Bab 22 Keesokan hari, setelah acara Rina. Aku, Reta, dan Mas Gading berencana ke Pare-pare. Kami sudah susun rencana akan berangkat sore. Agar bisa melihat, semburat cahaya merah di balik pulau kecil, yang berdiri di tengah laut pantai Senggol. Sungguh indah momen itu, apalagi sambil makan ubi goreng ditemani sarebba—minuman khas Bugis, yang berbahan jahe, gula merah, santan, dan s**u—maka hidup terasa nikmat. Kenapa hatiku terasa ngilu mengingat kota kenangan itu? Mungkinkah karena pernah hampir dua bulan, hanya berputar-putar saja tanpa tujuan membuat lukaku terkuak? Ah, Mas Rio ... mengingat betapa tersesatnya aku atas perlakuanmu dulu, selalu menciptakan perih di hati. Meski diri ini mencoba menerima segala maafmu sekarang. Tak memungkiri, selalu sesak mengingat masa-masa indahmu

