Ahmad baru saja keluar dari kamar mandi yang sudah menggunakan kaos oblong warna abu-abu serta celana pendek warna hitam sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia bingung karena mendapati istrinya itu senyum-senyum sendiri.
“Hayo lagi ngapain sih kok senyum-senyum gitu,”tegur Ahmad mengejutkan Gia.
“Mas ini ngagetin aja, aku cuma inget masa waktu kuliah dulu pas kita pertama kali ketemu,”ujar Gia
“Lalu pergi begitu pas udah wisuda memangnya kamu kemana sih dulu kok sampai gak sempat kasih kabar?,”tanya Gia.
“Oh itu ada urusan yang harus aku selesaikan dan persiapan juga,”terang Ahmad.
“Persiapan, persiapan untuk apa Mas?,”tanya Gia bingung.
“Untuk melamar kamu,”ujar Ahmad sambil mencolek ringan dagu Gia.
“Kamu ini bisa banget ya ngegombalnya,”ujar Gia senyum.
“Tapi kamu suka kan, kan udah itu gak lama kita ketemu lagi kan,” terang Ahmad.
Rupanya yang menelpon adalah pihak dari radio yang memanggilnya lagi besok untuk wawancara kembali namun dengan posisi yang berbeda. Setelah menerima telpon tersebut Gia termenung dan Sang Papa masuk untuk memeriksanya sudah tidur atau belum. Kemudian Ia bercerita bahwa tadi dirinya menerima telpon dari tempat wawancaranya tadi pagi untuk datang lagi besok pagi tapi dengan posisi yang berbeda.
“Jadi menurut Papa gimana?” tanya Gia.
“Menurut Papa, Kamu coba aja dulu siapa tahu ini rejeki Kamu” jelas Maulana pada putrinya.
“Tapi posisinya itu Pa, Gia sama sekali gak tahu” terang Gia.
“Sayang, denger Papa semua ini tergantung Kamu mau mengambil kesempatan ini atau enggak dan soal pekerjaan melakukan sambil belajar adalah cara yang tepat dulu juga Papa gitu, Papa sempet bingung gimana caranya jadi dosen tapi setelah Papa jalani belajar dari senior dan modifikasi cara ngajar Papa jadilah Papa yang sekarang, Papa percaya anak Papa ini bisa melakukannya, kamu harus ingat terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi memberika apa yang kita butuhkan paham” ujar Maulana panjang lebar.
“Iya Pak Dosen” jawab Gia sambil tersenyum.
Saat baru saja keluar dari kamar putrinya, Maulana bertemu putra sulungnya yang sedang membaca buku tentang kedokteran di ruang keluarga.
“Bagaimana kuliahya Nak?” tanya Maulana.
“Lancar Pa” jawab Halan.
“Nak, boleh Papa tanya satu hal?” tanya Maulana lagi.
“Papa Mau tanya apa” ujar Halan dengan masih membaca bukunya.
“Apa Kamu bahagia menjalani kuliah Kamu sekarang?” tanya Maulana serius pada putra sulungnya itu. Halan menutup bukunya dan kemudian menerawang sebentar.
“Kenapa Papa nanya begitu Apa menurut Papa, Halan gak kelihatan bahagia ? Halan bahagia Pa, Papa saja yang tidak memperhatikan Halan dan fokus pada Gia dan Adit” ucap Halan menyindir Papanya, dan omongannya itu membuat Maulana tersentak.
“Baguslah kalau begitu, Papa hanya takut Kamu melakukannya karena terpaksa untuk memenuhi ambisi dari Mama Kamu” ucap Maulana tenang tidak mau terbawa emosi.
“Setidaknya Mama lebih peduli sama Halan” jawab Halan dan kemudian pergi menuju kamarnya.
Keesokan paginya Gia kembali bersiap untuk pergi ke tempat yang sama seperti kemarin. Sang Papa masih tetap memberikan dukungan dan semangat pada putrinya, sementara Sang Mama hanya mengatakan seadanya dan kemudian pergi begitu saja bersama Halan. Kali ini Gia diantar oleh Adit yang kebetulan hari itu Ia sedang tidak ada jadwal kuliah. Setibanya di gedung tersebut Gia merasa heran sebab sudah ada pegawai yang menyambutnya dan langsung diantar menuju sebuah ruangan. Saat masuk ke ruangan itu Gia terkejut karena yang menunggunya adalah orang yang Ia bantu kemarin saat sebelum melakukan wawancara.
“Selamat Pagi Saudari Gia” sapa wanita yang kira-kira seumuran dengan Sang Mama.
“Pagi Bu” jawab Gia tergagap.
“Maaf jika Saya panggil Kamu secara mendadak begini” ucap wanita itu ramah.
“Tidak apa-apa Bu, tapi ada apa Ya Bu saya dipanggil lagi?” tanya Gia gugup.
“Saya memanggil Kamu lagi karena menurut Saya, Kamu tepat mengisi tempat yang memang sedang Kami butuhkan dan memang posisi itu tidak kami publish di pamphlet recruitment Kami, karena posisi ini adalah posisi yang sangan penting dan Kami mencari orang yang tepat untuk mengisinya” terang wanita itu panjang lebar.
“Maaf Bu, kalau boleh saya tahu posisi apa ya Bu?” tanya Gia was-was.
“Sebentar Saya panggil dulu assisten Saya” ujar wanita itu kemudian menelpon assistennya untuk segera datang.
Tak lama masuklah seorang wanita yang kira-kira berusia 30 tahun lebih ke ruangan itu. lalu wanita yang merupakan atasannya meminta dirinya menjelaskan posisi yang akan diberikan pada Gia. Wanita itu sigap menjelaskan deskripsi pekerjaan tersebut dengan lugas, elegan, singkat dan padat tanpa menimbulkan pertanyaan dalam diri Gia. Setelah mendengar penjelasan itu lalu Gia bertanya pada wanita paruh baya itu tentang alasan kenapa memlihnya untuk menempati posisi tersebut.
“Kamu adalah orang yang baik, dan jika dilihat dari CV dan pengalaman organisasi kamu, saya rasa Kamu adalah orang yang sangat kreativ dan Kami butuh Kamu untuk mengisi tempat yang kosong itu, Rani tolong Kamu antarkan Gia ke tempat kerjanya dan perkenalkan Dia dengan rekan satu timnya” pinta wanita itu pada Sang Assisten.
“Baik Bu” jawab Rani.
“Terima kasih dan untuk Gia Selamat bergabung di tim Kami, saya akan nantikan ide-ide cerdas Kamu sekali lagi selamat” ucap wanita itu pada Gia sambil mengulurkan tangannya.
“Baik Bu, dan terima kasih tapi Bu, kapan saya mulai bekerja?” tanya Gia sambil menyambut uluran tangan wanita itu.
“Kamu akan mulai bekerja minggu depan, sekali lagi selamat ya Gia” ujar wanita itu.
Selagi berjalan menuju tempatnya bekerja wanita yang bernama Rani mengatakan bahwa jika bos mereka itu sudah mengatakan seseorang adalah orang yang tepat berarti itu tandanya tidak ada yang bisa membantah keputusan tersebut. Rani itu juga mengatakan bahwa bos mereka itu tidak pernah salah menilai seseorang dan penilaiannya itu selalu tepat. Terkadang para karyawan termasuk dirinya juga merasa heran mengapa bos mereka itu bisa begitu tepat menilai seseorang sampai timbulah gosip bahwa bos mereka itu adalah seorang dukun. Gia hanya bisa tersenyum mendengar ocehan wanita yang kini sedang mengantarnya menuju ruangan tempatnya bekerja nanti. Sesampainya mereka di ruangan itu keduanya disambut oleh 4 orang yang sedang berbincang santai.
“Ada apa Kak Rani” sapa salah satunya.
“udah jangan coba-coba berbasa-basi, saya ditugaskan oleh Bos untuk mengantarkan anggota baru kalian yaitu Gia silahkan perkenalkan diri Kamu”
“Halo Kak, Saya Gia dan mohon bimbingannya” ucap Gia gugup.
“Hai, Saya Alex ketua tim ini, yang itu Vina dan Vinni mereka adalah saudara kembar dan yan itu Aufar sebenarnya kita ada satu lagi dan merupakan bintang dari tim ini tapi hari ini gak masuk karena ada acara katanya” terang pria yang bernama Alex itu.
“Anak itu ada saja alasan untuk libur, baiklah Gia akan bekerja mulai minggu depan jadi bantu dan bimbinglah Dia sebaik mungkin paham” ujar Rani tegas.
“Baik Kak” jawab keempatnya kompak.
“Terima Kasih Kak” tutur Gia senang.
Seminggu kemudian Gia sudah mulai bekerja di tim itu Ia diperlakukan seperti pekerja baru. Ia selalu diminta oleh keempat seniornya itu untuk mengambilkan minum, makanan yang dipesan membereskan ruangan. Baru saja selesai mengambilkan pesanan si kembar Vina dan Vinni, ketua tim Alex memanggilnya untuk membuatkan kopi dan mengantarkannya ke Studio karena kini ketua nya itu sedang mendampingi siaran acara tim mereka. Gia masuk ke studio siaran sambil membawa kopi dan alangkah kagetnya Ia saat melihat orang yang kini sedang melakukan siaran itu.