Gia yang kini sudah masuk SMA menjadi sosok yang introvert. Ia akan menghindari tempat-tempat ramai seperti kantin saat jam istirahat, Ia memilih duduk tenang sambil mendengar music dan membaca buku di perpustakaan sekolah. Hingga ia mendapat julukan dari teman-temannya si kutu buku, aktivitasnya ini mendapat perhatian dari seorang anak laki-laki seumurannya bernama Fauzan. Ia Fauzan sering menghampiri Gia diperpustakaan dan mengajaknya untuk berteman. Gia memilih untuk tidak mempedulikan ajakan pertemanan dari pria yang katanya popular di sekolah mereka itu. Bahkan banyak yang iri dengan Seorang Gia karena didekati oleh pria popular itu. Hingga Gia merasa risih dan lebih memilih untuk membaca buku di taman belakang sekolah yang memang jarang dikunjungi oleh siswa.
“Ternyata Kamu di sini, padahal udah Aku tunggu Lho di perpus” seru Fauzan dari arah belakang Gia.
“Sebenarnya Mau Kamu itu apa sih, gak bosen ya tiap hari ngikutin mulu” ucap Gia kesal sambil menutup bukunya kasar.
“Pertanyaan yang sama buat Kamu, gak bosen tiap hari jadi semakin cantik” puji Fauzan.
“Jangan suka bicara omong kosong ya Kamu” erang Gia.
“Aku gak bicara omong kosong kok, boleh Aku jadi teman Kamu” tanya Fauzan.
“Maaf Aku gak punya niat berteman sama anak populer seperti kamu” sanggah Gia.
“Jadi Kalau Aku gak populer Kamu mau berteman dengan Aku”tanya Fauzan.
“Enggak, Aku gak mau berteman dengan siapapun” ujar Gia ketus.
“Memangnya kenapa?” tanya Fauzan penasaran.
“Kamu gak malu Kalau deket sama orang kayak Aku, lagipula Aku malas deket sama orang Kayak Kamu” ujar Gia sambil hendak pergi dari tempat itu.
“Kenapa harus malu. Justru harusnya AKu yang tanya, Kamu takut ya kalau dekat Sama Aku? Takut apa, takut sama omongan orang-orang” tutur Fauzan agak menekan dan mengintimidasi Gia.
“Iya Aku takut sama omongan orang tentang AKu yang mencoba mendekati Fauzan si cowok populer di SMA ini, puas Kamu” ucap Gia sarkas di depan wajah Fauzan lalu pergi begitu saja.
“Aku gak akan menyerah untuk lebih dekat sama Kamu Gia” ujar Fauzan bermonolog sendiri.
Fauzan terus berusaha untuk lebih dekat lagi dengan Gia, Ia bahkan sering diledek oleh teman-temannya sebagai cowok bucin. Usahanya itu tidak sia-sia kini Gia sudah mulai menanggapi semua omongannya walaupun masih agak ketus. Keduanya semakin dekat saat keduanya didapuk sebagai utusan sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kota. Gia mendapat Juara 1 dan Fauzan mendapat Juara 2.
“Kenapa Kamu gak jawab pertanyaan terakhir tadi?”
Tanya Gia saat pulang bersama setelah lomba.
“Karena memang Aku gak tahu apa jawabannya” ujar Fauzan asal.
“Kamu sengaja kalah kan, mana mungkin seorang Fauzan sang juara umum di sekolah gak bisa jawab pertanyaan gampang kayak tadi” tutur Gia.
“Karena Kamu lebih berhak untuk menang Gi” jawab Fauzan.
“Nama Aku Gia, apa alasannya Kamu ngalah ? ngerasa kasihan ?” tanya Gia mulai marah.
“Ya karena Aku tahu Kamu sangat membutuhkan kemenangan ini” jawab Fauzan.
“Tahu apa Kamu tentang Aku, udah please mulai saat ini jangan pernah mau berteman, berurusan atau lebih dekat lagi dengan Aku” terang Gia.
“Alasannya apa?” tanya Fauzan.
“Kalau Kamu gak mau hidup Kamu sia-sia” ancam Gia lalu pergi begitu saja.
“Di dunia ini gak ada jaminan hidup mereka akan sia-sia jika ingin dekat dengan seseorang , kecuali orang itu sendiri yang merusaknya” teriak Fauzan
Setelah hari itu Gia mengalami demam dan batuk hingga membuatnya tidak sekolah selama beberapa hari. Saat ini Ia sedang menyantap makan siangnya bersama Sang Papa. Pak Maulana tidak ke kampus hari ini karena Sang Istri yang kebetulan ada acara penting begitulah ujarnya, namun pria itu tahu bahwa Sara istrinya itu hanya pergi arisan bersama teman-temannya saja. Selama putrinya itu sakit beberapa hari ini Sang Istri malah menyuruh Gia mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga dengan alasan bahwa jika sedang sakit justru harus dilawan tidak dimanja tiduran saja. Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi,Pak Maulana meminta Gia untuk melihat siapa yang datang. Gia yang masih sedikit pusing berjalan menuju ruang tengah untuk membuka pintu. Ia terkejut mendapati Fauzan sedang tersenyum padanya.
“Mau ngapain Kamu ke sini?” tanya Gia marah.
“Mau jenguk Kamu dan tadinya mau ajak ke Bank untuk buka rekening untuk ambil hadiah lomba kemarin” jawab Fauzan santai.
“Bukannya pihak sekolah yang urus ya” ujar Gia heran.
“Pihak sekolah hanya mengurus bagian adminnya aja, kalau urusan Bank ya kita urus sendiri dong” terang Fauzan.
“Siapa Nak?” seru Pak Maulana yang kebetulan lewat ruang tamu.
“Temen Pa” jawab Gia singkat.
“Siang Om” sapa Fauzan.
“Kamu ini gimana ada tamu bukannya di suruh masuk malah dibiarin di luar , Ayo masuk Nak” pinta Pak Maulana yang menghampiri keduanya.
Pada akhirnya Pak Maulana mengajak Fauzan untuk mengobrol segala macam hal. Selagi menunggu Gia bersiap, hampir 15 menit Gia sudah bersiap dan saat ketiganya akan pergi Ibu Sara pulang ke rumah.
“Pada mau kemana?” tanya Sara yang baru saja masuk ruang tamu melihat Suami dan Gia seperti hendak pergi.
“Mau Ke Bank bikin rekening sebagai syarat pengambilan hadiah perlombaan kemarin Ma” terang Gia.
“Iya tante” ujar Fauzan.
“Hadiah lomba, hadiah perlombaan yang kamu bilang waktu itu Mama kira Kamu bercanda ternyata Kamu beneran menang ya” ujar Bu Sara riang.
“Mama boleh ikut ya, kan nanti Kamu Mama soalnya untuk buat rekening bagi yang belum cukup 17 tahun butuh pihak dewasa” terang Bu Sara bersemengat.
“Makannya Papa ikut, udah Kamu sekarang tunggu Halan sama Adit pulang aja” pinta Pak Maulana tegas yang sudah tahu jalan pikiran istrinya itu.
“ Ayo Gia, Fauzan kita pergi sekarang” ajak Pak Maulana pada keduanya.
“ Hah padahal kalau sama Aku lumayan uangnya buat bayar uang arisan” oceh sara.
Ahmad memanggil istrinya, Gia tersentak mendengar panggilannya.
“Hayo ngelamun lagi ya,” ujar Ahmad pada istrinya itu.
“Enggak Mas, hanya lagi mengenang masa lalu pas Aku lagi SMA,”elak Gia.
“Ngelamunin Siapa, mantan kamu ya,” ledek Ahmad melirik foto yang dipegang istrinya itu.
“Bukan Mas, dia itu teman SMA aku,” terang Gia.
“Oh ya kapan-kapan kita nanti ketemuan ya sama dia,” ujar Ahmad.
“Gimana mau ketemuan Mas, sampai sekarang aku gak tahu dia kemana,”ucap Gia lesu.
Setelah sang istri pergi keluar kamar, Ahmad meraih foto yang dipegang istrinya tadi. Kemudian pria itu bergumam sendiri.
“Senyuman kamu ternyata begitu manis Gia, kapan ya aku bisa lihat senyuman manis ini,” gumam Ahmad.