Es Mulai Cair

1211 Kata
Alex membolak-balik berkas yang diberikan oleh Gia, sementara Gia tampak cemas menunggu jawaban dan komentar dari seniornya itu. Setelah selesai membaca berkas tersebut, Alex tersenyum tipis dan mengatakan bahwa proposal milik Gia itu bagus dan programnya cocok dengan gaya tim mereka. Alex juga mengatakan bahwa acara pada proposal itu akan menarik banyak pendengar khususnya generasi milenial dan Gen z. mendengar pujian dari seniornya itu Gia tersenyum senang dan bersemangat ingin mempresentasikan pada rekannya yang lain. “Baik besok presentasikan proposal ini pada teman kita yang lain” pinta Alex “Baik Kak” jawab Gia sumringah. “Jangan lupa buat power pointnya semenarik mungkin oke!” pinta Alex lagi. “Iya Kak, siap Kak” jawab Gia dan kemudian meninggalkan ruangan Alex. Karena begitu senang, Gia melompat-lompat kegirangan. Hingga Ia tidak menyadari bahwa semua rekannya sudah berada di sana dan melihatnya. Ahmad tersenyum gemas, Aufar hanya senyum tipis sejurus kemudian mengubah ekpresinya menjadi datar lagi karena diperhatikan oleh Vina. Sementara Vinni merasa bingung dan heran akan sikap juniornya itu. kemudian Ahmad berdehem dan sontak membuat Gia langsung diam dan perlahan melirik mereka. Ahmad tahu kini Gia merasa canggung, maka Ia berusaha untuk mencairkan suasana. “Sepertinya hari ini Kamu senang sekali” tanya Ahmad dengan tak lupa tersenyum. “Itu apa Kak, maksudnya” ucap Gia gugup. “Proposal Lo diterima Alex” tebak Aufar. “Iya Kak” jawab Gia. “Kalau gitu besok bakalan ada rapat dong” ujar Vinni. “Tadi kata Kak Alex gitu Kak” jawab Gia. “Oke, Gia kalau begitu boleh kami minta copy-an proposal Kamu hari ini?” tanya Ahmad. “Boleh Kak, nanti setelah ini akan saya kasih copy-an nya” ucap Gia bersemangat. “Udah buruan sana, Kita gak punya waktu untuk baca proposal Lo doang kan?” ujar Vina. Kemudian Gia segera bergegas menuju ruangan Foto copy dengan penuh semangat. Setelah itu Ia memberikan proposal itu pada rekan-rekannya. Ahmad memberinya pujian sekaligus masukan untuk memperbaiki padanan kata yang tepat. Vina dan Vinni hanya mengoceh tidak jelas mereka bilang proposal ini bagus hanya masih banyak yang perlu diperbaiki, sementara Aufar hanya diam tanpa mengatakan apapun padahal Gia berharap banyak. Gia merasa kecewa karena tidak mendengar apapun dari Aufar dan segera kembali lagi ke meja Aufar untuk mengucapkan terima kasih. “Makasih untuk apa?” tanya Aufar tak peduli dan sibuk menatap layar laptpnya. “Karena sudah membantu Saya tadi, berkat Kakak laptop Saya jadi baik lagi dan Saya bisa menyelesaikan proposal Saya Kak” ujar Gia panjang lebar. “Oh itu, ada lagi” tanya Aufar yang melihat Gia belum juga beranjak kembali ke tempatnya. “Oh, enggak Kak, Gak ada” ucap Gia cepat dan segera beranjak kembali ke tempat kerjanya. Setelah Gia berada di tempat duduknya Aufar tersenyum. “Lo senyum Far, Es kita udah mencair guys barusan Dia senyum” ledek Alex tiba-tiba pada rekan-rekannya. “Apaan sih Lo, ganggu orang kerja aja” protes Aufar. Keesokan harinya Gia mempresentasikan proposalnya di depan teman-temannya. Setelah Ia selesai mempresntasikannya, Alex meminta yang lain memberikan pendapat, kritik, dan masukan pada proposal rekan mereka itu. Vina dan Vinni mengatakan bahwa rencana program yang dibuat oleh Gia sudah bagus hanya masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki kemudian Vinni melempar proposal milik Gia dengan catatan yang menurut mereka harus diperbaiki. Ahmad juga memberikan copy-an proposal yang sudah juga Ia berikan beberapa catatan tambahan. Kemudian Gia melirik pada Aufar dan menunggu copy-an proposalnya, karena tidak berani bicara akhirnya Gia hanya menunduk dan diam saja Ahmad berbisik pada Gia yang kebetulan duduk di sebelahnya. “Tidak ada sejarahnya seorang Aufar mau memberikan masukan dan catatan perbaikan, Kami yang mengajukan proposal saja tidak pernah mendapatkan saran apalagi Kamu Gia” ucap Ahmad. “Mad, gue bisa denger Lo ya”ucap Aufar. “Ini kenyataannya Kan Far” ledek Ahmad. “Nih proposalnya, masih banyak yang perlu diperbaiki” ucap Aufar lalu pergi begitu saja dari ruangan rapat. “Wah mimpi apa Kita semalam melihat seorang Aufar memberikan perbaikan” ledek Alex, sementara Ahmad merasa heran dan kemudian kembali melirik Gia yang sedang senyum-senyum sendiri. Kini Gia sedang makan malam bersama keluarganya, dan Kemudian Sang Papa bertanya tentang pekerjaan putrinya itu. “Gimana pekerjaanmu hari ini Nak?” tanya Maulana pada putrinya itu. “Lancar Pa” jawab Gia singkat. “Gimana proposalnya Kak diterima?” tanya Adit. “Iya diterima tapi masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki untuk dipresentasikan minggu depan dalam rapat bersama para pimpinan” terang Gia. “Wah itu tandanya bagus dong Kak” tanya Adit “Jangan senang dulu,ini baru permulaan karena masih banyak yang harus Kakakmu lewati dan orang baru kayak Kakakmu itu akan sangat sulit bertahan hingga akhir dan ujung-ujungnya pasti minta resign karena merasa tidak betah” ucap Sara tanpa beban sambil menyantap makanannya. “Ma, apa Kamu gak bisa sekali saja mendukung anak perempuan kita?” ucap Maulana mulai kesal. “Bukannya gak bisa mendukung Pa, Mama hanya memberitahu kenyataannya kalau Gia itu gak boleh terlalu seneng dulu karena kita gak tahu kedepannya gimana” Sara membela diri. “ Iya kan Nak?” ucap Sara sambil melirik Halan. “Iya, bener kata Mama dalam dunia pekerjaan gak ada yang namanya teman semuanya itu pesaing jadi ya kita harus pintar menempatkan diri” Halan memberikan saran. “Benar itu, lagipula Kamu itu perempuan yang akan menikah suatu saat nanti dan berakhirnya pasti Cuma, dapur, kasur dan sumur apalagi kalau Kamu mendapatkan suami Kamu yang mempunya uang yang banyak, kamu gak perlu lagi bekerja kan” terang Sara pada putirnya itu. “Tapi Ma zaman sekarang banyak juga kok perempuan yang sudah menikah masih bekerja” ucap Adit. “Tandanya perempuan itu tidak mementingkan keluarga dan lebih mementingkan Ego-nya sendiri, perempuan yang seperti itu adalah perempuan yang tidak bisa menjadi seorang ibu nanti” ucap Sara. “Udah Ma, Gia yang perlu Kamu pertahankan adalah bagaimana Kamu bisa mencintai pekerjaan ini hingga nanti kedepannya tidak akan membuat Kamu sulit ya” ujar Maulana bijak. “Iya Pa” jawab Gia. Gia berlari dengan rasa cemas menuju kantornya sesaat sudah turun dari angkutan umum. Berkali-kali Ia melirik jam tangannya sambil terus berdoa dalam hatinya agar tepat waktu menuju ruang rapat. Ia melihat Lift yang hampir menutup dan berusaha meminta seseorang yang berada di lift itu untuk menahannya. Tapi tidak ada yang mendengar dan begitu dirinya sampai di depan Lift itu pintunya sudah tertutup. Namun tiba-tiba ada yang menarik lengannya dan mengajaknya berlari menggunakan tangga darurat. Mendengar suaminya itu merayu Gia hanya tersenyum dan membantu sang suami mengeringkan rambutnya. ‘ “Enggak juga, justru aku marah sama kamu Mas,” tutur Gia sambil menggosok-gosok rambut Ahmad dengan handuk. “Iya saking marahnya sampai kamu ngedeketin Aufar bahkan pergi bareng ke club bareng dia iya kan?,” ucap Ahmad yang membuat Gia terkejut. “Kamu tahu itu darimana Mas?,” tanya Gia bingung. “Dari Aufar lah, siapa lagi panas aku denger ceritanya apalagi tahu kamu peluk-peluk dia, kenapa sih kamu waktu itu gak minta tolong aku aja,” ujar Ahmad memutar duduknya menghadap Gia. “Itu kejadian gak terduga Mas” ujar Gia gemas melihat suaminya itu cemburu. "lagipula itu cuma sebentar gak lebih lama dari kamu yang tiba-tiba narik aku terus ajak lari lewat tangga darurat" terang Gia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN