Bab 31 Ponsel yang digenggam Reta tiba-tiba terjatuh, matanya membola ke arahku dengan tatap tajam, cepat aku menunduk menyadari situasi yang tak kondusif. “Ayo kita bicara baik-baik, Ta!” kataku saat dia mengangkat tubuh lalu berkemas cepat. “Memang aku telah menerimanya, Ta. Tapi hari itu juga, aku membatalkannya,” jelasku mengikuti terus langkahnya. “Oh, ya? Aku harus percaya? Demi dia kamu berbohong, gitu?” Dia mendorong motornya keluar pagar. “Demi Allah, Ta. Aku tidak—“ “Cukup! Jangan bawa nama Allah, Bulan!” Anak itu memotong kalimatku sambil mengangkat tangan, lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Kaki seperti tak menginjak bumi, tubuhku seakan berada di dimensi lain, dikelilingi hamparan yang luas. Beginikah rasanya tak dipercayai? “Kamu baik-baik saja kan, Say

