Bab 18 “Jadi?” tanya pria egois itu mengambang dengan suara bergetar, tanpa mengalihkan pandangan dariku. Lebay! Dia pikir aku percaya. “Kelamaan! Buka pintunya!” Sentakku mulai jengah. Dia mengusap wajah kasar dan menekan tombol samping kanannya. Cepat aku keluar setelah bunyi klik, dan melangkah gesa ke depan mobil. Saat bersamaan, Andi pun tiba. Untung anak itu tepat. Kalau tidak, bisa saja aku jalan kaki sampai rumah bila ojek pun tak muncul. Begitulah saat emosi jiwa, kadang tenagaku lebih kuat dibanding sebelumnya. “Kenapa sih, Mbak. Marah terus sama Mas Rio? Padahal orangnya baik, kaya, ganteng lagi.” Eh, ternyata anak seumur jagung ini juga sudah dicuci otaknya sama pria egois itu. “Emang kamu dikasih apa? Bilang dia baik?” “Pulsa, Mbak! Hampir tiap bulan malah.” Selain d

