2002..... Edna memandang selang infus yang terpasang di tangan kanannya, lalu mengalihkan perhatiannya ke jendela. Diluar tampak sejuk, angin semilir masuk ke kamarnya. Tapi Edna merasa tubuhnya dingin. Matanya kosong tak b*******h, ia mati rasa. “Kamu masih di dalam sana kan nak? hah? jawab bunda” gadis itu meraba-raba sekeliling perutnya, berharap menemukan sebuah tonjolan ataupun gerakan yang menandakan ada satu makhluk hidup lain diruangan ini yang bernafas selain dirinya. Tapi tidak ada, Edna tak menemukannya. “Kenapa ninggalin bunda sendiri, apa Echo ga sayang sama bunda? Kita kan sudah janji bakalan terus sama-sama, nanti kalau Echo udah gede, kita cari ayah.” Air mata mulai turun satu-persatu membasahi tangannya. Ia tak berharap banyak sejak tahu kalau ia tengah mengandung anak

