Berpikir Rasional

1227 Kata
“Kamu darimana aja, udah hampir telat” ucap Ahmad sambil menarik tangan Gia untuk terus berlari. “Maaf Kak tadi ada kejadian tidak terduga” jawab Gia Sambil terus berlari “Udah nanti aja penjelasannya kita harus cepat sampai sebelum atasan” ajak Ahmad memacu lebih cepat langkah mereka. “Baik kak” jawab Gia sambil terengah-engah. Akhirnya mereka sampai tepat waktu, tampak Alex memoloti keduanya namun disamping itu tampak juga wajah lega. Sementara Vina dan Vinni hanya mengoceh tak karuan dan tak didengarkan oleh Gia sementara Aufar memberikan minumannya. Gia mengucapkan terima kasih kemudian tak lama meeting pun dimulai. Persentasinya sukses para pimpinan menyukai proposal milik Gia dan menyetujuinya Alex dan tim merasa senang dan diminta agar menjalankan program ini sebaik mungkin hingga sukses. Alex dan timnya sedang merayakan di ruangan mereka sambil meminum cappuccino dingin. “Hari ini kita sukses” sorak Vina dan Vinni. “Jangan senang dulu ini baru awal masih banyak lagi ke depannya” ujar Aufar santai mematahkan semangat Vina dan Vinni. “Matahin semangat aja omongan Kamu” ujar Vinni kesal. “Jangan lupa dengan pencetus ide sehingga jadilah proposal itu” ucap Ahmad melirik Gia. “Ah enggak juga Kok, proposal itu bisa tembus kan karena bantuan kalian juga Kak bukan kerja saya sendiri” ujar Gia merendah. “Bagus deh kalau kamu tahu diri” ujar Vina. “Udah, nah Gia sekarang bisa Kamu jelaskan bagaimana bisa terlambat tadi” tanya Alex. 1 jam sebelum ke Kantor Gia diantar oleh Adit menuju kantornya namun ban motor bermasalah. Gia membantu Adit membawa ke bengkel padahal sudah beberapa kali Adit menyuruh kakaknya itu untuk pergi ke kantor saja. Gia merasa tidak tega pada adiknya itu dan berniat menuggu hingga motornya selesai diperbaiki. “Udah Kak, gak usah ditungguin ini pasti lama mendingan Kakak sekarang ke kantor!”pinta Adit. “Gak apa-apa Kok kak bisa tunggu sampai selesai” ujar Gia. “Enggak Kak ini pasti lama mendingan sekarang Kakak ke kantor deh, bukannya sekarang Kakak ada rapat penting kan” Adit mengingatkan. “Tapi nanti Kamu gimana?” tanya Gia panic. “Udah Aku gak apa-apa kok Kak untuk urusan bayaran gak usah dipikirin ganti aja pas Kakak udah gajian ya” ujar Adit mencoba menghibur Kakaknya itu. “Ye, itu sih maunya Kamu tapi beneran gak apa-apa Kakak tinggal” tanya Gia lagi. “Iya Kak, adik yang paling Ganteng ini gak bakalan hilang kok udah sana mendingan pergi ke kantor” ujar Adit menenangkan Gia. Setelah menceritakan alasannya terlambat, Gia juga mengucapkan terima kasih pada Ahmad dan juga Aufar yang sudah begitu perhatian padanya. “Ahmad itu khawatir Sama Kamu makannya Dia sampai nyariin keluar ruangan segala padahal udah kita bilang buat nunggu aja” terang Alex. “Kalau Aufar Cuma kasihan sama Kamu habis lari-lari diajak Ahmad, lagian ngapain juga pakai lari-lari naik tangga darurat kan bisa naik lift” tambah Alex lagi. “Pakai lift nunggunya lama Kak jadi ya mendingan lari aja kan buktinya lebih cepat sampainya” jawab Ahmad. “Iyalah terserah kalian aja, tapi sekali lagi selamat ya Gia, kalau gini pengangkatan Kamu jadi karyawan tetap gak perlu nunggu sampai 6 bulan nih”ujar Alex. “Jadi gimana nih bos buat perayaannya kebetulan banget hari ini kita gak ada yang siaran malam nih” tanya Vina. “Gimana kalau kita ke resto yang dekat sini aja menu di sana juga enak-enak dan murah” saran Vinni. “Oke Kamu atur ya Vinni, nanti pulang kerja kita ke sana” ujar Alex disambut sorakan Vina dan Vinni sementara Ahmad dan Aufar hanya senyum. “Wah ini udah kedua kalinya seorang Aufar tersenyum” ledek Alex. “Apaan sih basi Lo Kak” ujar Aufar kesal dan balik ke mejanya. Sore harinya saat pulang kerja Gia dan teman-temannya merayakan keberhasilan mereka. Saat sedang berjalan menuju tempat makan, sepintas Gia melihat seseorang yang gelagatnya seperti Kakaknya Halan sedang memasuki sebuah gedung. Gia bertanya pada Alex tentang gedung yang dimasuki oleh sosok seperti Kakaknya itu. “Ngapain bengong gitu, bukannya buruan masuk” tegur Aufar yang melihat Gia termenung sekejap melihat gedung yang tidak jauh dari sana. “Oh iya Kak” ujar Gia. “Ada apa Gia?” tanya Ahmad yang masuk tepat di belakang Gadis itu. “Oh Enggak Kak, Kak mau tanya gedung disebelah itu gedung apa ya?” tanya Gia pada Ahmad. “Oh itu club malam” jawab Ahmad. “Club malam, bukannya itu illegal ya Kak” tanya Gia lagi. “Club itu legal kok, karena tempat kita ini adalah jantung atau pusat kota, para turis asing maupun dalam negri banyak yang ke sini” terang Ahmad. “oh gitu Kak” jawab Gia. “Memangnya kenapa tiba-tiba tanya tentang gedung itu” ujar Ahmad Penasaran. “Oh itu gak Kak, tadi Saya lihat ada orang mirip sama seseorang yang Saya kenal, tapi kayaknya bukan Dia” jawab Gia tergagap. “Woi buruan, Kita semua pada nungguin nih kalian malah enak berduaan” seru Alex kesal. “Iya Kak” jawab Gia dan Ahmad. Malam harinya Gia sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga ditemani Adit yang mengerjakan tugas kuliahnya. Melihat Kakaknya yang melamun dan tidak memperhatikan televisi Adit mulai iseng. Ia memanggil-manggil nama Kakaknya tidak mendapat respon. “Kakak Gia pacarnya Kak Ahmad” seru Adit. “Hah Apa” jawab Gia. “Tuh kan dipanggil namanya gak nyahut giiran dipanggil pakai nama Kak Ahmad nyahut berarti fix ini Kak Gia ada apa-apa sama Kak Ahmad” ledek Adit. “Apaan sih sok tahu Kamu pakai bawa nama Kak Ahmad lagi” ujar Gia marah. “Iya lagian Kakak dibilang lagi nonton enggak juga karena arah pandangan Kakak gak ke TV dan itu yang Kakak minum jus buah bukan kopi atau teh panas jadi gak perlu ditiupin Kak. Ada apa sih Kak kayaknya berat banget yang dipikirin?” ujar Adit “Gak ada, gak ada yang Kakak pikirin Kok” elak Gia, Adit duduk di sebelah Kakaknya itu. “Kak, Aku ini udah hapal banget kalau Kakak banyak termenung pasti lagi ada yang Kakak pikirin, Kakak lagi bingung ya pilih antara Kak Ahmad atau teman kakak yang tadi nganter pulang ya siapa namanya Kak” tanya Adit penasaran. “Oh itu Kak Aufar” jawab Gia tidak sadar kalau adiknya itu sedang meledek. “Jadi Kakak mau pilih siapa buat jadi Kakak ipar Aku, Kak Ahmad atau Kak Aufar “ ledek Adit. “Kakak ipar maksud Kamu apa dasar Adit awas ya Kamu” ucap Gia yang baru sadar kalau adiknya itu sedang meledek. “Aku Cuma tanya siapa yang mau Kakak jadiin Kakak ipar Aku Kak, jangan marah dong” ucap Adit sambil berlari menghindari amarah Gia yang sudah bersiap melempar bantal sofa. Namun lemparannya malah meleset dan mengenai Halan yang baru saja datang dan melewati ruang keluarga. Halan yang terkena lemparan Gia hanya memandang tajam adik perempuannya itu. “Kak, hati-hati ada yang ngamuk” ucap Adit mencoba mencairkan suasana. “Kalian udah dewasa kenapa masih bermain seperti anak-anak “ujar Halan dan segera berlalu menuju kamarnya. “Sejak kapan Kak Halan jadi gak seru gitu ya” ujar Adit kecewa. Sementara Gia kembali termenung dan mengingat orang yang masuk ke club itu tadi sore. Pakaian yang orang itu kenakan mirip dengan Kakaknya itu pakai tadi. Namun Gia berusaha menampik pikirannya itu dan berpikir rasional.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN