Gia Salah Lagi Ya ?

1058 Kata
Keduanya kini sedang di sidang oleh para pelatih dan dosen pendamping yang bertugas sebagai penanggung jawab acara pelatihan kepemimpinan itu. Gia hanya bisa menunduk merasa takut, sementara Ahmad berdiri dengan tegak dan menegakan kepalanya. Salah satu coach berdiri di hadapan mereka, coach itu menatap tajam pada Ahmad kemudian beralih pada Gia yang menunduk.Coach kemudian berseru lantang pada Gia membuat gadis itu kaget dan gemetar. Ahmad membela Gia yang ketakutan itu kemudian Coach bertanya lagi pada keduanya apakah mereka siap untuk diberikan hukuman. Tiba-tiba semua panitia menyanyikan lagu ulang tahun sambil membawa cake coklat yang sudah dihiasi lilin. Salah satu panitia bersorak selamat ulang tahun Gia dan Ahmad. Kedua orang yang sedang dihukum itu merasa bingung sementara coach mengucapkan selamat. Wajah tegang dari keduanya perlahan memudar berubah menjadi riang namun Gia menangis terharu dan berujar bahwa ini adalah pertama kali bagi nya ulang tahun dirayakan. Semua orang di sana ikut memeluknya erat. Keesokan harinya latihan kepemimpinan pun dimulai, mahasiswa angkatan Gia dibagi dalam beberapa kelompok yang diketuai oleh dua orang mahasiswa senior. Gia, Aleya dan Naya berada di grup yang berbeda. Gia diketuai oleh Ahmad, sementara Aleya diketuai oleh Danu, Naya diketuai oleh rekan Ahmad yang lain. coach menjelaskan bahwa permainan ini tentang sebuah kerja sama, permainan ini merupakan kombinasi antara kecepatan, kekuatan dan kerja sama, coach menjelaskan bahwa setiap tim harus mengutus anggota sebanyak 8 orang termasuk ketua tim. Setelah beberapa menit tim diberi waktu untuk menentukan anggota yang akan bermain, coach memanggil setiap perwakilan yang diutus. Coach menipu peluit pertanda permainan dimulai, semua orang bersorak nama tim mereka masing-masing. Tim Ahmad dan Tim Danu berada di perlombaan terakhir Ahmad yang memilih Gia sebagai partner berlari berdua mendahului Danu dan Aleya. Ahmad dan Gia tinggal melewati rintangan terakhir namun saat Gia melihat Danu yang hanya berlari sendiri dan sepintas melihat Aleya yang sudah tampak lelah berlari mengejar Danu langsung berlari menyusul sahabatnya itu. Ahmad yang melihat kejadian itu langsung membantu Gia memapah Aleya. Ketiganya melewati rintangan yang terakhir bersamaan. Situasi ini membuat ketiga tim canggung walaupun Danu sudah bersorak tapi kembali diam saat menatap timnya yang sepertinya merasa kesal. Sementara Gia yang merasa bersalah karena sudah membuat timnya kalah. Ahmad dan teman-teman yang lain mencoba menghibur gadis itu, Ahmad berujar dengan bijak. “Udah gak perlu merasa bersalah seperti itu, tindakan Kamu tadi itu udah tepat kok dalam perlombaan pun yang diutamakan tetaplah rasa kemanusiaan” “Iya, Kak Ahmad benar tindakan Kamu itu udah tepat banget Gia jadi gak usah sedih dan merasa bersalah ya” ucap temannya yang lain. “Makasih ya, makasih Kak” ucap Gia mulai tenang. Tiba-tiba coach berteriak memanggil seluruh tim, setelah tim berkumpul Coach mengucapkan selamat pada Danu karena berhasil membawa bendera kemenangan. Tiba-tiba coach menjeda omongan sejenak dan mengumumkan bahwa yang menjadi pemenang adalah tim Ahmad karena tim itu berhasil menerapkan segala amalan dan pelajaran yang sudah diajarkan secara teori tentang makna sebuah kemenangan, kerja sama, menghargai dan kebijaksanaan. Tentu hal ini membuat Danu memprotes keras dan tidak terima akan hasil keputusan dari para coach. “Bagaimana bisa Tim Ahmad menjadi pemenangnya Coach ? sementara Tim Saya yang duluan mengambil benderanya” “Dari awal sudah Saya jelaskan bahwa permainan ini bukan hanya tentang kemenangan saja tapi kerja sama, Kamu memang orang pertama yang menyentuh dan mengambil benderanya tapi di sisi lain Kamu meninggalkan partnermu jauh ketinggalan dan bahkan tim lain yang menolong partner kamu itu, hal inimembuktikan bahwa Kamu hanya mementingkan sebuah kemenangan tanpa memikirkan lingkungan sekitarmu bahkan partnermu sendiri” jelas Coach itu panjang lebar. Danu merasa kesal dan melempar bendera kemenangan itu pada Ahmad dengan kasar dan pergi begitu saja. Setelah Danu pergi kemudian semua orang bersorak gembira dan mengelukan nama Ahmad dan Gia. Semenjak itu Ahmad dan Gia menjadi semakin dekat tak jarang teman keduanya menjuluki mereka sebagai pasangan. Kedekatan itu berlangsung hingga keduanya lulus menjadi sarjana, dimana Ahmad lulus tepat waktu sementara Gia menjadi lulusan terbaik alias cumlaude dengan masa studi 3 tahun 7 bulan. Keduanya bahkan sempat mengambil kelas yang sama dalam suatu mata kuliah pilihan. Ahmad awalnya terkejut saat melihat Gia masuk kelas itu sebab mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah pilihan yang diambil untuk angkatannya. Gia merasa canggung sebab belajar bersama kakak kelas, namun saat melihat ada Ahmad Ia menjadi lebih bersemangat. Saat ini baru saja selesai acara wisuda,keduanya dihampiri oleh rekan dan teman sejawat mereka. Aleya dan Naya membawa boquet bunga. “Udah lulus aja Kamu Gia cepet banget rasanya” ledek Naya. “Kenapa? Kebelet ya pengen jadi yang halal untuk Kakak Senior tercinta” Aleya menambahkan. “Kalian itu bisa gak ngomongnya jangan sembarangan gitu, nanti kalau kedengaran sama Kak Ahmad gimana” ucap Gia mencoba menghentikan kedua sahabatnya itu sambil sesekali melirik Ahmad yang sibuk berbicara dengan teman-temannya. Sementara Maulana dan Sang Istri sedang berada di ruang kerja sang Suami. Para dosen yang merupakan rekan sejawat Sang Suami bergantian datang memberikan selamat pada mereka berdua karena putri mereka berhasil menjadi sarjana dan meraih gelar cumlaude tak lupa juga mereka mengucapkan selamat putra sulung mereka sudah mendapakan gelar sarjana kedokterannya. Berbeda dengan Maulana yang tampak sumringah Sara Sang Istri mengkerutkan keningnya karena merasa kesal tidak bisa mendampingi putrnya itu. “Kamu kenapa sih Ma cemberut gitu tidak senang melihat anak kita lulus” tanya Maulana. “Gara-gara Gia Mama jadi tidak bisa mendampingi Halan kan” protes Sara kesal. “Ma, kamu ini kenapa? Kamu adalah ibu dari wisudawati yang berhasil meraih gelar cumlaude kamu tidak senang” tanya Maulana heran. “Enggak bukan itu, seharusnya hari ini itu menjadi momen bersejarah bagi Halan karena berhasil meraih gelar Sarjana kedokterannya, tapi jadi tidak spsesial gara-gara Gia, lagian kenapa sih Gia malah ikutan wisuda hari ini kan bisa aja nanti” ucap Sara lagi. “ Aku sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kamu Sara” Gia yang hendak menghampiri kedua orang tuanya langsung mengurungkan niatnya itu kala mendengar Papa dan Mamanya kembali berdebat dengan dirinya. Kemudian Ia berbalik namun tiba-tiba Adit langsung datang menghiburnya dengan memberikan setangkai bunga mawar. Adit mendengar perdebatan kedua orang tua mereka langsung menutup telinga Sang Kakak. “Omongan mereka baiknya gak usah di dengar Kak bikin sakit telinga soalnya” ucap Adit. “Kakak buat salah lagi ya?” tanya Gia Sendu. “Enggak Kak, Mama aja yang lebay” ucap Adit sambil masih dengan menutup telinga Kakaknya itu sambil tersenyum hangat. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN