Gia yang sudah merasa kuat akhirnya memutuskan untuk kembali mengikuti kegiatan mahasiswa baru. Kali ini dihadapan dekan, wakil dekan, para dosen dan pegawai fakultas semua mahasiswa baru diminta untuk menampilkan bakat mereka. Ada mahasiswa yang bisa bernyanyi, dance, berceramah, nasyid dan yang lainnya. Gia menampilkan bakatnya berpuisi dan mendapatkan tanggapan positif dari semua yang ada. Saat makan siang Gia lebih memilih menyendiri dan tidak berbaur dengan yang lainnya, tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya.
“Di sini kosong? Boleh gabung ya” tanya nya pada Gia.
“Iya boleh silahkan” ujar Gia mempersilahkan.
“Makasih ya” ujarnya lagi. “Oh iya kenalin Aku Naya” tambahnya lagi sambil mengulurkan tangannya pada Gia.
“Gia” jawab singkat sambil menyambut uluran tangan.
“Aku juga gabung ya “ sahut seseorang dari arah belakang keduanya. “Kenalin Aku Aleya” tambah orang itu pada keduanya. Mereka bertiga akhirnya makan siang bersama sementara Gia yang masih merasa takut untuk berteman memilih diam dan tak menanggapi obrolan keduanya.
Semenjak kemarin siang Gia, Naya dan Aleya selalu bersama. Hari ini adalah hari terakhir bagi mahasiswa baru menjalani masa orientasi dan fakultas mengumumkan kelas belajar mereka serta mata kuliah yang akan mereka pelajari selama satu semester ke depan. Gia mencari namanya di papan pengumuman, setelah mengetahui dirinya ada di kelas belajar apa Ia langsung berusaha keluar kerumunan mahasiswa baru yang berdesa-desakan itu. Tubuhnya terjepit oleh mahasiswa yang berbadan agak besar darinya namun tiba-tiba ada yang menarik tangannya keluar dari kerumunan itu. orang itu terus menarik tangan dan membawanya duduk di bangku yang tak jauh dari papan pengumuman.
“Masih aja pakai yang kayak gitu,seneng banget liat orang berdesak-desakan kayak gitu, kalau pingsan anak orang gimana tuh apa mau tanggung jawab” oceh orang yang menarik Gia tadi, sambil memberi minuman pada Gia.
“Makasih Kak” jawab Gia gugup. “Oh Iya Kak, ini almamater yang waktu itu makasih Kak Sekali lagi” tambah Gai menyodorkan bungkusan hitam. Orang itu langsung mengambil bungkusan itu dan pergi begitu saja meninggalkan Gia. Kemudian Naya dan Aleya menghampiri Gadis yang hampir pingsan itu.
“Wah beruntung banget tadi Kamu ditolongin sama Kak Ahmad tadi” tutur Naya rada iri.
“Iya, Gak bisa sembarangan lho untuk dekat sama Kak Ahmad” tambah Aleya.
“Memangnya kenapa?” tanya Gia bingung.
“Secara ini ya, Kak Ahmad itu populer banget tau di kalangan mahasiswa” terang Naya.
“Iya bener banget, dia udah baik, ganteng ramah, pinter lagi jadi pengen..” ucapan Aleya tergantung.
“Pengen apa, jangan mikir yang enggak-enggak Kamu” tuduh Naya.
“Apaan sih ya, gak mungkin lah maksudnya itu jadi pengen gitu punya pacar kayak Dia” tambah Aleya.
“Lagian kamu belum denger gosip ya” ujar Naya.
“Gosip apa?” tanya Gia.
“Katanya Kak Ahmad itu lagi deket sama mahasiswa baru di fakultas kita, terus yang Aku denger lagi gebetannya itu pingsan di hari pertama masa orientasi masa dia beliin celana panjang, pembalut karena katanya cewek itu lagi datang bulan plus nyuapin makan gitu” terang Naya.
“aaaa so sweet banget sih” ujar Aleya histeris. Sementara itu Gia yang mendengar cerita itu merasa bingung sebab apa yang diceritakan Naya hampir sama persis dengan apa yang dialaminya saat itu kecuali bagian yang disuapi itu.
“Kamu denger dari mana gosip itu Naya?” tanya Gia.
“Pastinya sumber gosip ini adalah orang terpercaya” ucap Naya bangga. “Oh iya ngomong-ngomong tadi apa sih yang Kamu kasih ke Kak Ahmad?” tanya Naya.
“Iya apa sih tadi yang kamu kasih Ke Kak Ahmad?” ujar Aleya penasaran.
“Itu, ah udahlah Aku mau kuliah dulu udah telat nih soalnya” ujar Gia gugup lalu pergi meninggalkan kedua temannya itu
“Eh Gia tunggu kita kan satu kelas, ah ini semua gara-gara kamu sih Nay” gerutu Aleya kesal.
“Enak aja main nyalahin orang, Kamu itu yang penasaran” ujar Naya tak kalah sengit karena tak terima disalahkan.
Gia sudah sampai di rumahnya hampir pukul delapan malam. Sang Mama menyambutnya dengan penuh amarah dan bertanya tanpa jeda padanya. Mama Sara memarahi putrinya itu yang menurutnya pulang terlambat tanpa memberitahu, sampai di rumah tidak sesuai aturan yang berlaku, dan akhirnya menghukum Gia tidak mendapatkan makan malam. Gia menanggapinya hanya dengan wajah datar dan menjawab seadanya seolah sudah biasa mendengar Sang Mama mengomel.
“Kamu ini berpikir terlalu kolot Ma, kalau katanya kamu ngomong tentang peraturan Papa sering banget lihat Halan pulang lebih malam dari ini tapi Kamu gak marah kenapa pas giliran Gia pulang telat kamu marah?” ujar Maulana sambil berjalan dari arah ruang makan ke ruang tamu pada Istrinya.
“Kenapa sih Pa Kamu selalu aja belain Dia, akhirnya karena sering dibelain nanti Dia ngelunjak dan ngebantah terus omongan Mama, lagipula Halan itu cowok kuliah di Fakultas kedokteran Pula jadi ya wajar Dia pulangnya malam terus karena pasti banyak praktiiknya, Gak kayak jurusan Kamu gak ada mata kuiah pratikumnya kan Pasti” ujar Sang Mama melecehkan jurusan pilihan putrinya itu.
“Ma, banyak enggaknya mata kuliah berpratikum tidak menentukan tingkat kesibukan seorang mahasiswa lagipula jurusannya Gia itu walaupun tidak ada mata kuliah berpraktik tapi kesempatan dia untuk berkarir lebih cepat banyak lho Ma” terang Pak Maulana tak mau kalah dari Sang Istri.
“Pokoknya malam ini Kamu gak ada makan malam, karena makanan udah Mama simpan dan gak ada yang boleh ambil secara diam-diam kalau gak mau jatah uang jajannya di kurangi sebulan” ancam Mama Sara sambil melirik Adit karena Ia tahu putra bungsunya itu yang paling sering membantu Gia.
“Ya udah sekalian aja Gia temanin Papa makan diluar aja kalau begitu, Yu Nak kita makan bakso di depan Gank sana” tutur Pak Maulana yang mengajak putrinya itu.
“Adit juga ikut Pa boleh Kan” seru Adit tiba-tiba.
“Ya udah terserah kalian aja” ujar Mama Sara kesal.
Akhirnya malam itu Pak Maulana bersama Gia dan Adit menyantap bakso malang yang kebetulan berada di depan Gank rumah mereka.
“Maaf ya Pa, gara-gara Gia Papa sama Mama tadi bertengkar lagi” ungkap Gia merasa tak enak hati.
“Gak apa-apa kok Nak, itu udah jadi hal yang biasa buat Papa lagian Mama Kamu sendiri yang pilih kasih Sama Kamu, lagipula Papa mana tega sih marahin Mama” tutur Maulana lembut pada putrinya itu.
“Nanti Kalau Adit punya pacar gak mau ah yang cerewetnya kayak Mama, mendingan yang pendiam kayak Kak Gia” ucap Adit sambil menyantap bakso nya.
“Tahu apa sih Kamu tentang wanita, masih bau kencur gitu” ledek Pak Maulana.
“Bau kencur apaan sih Pa, Adit itu udah kelas 1 SMA Pa”protes Adit tidak terima dikatakan bau kencur oleh Papa nya itu. Protesnya Adit mengundang gelak tawa pada Gia. Pak Maulana dan Adit terkejut mendengarnya sekaligus merasa sedikit terharu karena baru kali ini lagi Gia tertawa terbahak-bahak lagi seperti ini. Bapak dan Anak itu memandangi wajah Gia yang begitu sumringah.
“Makasih ya Dit” bisik Maulana pada putra bungsunya itu.
“Traktirannya jangan lupa Pa” sontak ucapan Adit ini membuat Pak Maulana bereaksi kesal sambil memukul ringan kepala putra bungsunya itu.