Bab 10 Di keremangan sorot lampu, aku melihat lelaki itu meletakkan tubuh Reta dengan sangat hati-hati, kemudian menyelimutinya. Badanku bergetar memikirkan semua praduga di otak. Rasa sesal mulai menjalari pikiranku. “Kamu kunci saja pintunya, yang cadangan ini aku pegang.” Tangannya mengayun satu kunci, lalu kembali mengambil barang-barang kami di mobil kemudian memasukkan ke rumah. “Kenapa masih di situ?” tanyanya lagi saat dia beranjak keluar. Sontak aku kaget yang memang sedari tadi hanya berdiri di depan, terus mengawasi geraknya. Meski tak sepenuhnya lega, aku masuk dan mengunci rapat, lalu netra mengitari seluruh ruangan. Satu kamar berukuran sekitar empat kali empat, satu lagi berukuran agak kecil, dipenuhi sepatu cewek berbagai model dengan ukuran sama, kupastikan punya Ret

