Ahmad yang baru saja sampai tersenyum melihat keakraban istri dan sang Papa. Ia mengucap salam, sementara Gia langsung beranjak dengan cepat menghapus air matanya dan menjawab salam. Gia langsung meraih tangan dan menyalaminya, ia Ahmad hanya diam saat sepintas melihat mata istrinya itu sembab dan hidungnya yang merah. Gia segera masuk rumah dengan dalih ingin mengambil putri mereka yang sedang dijaga Adit. Ahmad segera mengikuti istrinya itu tapi langkahnya terhenti saat Papa Mertua menahannya dan berujar.
“Nak, jika kamu sudah berkecukupan bisa kan kamu bawa Gia pergi dari rumah ini agar dia bisa bahagia!,” ujar Maulana bergetar.
“Kenapa memangnya Pa?,” tanya Ahmad bingung.
“Karena jujur saja Papa sudah tidak sanggup melihat Gia selalu diperlakukan seperti itu oleh mama-nya sendiri,” ujar Maulana lirih.
“ Papa juga bingung kenapa istri Papa itu begitu senang sekali memperlakukan Gia dengan buruk,” tambah Maulana lagi.
“Baik Pa, Papa doakan saja yang terbaik untuk kami,”ujar Ahmad.
Ahmad masuk ke kamarnya dan mendapati Gia lagi memberikan s**u pada putri mereka. Ahmad tersenyum menyapa istrinya
“Lagi apa sayang,”sapa Ahmad.
“Kamu ini Masih tanya udah jelas Aku lagi ngapain heran,”ujar Gia agak kesal.
“Kamu itu kalau lagi ngambek lucu mukanya manyun gitu tambah cantik tahu,”rayu Ahmad.
“Kamu kalau kayak gini pasti ada maunya,”tebak Gia.
“Iya aku mau itu,”ujar Ahmad menggerak-gerakan alisnya dengan senyuman nakal.
“Mas, kamu itu m***m ya tapi gak bisa ya maaf,” ujar Gia yang paham menangkap maksud suaminya itu.
“Kenapa memangnya?,” tanya Ahmad lesu.
“Aku ini masih dalam masa nifas dan sekarang juga udah magrib mendingan kamu itu mandi terus sholat” ujar Gia
Ahmad tersenyum melihat Gia kembali ceria. Lalu dengan berpura-pura kecewa ia berjalan menuju kamar mandi namun berbalik lagi dan berujar.
“Tapi kamu ingat gak waktu kita pertama bertemu kan kamu pas lagi,” ucapannya terpotong oleh Gia.
“Mas udah sana mandi” teriak Gia kemudian tersenyum dan mengingat kembali kejadian yang menurutnya agak memalukan itu.
Akhirnya dengan dukungan Sang Papa, Gia mendaftar di universitas Negri dan mengambil jurusan yang ia inginkan dan lulus . Melihat putrinya tidak mengindahkan keinginannya dia Sara semakin tidak peduli lagi bahkan Ia sudah secara terang-terangan pilih kasih terhadap anak-anaknya. Seperti saat ini disaat Gia sedang sibuk mempersiapkan atribut untuk masa orientasi mahasiswanya Sang Mama malah sering memintanya mengerjakan pekerjaan rumah seperti cuci piring yang sudah setumpuk, membersihkan kamar, menyapu rumah, mengelap kaca dan yang lain sebagainya. Hal ini tentu menguras energi Gia melihat Sang Kakak yang kelelahan akhirnya Adit sigap membantu membuatkan atribut Mahasiswa baru untuk kakaknya itu. Adit menemai Gia hingga larut malam, remaja laki-laki tersenyum saat melihat kakaknya itu yang terkantuk-kantuk. Adit menghampiri Gia sambil bergumam ringan.
“Makasih Kak, udah jadi Kakak yang terbaik untuk Adit” ucap Adit tersenyum.
“Kenapa Dit, ada apa?” tanya Gia masih setengah tidur.
“Bangun Kakak atributnya udah siap nih dan ini juga dah malam Kak, kalau mau tidur jangan di sini dingin Kak” ujar Adit lembut.
“Oh, udah selesai ya” ujar Gia sambil memeriksa semua atributnya itu kemudian Ia tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Adiknya itu dan langsung belari ke kamar.
Keesokan Paginya Gia bangun agak telat dari biasanya hingga membuat gadis itu begitu terburu-buru. Bahkan hingga melawatkan sarapannya, hal ini tentu membuat Pak Maulana khawatir dan meminta putra sulungnya untuk mengantar sarapan kepada adiknya saat ke kampus nanti sebab mereka kuliah di universitas yang sama.
“Papa ngapain minta Halan antar sarapan buat Gia, suruh siapa dia bangunnya telat tadi” larang Sara.
“Tapi Ma, Kak Gia itu telat bangun karena tadi malam begadang buat bikin atribut kuliah pertamanya hari ini” bela Adit.
“Ya paling nanti dia pusing atau pingsan, toh juga nanti di kasih makan kan sama panitia Ospek nya” ujar Sara tak peduli.
“Kamu benar-benar gak punya hati atau apa sih Ma, Gia itu anak Kamu lho. Kamu juga Halan malah diam aja, memang apa salahnya kamu antar bekal buat adek Kamu hah, malu Kamu” erang Pak Maulana.
“Pa, Fakultas Kedokteran itu jauh dari Fakultas Sastra kalau misalnya Halan harus nganter bekal Gia dulu nanti Dia bisa telat masuk kuliah lagian kenapa gak kamu aja yang antar Kamu kan satu Fakultas sama Dia, kenapa Malu” protes Sara. Maulana tak habis pikir akan sikap Istri dan Putra sulungnya itu, akhirnya Ia langsung mengambil kotak bekal itu dan membawanya ke Kampus.
Gia yang sedikit terlambat datang ke kampus harus menerima hukuman keliling lapangan bola sebanyak 5 kali bersama mahasiswa yang juga datang terlambat. Gia berlari begitu pelan karena perutnya yang tiba-tiba sakit, dipertengahan larinya ia merasakan pusing. Ia bergumam bahwa ini karena dirinya tidak sarapan . karena hal ini membuatnya selalu dimarahi oleh senior berkali-kali dan berkali-kali juga ia minta maaf. Hingga satu putaran lagi tiba-tiba pandangan Gia berubah gelap yang Ia dengar hanya seseorang berteriak. Gia tersadar dan melihat sekelilinya serba putih dan saat hendak bangun dari baringnya Ia melihat seseorang memakai almamater universitas tersenyum manis padanya.
“Syukurlah akhirnya Kamu sadar” sapa orang itu pada Gia.
“Saya dimana Kak?” tanya Gia yang menyapa mahasiswa itu Kak setelah melihat kokarde yang mengalung di leher mahasiswa itu.
“Di ruang kesehatan, tadi Kamu pingsan dan teman-teman saya yang bawa Kamu ke sini tadi petugas kesehatan bilang bahwa kamu itu dehidrasi, masuk angin, dan lagi dapet” ujar mahasiswa itu santai. Sadar akan ucapan pria itu yang terakhir, Gia terperanjat dan refleks melihat tempat tidur yang kini Ia tempati. “Kamu tenang aja, tempat tidurnya udah Saya kasih alas bentar lagi teman Saya juga datang” ucap pria itu mencoba menenangkan Gia tiba-tiba seseorang datang.
“Lo gila ya Mad, kalau Lo suruh Gue beli makan sama minum doang sih gak masalahnya Lo suruh Gue beli pembalut cewek sama celana dalam cewek apa kata orang nanti mereka pikir Gue m***m buat apaan sih” protes orang yang baru datang itu.
“Sorry , soalnya panitia cewek lagi sibuk urusin konsumsi gimana dapat kan” ujar pria yang dipanggil Mad oleh orang yang baru datang tadi.
“Dapet sih memang buat siapa sih?” tanya orang itu, temannya itu melirik pada Gia, lalu Dia mengekori melirik Gia juga. “ Oh, ya udah nih sekalian Gue balikin jaket Lo dan balikin almamater Gue” titah pria itu pada temannya dan kemudian pergi begitu saja. Pria itu menghampiri Gia sambil membawa bungkusan plastik.
“Ini sarapan dan minum buat Kamu, petugas kesehatan bilang tadi kamu itu dehidrasi makannya saya pikir Kamu pasti tadi enggak sarapan kan makannya pingsan, nah untuk yang ini (menunjuk bungkusan warna hitam) saya rasa kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bukan” Gia mengangguk. “ Untuk celana panjangnya pakai aja yang ada di plastik kuning itu oke” ujar pria itu lagi pada Gia.
“Makasih Kak” ucapannya terjeda
“Ahmad, panggil Ahmad ya” jawab pria itu lagi.
“Iya Kak Ahmad” ucap Gia dan menyunggingkan senyuman saat pria itu sudah pergi.
Pak Maulana sedang sibuk di ruangannya tiba-tiba terdengar mahasiswa yang merupakan petugas kesehatan yang memeriksa Gia lewat di depan ruangannya. Mendengar bahwa ada mahasiswa baru yang datang terlambat pingsan Pak Maulana langsung mencegat kedua mahasiswa itu dan bertanya secara keras pada mereka. Kedua Mahasiswa itu ketakutan karena mengenal bagaimana sosok Pak Maulana yang tegas dan pemarah ditambah melihat wajah Pak Maulana yang mengintimidasi. Kedua mahasiswa itu tergagap walaupun akhirnya berhasil mengucapkan beberapa kata. Setelah Pak Maulana pergi kedua mahasiswa itu bernapas lega namun tiba-tiba berubah tegang lagi saat Pak Maulana menghampiri mereka lagi padahal hanya untuk mengucapkan terima kasih. Setelah itu Pak Maulana langsung berjalan cepat menuju ruangan kesehatan. Saat sudah sampai di ruangan kesehatan Ia melihat Gia sedang makan.
“Nak, Kamu gak apa-apa kan?” Sapa Pak Maulana pada putrinya itu. Gia sedikit kaget saat Papanya sudah berada di hadapannya kini.
“Papa, Papa mau apa ke sini?” tanya Gia agak takut.
“Papa denger katanya tadi Kamu pingsan benar itu Nak?” tanya Pak Maulana khawatir.
“Kata senior Gia tadi pingsan, tapi sekarang udah gak apa-apa kok Pa” terang Gia tenang agar Papanya itu tidak khawatir. “ Kok Papa gak jawab pertanyaan Gia mau apa Papa ke sini?” tanya Gia lagi.
“Papa khawatir Sama Kamu Nak, sekalian mau antar sarapan Kamu, tapi kayaknya Papa telat ya ( melirik bungkus makanan di meja dekat tempat tidur)” ujar Pak Maulana kecewa.
“Bekalnya buat makan Gia nanti siang aja ya Pa, sekarang Papa udah lihat Gia dan gak kenapa-napa jadi baiknya Papa ke kantor Papa, Gia gak mau temen-temen Papa sama temen-temen Gia tahu kalau ternyata Papa itu Papanya Gia” ujar Gia panjang lebar.
“Kenapa harus takut kalau mereka tahu, kan memang benar Kamu ini anak Papa” protes Pak Maulana.
“Iya Pa tapi” Pak Maulana langsung memotong omongan putrinya itu.
“Iya supaya gak ada omongan kalau kamu itu bisa masuk universitas sini karena pakai orang dalam dan supaya gak merusak nama baik Papa juga kan”sambung Pak Maulana.
“ Iya Papa paham, tapi kalau mahasiswa senior kamu itu macam-macam kamu langsung harus beritahu Papa ya”
ujar Pak Maulana pada Putrinya posesif.
“Iya Pa” jawab Gia nurut.