Bab 8

1134 Kata

Bab 8 Entah jam berapa baru bisa memejamkan mata. Sakit hati, benci, dendam, penyesalan, bersatu padu menggerogoti pikiranku. Sayup kumandang azan subuh membangunkan dari mimpi buruk sejenak. Masih sempat melihat bercak darah semalam di seprai sebelum mandi lagi serta mengambil air wudu. Kali ini aku merasa benar-benar melakukan sujud panjang. Mengadukan keluh kesah, kebodohan, dan permohonan di atas sajadah. Setelah merasa cukup mengaji, aku menaruh Al-Quran. Lalu melipat mukena dan sajadah. “Sudah salatnya?” Lelaki semalam yang telah mengambil haknya itu, tiba-tiba muncul. Entah bagaimana caranya dia membuka pintu, padahal sudah kukunci rapat. Aku pura-pura tak melihat dan terus melanjutkan kegiatan melipatku. “Jangan marah begitu, dong. Seharusnya kamu bangga mempersembahkan ses

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN