GAGAL

1295 Kata
Tiga bulan setelah acara kelulusan, Gia akhirnya mendapatkan panggilan kerja pertamanya di sebuah radio terkenal dengan lowongan yang tersedia adalah menjadi seorang penyiar radio. Gia merasa senang dirinya dipanggil ulang untuk mengikuti wawancara. Saking senangnya Ia tidak bisa menutupi perasaanya itu dan mengumumkannya saat makan malam bersama dengan kedua orang tua serta kakak dan adiknya. “Baru wawancara bukan panggilan kerja” ucap Sara sinis. “Ma, bisa tidak sekali saja Kamu tidak mematahkan semangat anak Kamu” protes Maulana pada Istrinya itu. “Bukan mematahkan Pa, tapi mencoba memberitahu realitanya saja, bahwa wawancara pekerjaan itu belum tentu Dia dipanggil atau diterima kerja” jelas Sara cuek. “Iya tahu, tapi seharusnya Kamu sebagai ibu memberikan Doa dan positif vibe agar Anak Kamu itu menjadi tenang dalam menghadapi wawancara ini” ujar Maulana yang merasa tak habis pikir dengan pemikiran Istrinya itu itu. “Mama bukan seorang motivator handal Pa” jawab Sara santai. “Semoga Kamu diterima ya Nak” ucap Maulana menghibur putrinya itu. “Gimana sama Kamu Halan?” Sara mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aku dapat beasiswa untuk lanjut ambil gelar dokternya Ma, dari dosen Aku Ma” ucap Halan bangga. “Bagus banget Mama memang gak salah percaya Sama Kamu” ucap Sara bangga namun yang lainnya hanya diam. “ Mas, kamu gak bangga sama anak Kamu dia udah berhasil dapat beasiswa Lho” tanya Sara pada suaminya. “Iya selamat ya Nak, ayo lanjut makannya lagi” pinta Maulana. Keesokan paginya Gia bersiap menuju tempatnya untuk wawancara kerja. Ia pamit pada kedua orang tuanya, Maulana meminta Halan mengantar adiknya namun putra sulungnya itu menolak dengan dalih bahwa dirinya ada tugas dari dosen yang tidak bisa Ia tinggalkan. Sara membela Halan dan meminta putrinya itu untuk berangkat sendiri menggunakan angkutan umum. Pada akhirnya Maulana mengantar Gia. “Jangan kebiasaan Mas, manjaain anak nanti dia jadi terus tergantung sama orang lain” ujar Sara pada suaminya. “Maksud Kamu apa?” tanya Maulana pada Sang Istri. “Iya, nanti anak kesayangan Kamu itu jadi wanita yang lemah dan bergantung terus sama orang lain” sindir Sara. “itulah sifat alami manusia, karena manusia adalah makhuk sosial” jawab Maulana santai. “Makannya Kamu itu belajar mandiri” ucap Sara pada Gia keras. “Biar tidak menyusahkan orang lain” tambah Sara agak emosi. Lalu kemudian Maulana dan Gia pergi begitu saja dengan mobil pribadinya meninggalkan Sara yang masih terus mengomel “Bapak sama putrinya sama saja sama-sama tidak bisa diandalkan” oceh Sara kesal. Sesampainya Gia di tempat kerja Ia langsung masuk ke dalam gedung tersebut. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada butuh pertolongannya dalam mengumpulkan beberapa berkas. Gadis itu sigap membantunya dengan memunguti beberapa berkas yang tercecer di lantai. Setelah itu Gia langsung bergegas pergi menuju lift dan datang tepat waktu sebelum wawancara dimulai. Namun sayangnya Ia langsung tidak diizinkan untuk wawancara karena dianggap telat dan lalai, penanggung jawab tersebut tidak mau mendengarkan penjelasan dari Gia. Gia keluar dari gedung itu dengan perasaan kecewa. Saat sampai di rumah Ia langsung disambut Sang Mama, sambil menyeringai Sang Mama sudah bisa menebak hasil wawancaranya. Tidak mau berdebat dan mendengarkan omelan Sang Mama, Ia lebih memilih untuk langsung menuju kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya. Sementara Sang Mama berpamitan untuk pergi keluar rumah. Selama melakukan pekerjaan rumah, Gia sangat murung hingga pada akhirnya Ia menangis. Hatinya merasa tidak berguna karena belum bisa mendapatkan pekerjaan untuk membantu kedua orangtuanya. Sekitar pukul 3 sore Adit adiknya baru saja pulang kuliah, Ia membawa makanan kesukaan sang Kakak sebagai hadiah karena mendapat wawancara pertamanya. Namun saat baru saja masuk rumah Ia mendapati Sang Kakak yang tertidur di Sofa depan tv. Ia mendekati Sang Kakak sambil memperhatikan dengan seksama wajah teduh Kakak perempuannya itu. kening Adit berkerut saat melihat seperti ada bekas air mata di pipi Gia. Adit berujar pasti kakaknya itu dimarahi lagi oleh mama mereka. Adit merasa sedih dan heran akan sikap Sang Mama yang selalu menyalahkan Kakak perempuanya itu, sambil mengubah ekpresinya Adit mulai membangunkan Kakaknya itu. “Kakak, Kak Ayo bangun Kak Kak Gia Ayo bangun” pinta Adit sambil menggoyang-goyangkan bahu Kakaknya itu. “Apaan sih Kakak Masih ngantuk tau” ujar Gia masih menutup matanya. “Ayo Bangun Kak ada yang terbakar nih” ucap Adit menahan tawanya. Gia langsung membuka matanya cepat. “Apa kebakaran dimana, Ayo cepat keluar!” ajak Gia sambil menarik lengan adiknya itu. “Tunggu dulu kak” ucap Adit. “Apalagi sih, ada kebakaran kan kita harus cepat keluar tau” ujar Gia. “Kebakarannya di sini Kak” jawab Adit menunjukkan kantong yang berisi makanan kesukaan keduanya. Gia yang sadar bahwa dirinya sedang dikerjai oleh adiknya itu, langsung berteriak dan mengejar adiknya itu yang sudah berlari menuju dapur untuk mengambil piring. “Udah dong Kak jangan ngambek gitu makin jelek tau” ucap Adit pada Kakaknya yang masih ngambek saat di meja makan. “Ya gimana gak ngambek, seenaknya bangunin orang yang lagi enak tidur pake bilang ada kebakaran segala lagi” oceh Gia kesal. “Lho kan bener ini ada bakso bakar, sama martabak manis yang memang bukan dibakar sih tapi tetep aja pake api kan” jawab Adit tak mau kalah. “Kamu itu ya suka banget buat Kakak kesel” omel Gia. “Udah sekarang jangan kesel mendingan Kakak makan tuh bakso bakar sama martabaknya ya” pinta Adit. “Kamu pikir Kakak anak kecil yang gampang di sogok gitu” Gia semakin kesal. “Enggak, Aku gak mikir gitu Kakak aja yang merasa” ledek Adit membuat Gia berseru kencang. Maulana yang baru saja sampai rumah merasa kaget mendengar Sang putri yang berteriak seperti itu. Ia segera bergegas berlari menuju asal suara, namun rasa cemasnya langsung hilang melihat Adit yang kesakitan dicubit oleh putrinya itu. “Ada apa ini, tadi Papa denger Gia yang teriak sekarang gantian jadi Adit apa ini ?” tanya Maulana pada putra dan putrinya itu. “Adit Tu Pa iseng banget, Masa ngebangunin Gia lagi tidur pakai teriak-teriak ada kebakaran Kan Gia kaget Pa” adu Gia pada Papanya itu. “Bohong Pa, mana ada Adit teriak yang ada Adit Cuma bilang ada kebakaran Kak Gia aja yang panikkan orangnya” jelas Adit membela diri. “Kebakaran apa sih ayo cerita yang jelas” pinta Maulana. Kedua anaknya itu menjelaskan secara bergantian dengan versi mereka masing-masing. Maulana hanya tersenyum kemudian memberikan nasehat pada keduanya. Kemudian Maulana bertanya pada Gia tentang wawancara pertama tadi pagi, namun belum sempat menjawab tiba-tiba Sang Mama langsung menyahut begitu saja. “Gagal” jawab Sara yang baru saja datang. “Iya Pa” tambah Gia sendu dan kembali murung. “Mama gimana sih, gagal total dong usaha Adit buat ngehibur Kak Gia biar lupa sama masalahnya” protes Adit. “Kenapa jadi nyalahin Mama, kan memang bener Kakak Kamu itu Gagal, lagian udah Mama baru juga wawancara jadi jangan seneng dulu sekarang apa gagal kan” ucap Sara sarkas. “Kamu itu bukannya menghibur anaknya malah ngomong kayak gitu” ujar Maulana. ““Mama gimana sih, gagal total dong usaha Adit buat ngehibur Kak Gia biar lupa sama masalahnya” protes Adit. “Kenapa jadi nyalahin Mama, kan memang bener Kakak Kamu itu Gagal, lagian udah Mama baru juga wawancara jadi jangan seneng dulu sekarang apa gagal kan” ucap Sara sarkas. “Kamu itu bukannya menghibur anaknya malah ngomong kayak gitu” ujar Maulana. “Lagian buat apa harus dihibur Sih Pa, Gagal itu biasa dan ini juga baru sekali jadi gak usah terlalu dianggap nanti Dia jadi Manja lagi, mendingan sekarang masak deh buat makan nanti” pinta Sara tidak peduli sambil terus fokus pada handphonenya Saat sudah selesai memasak Gia kini berada dikamarnya sambil menulis buku hariannya. Tiba-tiba handphone miliknya berdering dari nomor yang tidak dikenalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN