Bab 19 “Mau kah engkau memberiku maaf dan kita membina rumah tangga kembali?” ulang Mas Rio dengan posisi sama. Mulut dan tubuhku seakan kompak membeku menghadapi situasi yang tak pernah kubayangkan sepotong pun meski dalam khayalan. “B-Bulan belum bisa menjawabnya, Mas. Beri waktu memikirkannya,” jawabku gagap. Terdengar helaan panjang dari mereka yang menyaksikan termasuk Mas Rio. Kenapa hatiku tiba-tiba gamang? Perlakuannya yang ala-ala drama Korea, seakan memudarkan memoriku tentang kezolimannya. Tidak! Aku tak boleh lemah. Terlalu mudah memaafkannya andai kami berjodoh ulang, bahkan seluruh usaha romantis sang pencinta pun, dia atraksikan, belumlah sebanding luka yang dia sematkan. Ya, Rabi ... jangan butakan hamba dengan rasa yang sesaat. “Bulan ke depan dulu, Ma, Pa,” ujarku

