Bab 11 “Kamu istirahat dulu, Lan. Toko biar aku urus. Jangan lupa makan yang banyak dan jaga kesehatan. Oh, ya, aku sudah masak tadi.” Reta sudah lengkap ketika muncul di kamar, gadis yang lebih tua sebulan dariku itu, mengusap kepalaku sebelum berlalu. Itu bentuk kasih persahabatan kami. Mataku hanya menatap kosong palfon kamar. Tak mengiyakan pun tak menyetujui. Aku menarik napas lalu menghembuskan napas secara kasar ketika suara motor Reta benar-benar hilang dari pendengaran. Hari ini terasa amat melelahkan, tubuh dan hatiku seakan hilang tenaga, memikirkan kehamilan yang tak kuharapkan. Subuh ini pun aku tak ke masjid, apalagi mengaji. Setelah salat sewajibnya, aku kembali membaringkan tubuh. Jangankan menyentuh makanan yang telah dimasak Reta, gairah hidup saja menguap. Jiwaku n

