Bab 23

2086 Kata

Bab 23 Entah ini sore ke berapa kali, aku masih setia duduk di bawah pohon jambu air yang berbuah lebat belakang rumah. Sebagian dahannya menjuntai di atas pengairan persawahan. Aku mengibaratkan diri ini buah yang jatuh ke air itu. Terbawa arus, berbaur dengan buih, terbentur di bebatuan, dan tak tahu di mana akan tersangkut. Mungkin saja buah itu kan membusuk hingga habis tak tersisa. Atau akan ada seorang yang kebetulan lewat, dan menjadikan pelepas dahaga. Andai ada pilihan, aku ingin buah itu tetap di pohon saja. Tanpa melalui proses ranum, masak, jatuh, lalu tak bersisa sama sekali. Harapan yang sangat mustahil. Ah, rasanya malu sekali hati ini. Mengharap pada sesuatu yang tak mungkin terjadi. Sehari setelah Reta dan Mas Gading bertolak pulang. Dan jatuhnya bapak dari tangga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN