BOLEH DUDUK DISINI?

1179 Kata
Tidak terasa Gia sudah menjalani hampir satu semester dan hari ini merupakan hari terakhir ujian akhir semester. Ia makin dekat dengan Naya dan Aleya dengan terus berharap keduanya tidak akan meninggalkan atau memanfaatkannya. Saat menuju kantin untuk makan siang Ia berjalan melewati papan pengumuman dan tertarik dengan sebuah pamphlet dari badan eksekutif mahasiswa yang dimana tertulis ada pelarihan kepemimpinan tingkat dasar bagi mahasiswa baru atau yang mau mendaftar sebagai pengurus badan eksekutif mahasiswa selanjutnya. Gia membaca pengumuman itu dengan seksama dan tanpa Ia sadari sudah ada seseorang yang ikut membacanya. “Kamu mau ikutan?” tanya orang itu pada Gia. “Oh Kak Ahmad, sejak kapan di sini?” tanya Gia agak kaget. “Barusan, gimana mau ikutan?” tanya Ahmad lagi. “Emang boleh Kak mahasiswa baru kayak Saya ikutan?” tanya Gia. “Ya bolehlah coba kamu lihat syaratnya tuh” jawab Ahmad sambil menunjuk pamphlet tersebut. “Iya boleh ternyata” ujar Gia setelah membaca kembali pamphlet itu. “Gia tadi katanya mau makan yu” ajak Naya tiba-tiba yang baru saja datang “Iya yu” ujar Aleya membeo yang datang bareng Naya. “ Halo Kak Ahmad” sapa Aleya . “Halo, oh iya kalian mau ikutan gak?” tanya Ahmad pada ketiga juniornya. “Ikutan apa Kak?” tanya Aleya. Ahmad menunjuk Pamflet pada papan pengumuman, kemudian Aleya dan Naya melihatnya. “Oh pelatihan kepemimpinan dasar, kayaknya seru ikutan yu Gi, Le” ajak Naya. “Aku bakalan ikut kalau Gia juga ikut” tutur Aleya. “Dasar, Kamu gimana Gi?” tanya Naya. “Pengen ikutan sih, tapi mau tanya Papa sama Mama dulu” ujar Gia. “Ya udah, kita daftar dulu aja yu ini daftar nya di kantor BEM kan Kak?” tanya Naya. “Iya, tapi kayaknya di sana lagi gak ada orang”ujar Ahmad. “Gini aja gimana kalau kalian daftarnya sama Kakak aja kalian Cuma perlu tinggalin nama, Nim dan no handphone nanti Kakak yang kasih ke panitia deh” Ahmad menyarankan. “Oh gitu ya udah deh, bentar ya Kak kita catat dulu” ujar Naya. Naya kemudian mengeluarkan buku catatannya dan merobek kertas. Ia membuat sesuai dengan format yang diminta Kak Ahmad tadi. Aleya juga ikutan mengisi kertas dari Naya tadi dan terkahir Gia, walaupun ragu tapi akhirnya ia memberikan identitas dirinya. Setelah selesai mencatat kemudian Naya memberikan kertas itu pada Ahmad. “Ini Kak” ucap Naya sambil memberikan kertas itu pada Ahmad. “Oke, udah dulu ya nanti Saya kasih ke Panitia” ucap Ahmad. Malam harinya di kediaman Maulana, keluarga Dosen fakultas Sastra itu sedang makan malam seperti biasa. Setelah selesai makan malam Gia memberanikan diri meminta izin pada kedua orang tuanya untuk mengikuti acara Pelatihan kepemipinan yang dilaksanakan badan eksekutif mahasiswa fakultasnya. Maulana begitu mendukung permintaan Putri sau-satunya itu, sementara Sara hanya bisa bergumam meremehkan putrinya. “Acara apaan itu, gak guna banget paling nanti ujungnya main-main doang” ucap Sara pada Gia “Sudah ikuti saja keinginan anak mu ini, kan ini juga pertama kalinya Dia ikut acara seperti ini dan ini juga akan menambah pengalamannya” ujar Maulana pelan karena tidak mau beradu argumen dengan Istrinya kali ini. “Ya udah terserah tapi jangan harap Mama mau bayarin biaya pendaftarannya paham” ujar Sara tegas. “Mau Kamu itu apa sih Ma, kemarin Kamu udah potong uang Jajan Gia dengan alasan pulang telat, sekarang Kamu gak mau bayarin uang kegiatan Dia. Kalau mau mendisplinkan gak kayak gini caranya dong” protes Maulana pada Istrinya itu. “Udah deh Pa, gak perlu protes lagian Kamu juga bakalan kasih uang buat Dia iya Kan” ujar Sara tak mau kalah. “Asal Kamu tahu Sara anak kamu ini tidak pernah sedikitpun menerima uang yang aku kasih secara diam-diam ke Dia, Dia selalu bilang dan bertanya apakah Mama tahu tentang aku yang kasih uang itu padanya, Dia menerima hukuman dari Kamu dengan ikhlas sementara Kamu malah memanfaatkannya untuk keuntungan Kamu iya kan” ujar Maulana mulai meninggikan nada suaranya. “Udah Ma, Pa gak perlu marah-marah nanti biar Gia pakai uang jajan sendiri aja” Gia mencoba menengahi . “Berikan Uang itu sekarang! Kalau tidak Kamu akan rasakan akibatnya Sara” ancam Maulana. Lalu dengan perasaan kesal Sara mengambil dompetnya dan melemparkan beberapa lembar uang lima puluh ribu hingga mengenai wajaH Gia. Maulana semakin geram melihat tingkah istrinya itu namun Gia langsung menahannya. Putrinya itu mengembalikan uang tadi dan berujar bahwa uang jajannya cukup untuk membayar biaya pendaftaran kegiatan itu. Maulana hanya tersenyum memandangi putrinya yang menurutnya begitu baik, lalu berujar bahwa sebagai orang tua mempunyai kewajiban yaitu membiayai pendidikan anak, dan kegiatan ini adalah salah satu dari pendidikan jadi sudah menjadi tanggung jawabnya. Gia hanya diam dan beujar pada Papanya itu untuk segera meminta maaf pada Sang Mama. Maulana hanya memegangi kepala putrinya itu sambil bergumam dalam hati . “Terkadang Aku tidak percaya, anak ini lahir dari rahimmu Sara sebab Dia sama sekali tidak mirip denganmu” Gia yang sudah mendapatkan izin itu akhirnya begitu girang dan segera memberitahu kedua temannya via pesan singkat. Ia begitu bersemangat mengikuti kegiatan pertamanya di masa kuliah. Tibalah saatnya untuk pergi, walaupun sang Mama masih merasa kesal. Kini Gia, dan peserta yang lain berada di lapangan tempat untuk berkumpul sebelum pergi ke lokasi kegiatan. Bus juga sudah menunggu untuk mengantar mereka, Naya dan Aleya memilih duduk bersama sementara Gia duduk sendiri dengan bangku yang belum ditempati. Tiba-tiba Ahmad datang dan langsung duduk di sana. “Bangku ini belum ada orang kan?” tanya Ahmad pada Gia. “Belum kak” jawab Gia kaget. “Oke berarti Saya boleh duduk di sini ya?” tanya Ahmad lagi. “Boleh Kak” jawab Gia tergagap. Kedekatan keduanya dipandang heran oleh mahasiswa yang ikut dengan rombongan keduanya. Naya dan Aleya hanya tersenyum. Selama perjalanan Gia dan Ahmad hanya berbincang sebentar karena keduanya merasa mengantuk. Tanpa keduanya sadari mereka tertidur dengan posisi layaknya sepasang kekasih dimana kepala Gia berada di pundak Ahmad dan kepala Ahmad sedikit bersandar ke kepala Gia. Tangan Gia pun menggandeng lengan Ahmad. Para mahasiswa yang ada di sana sibuk memotret keduanya termasuk Naya dan Aleya. Saat sudah sampai di tempat tujuan keduanya dibangunkan oleh yang lain. Ahmad dan Gia terkesiap dengan posisi mereka, Gia langsung meminta maaf begitu juga dengan Ahmad. “Jangan saling minta maaf Kak, yang perlu kalian berdua khawatirkan gosip yang nanti bakalan tersebar” ujar Naya “Gosip, gosip apa?” tanya Gia dan Ahmad bersamaan merasa bingung. “Gosip ya tentang kalian berdua yang udah tidur bareng” ujar Aleya sambil memperlihatkan foto yang Ia ambil tadi saat sahabat dan seniornya tidur. “Manisnya” ujar Aleya. Gia dan Ahmad terkejut melihat itu, Gia merasa malu sebab bisa-bisanya Ia tidur di pundak seniornya itu bahkan sambil menggandeng lengannya. “Maaf Kak, saya gak bermaksud seperti itu, soalnya udah jadi kebiasaan Saya kalau tidur memang harus memeluk sesuatu, maaf Kak” ucap Gia merasa tidak enak hati. “Ahmad, dan Kamu (menunjuk Gia) ikut saya coach memanggil kalian berdua” pinta Danu mahasiswa senior satu angkatan dengan Ahmad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN