Bab 29 “Apa yang telah kamu lakukan, Ta!” kataku mendekat. Gadis ayu itu mengarahkan pandangan ke langit-langit kamar, seakan menghitung berapa paku yang menempel di tripleks atasnya. Dua hari dia terbaring lemah. Dan tak ingin dirawat di rumah sakit. Hampir empat tahun kami bersama, paling flu, kelelahan, demam, atau luka lecet, yang menghampiri. Ini? Pertama kali melihatnya sakit parah, karena galau lagi. Rasanya tak percaya. Gadis tangguh, tegas, cuek, dan ceria, terbaring lemah akibat sebuah penantian. Ajaibnya, penantian yang tak pernah terungkap. Tidakkah itu termasuk kesia-siaan yang hakiki? Ya, semua orang pernah berada di fase terpuruk. Tak terkecuali aku. Hanya beda cerita saja. Cuma, ada sesal di hati, bila sahabatku itu, jatuh akibat perjuangan yang belum dimulai. Ibarat

