Bab 13 Dua tahun setengah kini usia Azmi. Putraku itu berkembang lebih cepat. Dia sudah mahir berlari, komentar, protes, tanya sana-sini, bahkan tidak mau dipakaikan pakaian yang menurut dia tidak bagus. Intinya, mesti sesuai seleranya. Cuma satu kekurangannya menurutku. Semakin besar, wajah, gaya, dan semua perangkat tubuh Azmi lebih mirip ke Mas Rio, nyaris sama. Hanya kulitnya yang putih, mungkin mengikutiku. Atau jangan-jangan sifat ‘harus sesuai selera’ itu, juga bawaan dari ayahnya? Ya Rabi, entah bagaimana caraku melupakan lelaki penoreh luka itu, kalau jejaknya telah ditanam ke rahim ini dan sekarang telah tumbuh seperti hasil foto kopinya? Setiap mengingat kenangan pahit di memori otak, selalu membuat luka di hati seperti terupdate ulang. Arght! Aku benci label kelemahan dan

