Sudah Hampir 8 bulan kedekatan seorang Gia dengan Fauzan berlangsung namun 3 bulan menjelang ujian kenaikan kelas pria itu sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Sejak kepergian tanpa jejak seorang Fauzan, Dia Gia menjadi lebih sering menyendiri. Walaupun Ia masih tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala redaksi Mading sekolahnya. Tak jarang ia juga menyendiri dan duduk atau berada di tempat-tempat yang biasa Ia datangi bersama Fauzan Gia sudah menanyakan kabar pria itu pada semua teman sekelas bahkan hingga wali kelas dan pada teman wanita yang bisa dikatakan dekat dengannya.
Setelah pulang sekolah, Gia segera memburu langkahnya menuju alamat yang ia dapat dari teman wanita Fauzan itu. kini dirinya berada di sebuah komplek perumahan berkali-kali ia membaca kertas yang dibawanya sambil memperhatikan no rumah yang ada di sana. Begitu Ia menemukan no rumah yang sesuai dengan alamat pada kertas. Dirinya ragu untuk menekan bel rumah yang berwarna coklat itu. akhirnya ia memberanikan diri memencet bel rumah itu, sekali, dua kali tidak ada respon dari orang yang tinggal di rumah itu. Saat hendal menekan bel lagi ada seseorang yang menghampirinya dan mengatakan bahwa orang yang tinggal di rumah itu sudah pindah 3 bulan yang lalu.
“Kira-kira bapak tahu kemana mereka pindah?” tanya Gia pada orang itu.
“Kalau itu Saya juga kurang tahu, tapi kayaknya mereka kembali ke Medan kan keluarga pemilik rumah ini orang sana Dek” terang orang itu.
“Oh gitu ya Pak, makasih ya Pak informasinya” ucap Gia kemudian pergi dari rumah coklat itu.
Semenjak pulang sekolah hingga makan malam tadi Gia terlihat sangat murung dan tidak bernapsu makan. Pak Maulana yang merasa aneh langsung menghampiri putrinya itu di dalam kamarnya. Pak Maulana meminta izin Gia masuk kamar, sayup-sayup terdengar suara Gia yang agak serak mengizinkannya masuk.
“Ada apa Nak?” sapa Pak Maulana pada putrinya itu.
“Gak ada Pa, gak apa-apa kok” jawab Gia sambil mengelap pipinya.
“Jangan bohong Papa tahu kamu lagi sedih kenapa Nak?” tanya Pak Maulana lagi. “Apa ini ada hubungannya sama teman Kamu itu ? siapa namanya Fauzan ya?” tebak Pak Maulana.
“Iya Pa, udah 3 bulan ini dia gak ada hubungin Gia, jangankan ngehubungin batang hidungnya gak keliatan di sekolah” erang Gia yang mengundang senyum pada bibir Papanya.
“Jadi ceritanya anak gadis Papa ini lagi kesel atau lagi kangen” ledek Pak Maulana yang membuat Gia semakin memonyongkan bibirnya.
“Gia lagi kesel Pa” elak Gia.
“Sayang anak Papa yang cantik, kamu udah tanya pihak sekolah kemana perginya Fauzan (Gia menggeleng)” menyandarkan kepala Gia di pundaknya. “ Kamu gak perlu kesal dan marah mungkin Fauzan itu punya alasan tertentu yang mungkin menurutnya akan membebani Kamu, tapi percayalah pasti dia akan memberitahu Kamu semuanya nanti bagaimanapun caranya” tutur Pak Maulana berpuitis.
“Papa apaain sih sok puitis” ledek Gia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sang Papa
“Udah gak perlu nangis dan sedih lagi anggap aja ini ujian sekaligus sebuah pengingat bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah titipan dari Allah dan akan diambil lagi tanpa pemberitahuan dan peringatan apapun” terang Pak Maulana bijak sambil mengusap-usap lembut pundak Gia.
Semenjak itu Gia fokus untuk belajar demi mendapatkan nilai yang sempurna. Sesuai janji Sang Mama, Gia diizinkan masuk kelas dengan jurusan Bahasa karena berhasil juara satu di kelas dan sekolahna. Ia merasa senang meski terkadang lagi-lagi teringat Fauzan laki-laki yang pergi begitu saja dan hingga kini belum ada kabar apapun. Naik kelas tiga sekarang Gia semakin giat untuk belajar demi masuk universitas dan jurusan yang sangat ia inginkan. Giatnya seorang Gia akan belajar membuatnya kurang begitu peduli dengan orang-orang disekitarnya. Gia kembali pada sikapnya yang dulu bahkan mungkin bisa dikatakan orang yang sangat introvert. Sepertinya kepergian Fauzan tanpa kabar sudah membuatnya sakit hati dan menjadi membuatnya menjadi tidak ingin berteman bahkan mungkin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Tidak terasa sebentar lagi Gia akan mengikuti ujian akhir sekolah dan ujian masuk perguruan tinggi. Seperti biasa Sang Mama memberikan syarat untuknya agar meraih nilai ujian akhir tertinggi baru akan mengizinkan Gia mendaftar di jurusan yang dia inginkan.
Saat makan malam dimana Gia mengutarakan keinginannya masuk universitas dengan jurusan bahasa yang ia inginkan.
“Masih aja pengen kuliah di jurusan itu mau jadi apa kamu nanti” ujar Mama Sara sarkas pada Gia.
“Dia bisa jadi apapun Ma, sekarang mencari pekerjaan itu tidak harus sesuai jurusan kuliah mungkin minimal kalau nanti dia ambil S2 bisa jadi dosen” bela Pak Maulana untuk Gia.
“Dosen, dosen itu penghasilannya tidak menjanjikan Mas” ujar Mama Sara tajam sambil melirik sinis suaminya.
“Apa Kamu bilang tidak menjanjikan, kamu pikir kita makan darimana kalau bukan dari gaji aku, biaya kehidupan, sekolah anak-anak selama ini, sampai biaya arisan, make up dan kebutuhan yang tidak penting kamu pikir itu semua dari mana sumbangan” erang Pak Maulana yang tersinggung akan ucapan istrinya itu.
“Papa kan gak ngeluarin biaya untuk kuliah Halan dia dapat beasiswa sementara uang sekolah Adit mama dapat dari menang arisan sama teman-teman Mama” ujar Mama Sara gak mau kalah.
“Iya tapi uang masuk kuliah siapa yang bayar, sampai-sampai Papa harus menjual tanah peninggalan kakeknya anak-anak dan beruntung masih bisa Papa beli lagi, uang arisan kamu itu sumbernya dari mana kalau bukan dari gaji yang aku kasih ke kamu tiap bulannya hah” Pak Maulana semakin marah karena Sang Istri malah semakin merendahkannya.
“ Ya udah terserah aja, tapi jangan harap kamu akan mama biayai kuliahnya” ancam Sara pada putrinya itu. mendengar Mamanya yang berucap seperti itu membuat Gia sedih dan menangis tak karuan. Hatinya merasa bersalah sebab pertengkaran kedua orang tuanya adalah karena dirinya yang keras kepala.
“Kalau Mama gak setuju baiknya Gia” omongannya langsung dipotong oleh Sang Papa.
“Enggak Sayang, Kamu gak boleh nyerah gitu aja, Papa akan pastikan Kamu juga akan Papa biayai tenang ya Nak” ujar Maulana pada Putrinya itu. sementara Gia masih menangis sesenggukan dan masih berpikir tentang alasan Mamanya itu begitu tidak menyukai dirinya.
Maulana yang baru saja pulang kantor mendapati Gia sedang termenung di teras rumah. Ia langsung duduk di samping putrinya itu.
“Kenapa Nak kok duduk termenung di luar, Yumi sama siapa,?” sapa Maulana.
“Yumi lagi sama Adit Pa,”jawab Gia lesu.
“Ada apa Nak, kena marah lagi ya sama mama?,”tanya Maulana.
“Pa Gia salah apa ya sama mama, kenapa mama bisa sampai seperti itu sama Gia,”tanya Gia lesu.
“Kamu gak salah, hanya mama kamu yang memang seperti itu,”ujar Maulana .
“Nak, jika suatu saat kamu sudah lelah kamu boleh menyerah ya,” tambah Maulana lagi.