Setelah selesai siaran, Ahmad yang sudah melihat Gia langsung menyapanya dengan senyum khas. Melihat keakraban keduanya rekan mereka langsung meledeknya. Kini Gia dan Ahmad sedang mengikuti rapat yang dipimpin oleh Alex, tim mereka diminta oleh atasan untuk membuat konsep baru dari program mereka sebagai pengembangan diri tim. Alex bertanya pada masing-masing anggotanya namun masih belum ada yang membuat wajah seorang Alex berubah jadi senang. Terakhir Ia bertanya pada Gia, gadis itu mengungkapkan idenya tentang upaya menarik pendengar lebih banyak. Ia menjelaskan bahwa sebagai pemberi pelayanan harus berusaha memberikan apa yang diinginkan oleh pelanggan. Setelah mendenagrkan penjelasan dari Gia, lalu Alex memintanya untuk membuat proposal dan kemudian ditampilkan pada mereka sekitar dua hari lagi kemudian tima akan mengambil suara apakah usulnya bagus, lalu akan kita persentasikan saat rapat bersama bos minggu depan.
“Kamu yakin Lex, Dia bisa?” tanya Aufar.
“Ya,sekalian pembuktian diri buat Dia si anak titipan Bos” sindir Vina.
“Betul banget tuh” jawab Vinni.
“Kamu sanggup Gia?” tanya Alex.
“Siap Kak,akan siapkan proposalnya” jawab Gia yakin.
“Bagus, sekarang semuanya kembali bekerja” pinta Alex
Saat sudah kembali ke ruang kerja mereka, Ahmad menghampiri Gia yang berkutat dengan laptopnya.
“Gimana susah ya ?” tanya Ahmad tiba-tiba yang membuat Gia kaget.
“Lumayan Kak” jawab Gia tetap fokus dengan laptopnya.
“Kamu udah dapatkan contoh proposalnya?” tanya Ahmad.
“Udah Kak, tadi Kak Vinni yang kasih” jawab Gia sambil tersenyum.
“Ahmad, ayo udah waktunya siaran lagi” ajak Vina tiba-tiba.
“Iya bentar, orang masih ada 10 menit lagi” protes Ahmad.
“Gak bisa, Alex bilang Kamu harus udah ada di sana” jawab Vina.
“Iya, ya udah kalau kesulitan jangan segan minta bantuan ya” ujar Ahmad lalu mengelus kepala Gia cepat dan kemudian menghampiri Vina. Kemudian Gia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu di sisi lain Aufar, Vinni dan Alex sedang sibuk membicarakan Gia dan kedekatannya dengan Ahmad.
“Lo yakin kasih tugas itu ke Dia?” tanya Aufar.
“Kenapa Lo, khawatir kalau khawatir bantulah” ujar Alex
“Telat Lo, udah keduluan Sama Ahmad” ujar Vinni.
“Gue Heran seorang Ahmad bisa langsung dekat sama Dia” ujar Aufar.
“Lo gak denger tadi ya, mereka bilang kan kalau mereka itu satu fakultas” ucap Vinni.
“udah-udah,ngegosip aja kalian kerjanya balik kerja” pinta Alex kesal.
“Iya Bos” jawab keduanya.
Hari pertama kerja seorang Gia dilalui dengan kesibukan yang tidak ada habisnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore Gia masih berjibaku dengan laptopnya. Ahmad setia menunggu Gia menyelesaikan pekerjaannya. Padahal berkali-kali Gia meminta seniornya untuk pulang karena merasa tidak enak, namun Ahmad menolak dengan dalih ada beberapa pekerjaan dan naskah yang memang harus ia kerjakan dan baca. Hingga akhirnya Gia selesai dengan pekerjaannya. Ahmad menawarkan tumpangan pulang pada Gia, lagi-lagi gadis itu menolak namun Ahmad menjelaskan bahwa tempat tinggalnya satu arah dengan jalan menuju rumah Gia. Pria itu menjelaskan bahwa jam segini di sekitar kantor mereka jarang ada angkutan umum. Akhirnya terpaksa Gia menerima tawaran Ahmad.Selama perjalanan pulang Gia bertanya pada Ahmad yang tidak pernah menghubungi dirinya selama ini. Pria itu menjawab bahwa setelah wisuda waktu itu Ia harus kembali ke kampung halaman karena ada urusan keluarga dan kembali ke kota ini karena mendapatkan panggilan kerja di tempatnya sekarang. Kini mereka sudah sampai di depan rumah Gia, dan rupanya Maulana sudah menunggu di teras rumah bersama Adit sambil mengerjakan tugasnya.
“Assalamualaikum Om” sapa Ahmad setelah memarkirkan motornya di depan gerbang rumah.
“Walaikumsalam, Oh Ahmad gimana kabarnya ? Kamu satu tempat kerja sama Gia ya” tanya Maulana bertubi-tubi pada Ahmad.
“Papa itu nanyanya udah kayak lagi mengintrogasi aja, memangnya Kak Ahmad ada Salah ya” ujar Adit. “Kak Ahmad Cuma nganterin Kak Gia Doang Pa” tambah adit lagi.
“Papa Cuma nanya Dit, Oh iya Nak Ayo mampir dulu” pinta Maulana pada Ahmad.
“Enggak usah Om, ini udah malam nanti takutnya ganggu” tolak Ahmad sopan.
“Enggak kak, gak bakal ganggu kok justru bakalan ada yang seneng banget kalau Kakak mampir” ucap Adit melirik Gia.
“Tawarannya bakalan Kakak terima tapi bukan hari ini ya” jawab Ahmad.
“Oke Kak, kalau bisa malam minggu aja ya Kak” ucap Adit lagi sambil melirik dan kali ini menyenggol pundak Gia.
“Ya udah kalau gitu Saya pamit dulu ya Om, Dit, Assalamualaikum” pamit Ahmad.
“Ciee diantar sama yang tersayang” ledek Adit pada Gia begitu Ahmad sudah pergi.
“Apaan sih, yang tersayang, yang tersayang enggak ya” elak Gia.
“Enggak,enggak tapi dalam hati berbunga-bunga yakin deh Adit betul gak Pa”ujar Adit.
“Udah dong Dit, jangan ledek Kakakmu terus” lerai Maulana pada putra bungsunya.
“Papa memang yang paling sayang sama Gia” ujar Gia manja sambil memeluk Sang papa.
“Tapi kalau Dia sama Kamu Papa setuju-setuju aja sih” tambah Maulana yang membuat Gia teriak kesal dan teriakanny itu terdengar oleh Sang Mama, dan membuatnya marah.
“ Ngapain kalian malam-malam teriak-teriak ganggu orang lagi istirahat aja” erang Sara.
Keesokan harinya Gia masih berkutat dengan projectnya itu sampai suatu waktu Ia mendapatkan kesulitan namun Gia segan dan malu untuk bertanya pada rekan timnya. Tapi kali ini Ia benar-benar membutuhkan pertolongan, pertama Iamelirik pada Vina tapi kelihatannya sedang sibuk, Mengintip Alex di ruangannya sedang sibuk juga. Ia bertanya pada Ahmad yang sedang bersama Vinni untuk siaran melalui sebuah pesan. Tak lama Ahmad menjawabnya bahwa yang bisa menyelesaikan masalah Gia adalah Aufar. Kemudian Gia membalas pesan Ahmad, Ia mengatakan bahwa dirinya merasa takut dengan Aufar karena tampangnya yang sangar dan dari awal orang itu tidak suka dengan dirinya. Ahmad membalas dengan emoticon senyum dan mengatakan bahwa Aufar itu tampangnya saja yang sangar tapi Ia adalah orang yang baik. Akhirnya Gia menuruti saran dari Ahmad, dan saat ini Ia berada di depan meja Aufar. Pria itu sedang sibuk memainkan handponenya sambil menggunakan headphone. Wanita itu semakin gugup dan berusaha menenangkan dirinya. Setelah mengumpulkan keberaniannya Ia Gia memanggil Aufar. Berkali-kali dipanggil tetapi Pria bernama Aufar itu tidak mendengar dan karena tidak mau mengganggu akhirnya Gia mengurungkan niatnya. Namun saat hendak pergi tiba-tiba Aufar bersuara dan bertanya padanya dengan fokus sambil bermain handphone miliknya.
“Ada Apa?” tanya Aufar tak acuh dan kemudia membuka headphonenya
“Anu Kak, Saya mau minta tolong” jawab Gia tergagap,
“Minta tolong apa?” tanya Aufar datar.
“Ini Kak, laptop saya sepertinya kena virus jadinya data-data yang ada di laptopnya jadi gak bisa kebaca” terang Gia dan kini lebih tenang.
“Mana laptopnya” tanya Aufar.
“Di meja saya Kak” jawab Gia
“Lalu apa Saya yang harus ke meja Kamu buat memperbaiki” tanya Aufar menyeringai.
“Maaf kak, akan saya bawa ke meja Kakak segera” ujar Gia dan buru-buru ke mejanya kemudian kembali lagi ke meja Aufar sambil membawa Laptopnya.
“Mana Sini, giliran kayak gini aja minta bantuan dasar anak baru” oceh Aufar.
“Maaf Kak” jawab Gia.
“Ngapain minta maaf segala ini bukan lebaran” oceh Aufar.