Bab 20 “Aku malu kalau perjodohan itu tak sampai ke pernikahan, Rio. Apa kata orang-orang nantinya? Di mana letak posisi kita sebagai manusia yang dipegang kata-katanya? Kalau tak mampu mewujudkan sebuah janji?” Entah ke berapa kali kalimat seperti itu, mama perdengarkan di telingaku. Hingga hari ini, asam lambungnya meningkat dan terbaring sakit di rumah. Bukan karena perjodohan itu saja yang tidak bisa masuk di akalku pada zaman modern dan digital ini. Selain karena sudah punya calon pendamping yang sempurna dan telah berjalan tiga tahun tak. Juga, gadis dipilihkan mama papa itu adalah sahabat dari kekasih belahan jiwaku. Alangkah tak berfungsinya otak ini, bila Marta yang cantik nan seksi, kutukar dengan ... namanya saja sangat norak. Bulan? Seperti nama-nama wanita zaman purba saja

