Larassss maskernya enggak rataaa,” rengek Diandra dengan bibir mengerucut saat melihat wajahnya didepan cermin. Dipipi kiri tebal, dipipi kanan tipis sekali. “

