Sekalipun mencoba berpikir rasional tapi justru semakin sering Gia melihat sosok seperti Kakaknya masuk ke gedung itu. sore ini Ia sudah melihat lagi dan semakin yakin bahwa orang itu adalah Kakaknya Halan. Sudah hampir dua minggu Ia melihatnya karena begitu penasaran akhirnya Ia mengajak Aufar untuk ikut dengannya menyelediki sekaligus memastikan bahwa orang itu bukanlah Sang Kakak. Kini sedang jam istirahat siang, Gia mendekati Aufar yang sedang menyantap makan siangnya.
“Mau ngapain Kamu?” tanya Aufar yang melihat Gia sudah duduk di hadapannya.
“Memangnya gak boleh ya Kak Saya duduk di sini?” tanya Gia.
“Saya tahu, Kamu itu sedang ada maunya Kan, udah buruan ngomong saya lagi gak punya banyak waktu” ujar Aufar sambil sibuk dengan handphonenya.
“Kak, bisa gak temani Saya ke club nanti sudah pulang kantor?” tanya Gia polos, dan pernyataannya ini membuat Aufar tersedak lalu dengan sigap Gia memberikan minuman pada seniornya itu.
“Kamu ajak Saya ke club, mau ngapain” ujar Aufar dengan raut wajah tidak percaya.
“Jangan salah paham dulu Kak, gini kak ada yang mau saya pastikan di sana” jawab Gia.
“Apa yang mau Kamu pastikan?” tanya Aufar penasaran.
“Nanti deh Kak saya bilang, yang penting sekarang kakak mau gak temani Saya ke club?” tanya Gia.
“Kenapa gak minta tolong sama Ahmad bukannya Kamu selalu minta tolong sama Dia” ucap Aufar enggan.
“Kak Ahmad nanti malam ada siaran Kak” jawab Gia.
“Terus Kamu pikir Saya tidak ada pekerjaan yang Saya kerjakan, Saya sibuk kalau mau pergi silahkan pergi sendiri sana” ujar Aufar.
“Tapi Kak” rengek Gia.
“Saya sibuk titik” ujar Aufar sarkas dan pergi meninggalkan Gia begitu saja.
“Kalau begini terpaksa harus pergi sendiri, tapi kan belum ada pengalaman masuk club” keluh Gia bermonolog sendiri.
Malam harinya Gia sudah membulatkan tekad untuk masuk club itu dan memastikan keberadaan Kakaknya. Gia masih berdiri di depan club itu sambil menguatkan hatinya sebelum masuk. Ini adalah pengalaman pertamanya dan berharap menjadi yang terakhir Ia masuk ke gedung itu. hatinya yang belum kuat membuat Ia berulang kali bolak-balik menuju pintu masuk club kemudian memutar arah kembali keluar gedung. Pemandangan ini tampak oleh Aufar dari mobilnya yang baru saja keluar dari kantor.
“Anak ini benar-benar polos banget sih” ujar Aufar dan kemudian memarkirkan mobilnya di parkiran gedung itu.
Saat Gia sibuk bolak-balik tiba-tiba kepalanya terbentur seseorang yang Ia kenal.
“Kak Aufar” ujar Gia kaget.
“Kalau kayak gitu kapan masuknya” protes Aufar.
“Sebenarnya mau kamu itu apa sih” ujar Aufar kesal
“Ada sesuatu yang harus Aku cek Kak” jawab Gia.
“Saya tidak akan bisa bantu Kamu Kalau Kamu tidak cerita tujuan Kita ke sana paham” terang Aufar, lalu Gia menceritakan semuanya. “Oke kita masuk, tapi berusahalah agar-agar tidak jauh-jauh dari Saya Paham” tambah Aufar menekankan.
Pengalaman pertama bagi Gia memasuki club, Ia mencium bau menyengat yang menusuk hidungnya. Melihat orang-orang asyik berjoget dengan music yang begitu memekakan telinga dan memicu jantungnya. Gia berjalan perlahan mengikuti Aufar yang tampak tidak asing dengan suasana seperti ini. Tak lama ada suara yang memanggil Aufar dan menghampirinya, orang-orang itu mengajak Aufar untuk tost. Salah satu dari mereka bertanya sambil melirik Gia lalu kembali melihat Aufar. Aufar hanya tersenyum dan memastikan Gia ada di sebelahnya. Lalu kemudian Aufar memulai pembicaraan mereka sambil sesekali terus memperhatikan gerak-gerik Gia.
“Hei, Gue denger Bos besar lagi buka lowongan kerja?” tanya Aufar pada ketua genk itu.
‘Lo tau kan Bos gak pernah buka lowongan kerja dan Dia langsung rekrut karyawannya gitu aja” terang pria itu. “ kenapa Lo mau daftar jadi karyawan sini kalau Lo pasti bos seneng banget nih, langsung diangkat asset club nih” seloroh orang –orang itu.
“Tapi Lo udah keduluan sama orang baru”ujar Salah seorang dari mereka.
“Orang baru, sejak kapan ada orang baru?” tanya Aufar sambil melirik Gia masih berada di tempatnya.
“Belum lama mungkin baru 2 bulan ini lah dan kayaknya itu orang tipe Bos banget Lo kalah deh” ujar salah seorang dari mereka. “Tumben banget Lo banyak nanya, ada apa nih kayaknya penasaran banget sama orang baru” ledeknya lagi pada Aufar.
“Udah, ngomong-ngomong orang baru, cewek yang Lo ajak baru juga ya, bisa dong kita icip-icip” ujar ketua genk pada Aufar.
“Kalau kalian mau ajak ribut mendingan Gue pulang aja” ancam Aufar yang kemudian dihalangi Genk itu.
Gia sudah merasa tidak nyaman berada di tempat seperti ini. Namun saat hendak menuju toilet Ia mendapati sosok yang membuatnya begitu penasaran hingga akhirnya masuk ke tempat yang paling tidak ia inginkan dimasuki. GIa mengurungkan niatnya ke toilet dan mengikuti sosok tersebut sambil terus memperhatikan apa yang dilakukan sosok itu. dugaannya tidak salah bahwa sosok itu adalah benar Kakaknya Halan. Sementara itu teman Aufar langsung menunjuk tempat duduk Gia yang sudah kosong. Aufar yang melihat itu menjadi kesal dan bergumam sendiri karena kesal. Lalu setelah itu Ia pamit pada Genk itu untuk pergi mencari wanita yang datang bersamanya.
Gia yang merasa Kakaknya itu sedang tidak ada yang Ia lakukan, langsung beranjak mendekatinya. melihat yang adik yang sudah berada dihadapannya Halan kaget.
“Gia ngapain Kamu ada di sini?” tanya Halan untuk menghilangkan rasa kagetnya.
“Justru Aku tanya harusnya kenapa Kakak ada di sini bukannya Kakak seharusnya ada di rumah sakit ikut program Koas ya” tanya Gia.
“Memang benar, tapi ini hanya kerja sambilan” jawab Halan gugup.
“Kerja sambilan tapi gak harus kayak tadi kan Kak, dicium-cium cewek, gandeng-gandeng mereka apa itu maksudnya Kak, kerja sambilan kan masih banyak yang lain” ujar Gia mulai kesal. “Kita pulang Ya kak!” ajak Gia namun tangannya langsung ditepis Halan begitu saja.
“Kalau mau pulang, pulang aja sendiri sana” seru Halan kasar.
“Kak, kalau Kakak butuh uang kan bisa sama Mama atua Papa kalau mereka gak ada Kakak bisa pinjam sama Aku gak perlu kerja kayak gini” ujar Gia.
“Memang Papa mau kasih kalau Kakak minta dan Kamu gajian aja belum sok mau pinjemin uang, udah gak usah sok Kamu anak yang selalu dibanggakan mending pulang sana, oh iya satu lagi awas aja kamu ngadu sama Papa atau Mama Kakak gak akan tinggal diam ya” ancam Halan.
“Waduh ancaman Anda membuat Saya takut, memangnya Apa yang mau Anda lakukan pada adik yang menyayangi Anda ini” ujar Aufar tiba-tiba sambil berdiri tegak seolah menantang Halan.
“Jangan ikut campur urusan keluarga Kami ya” ujar Halan kasar.
“Tentu akan jadi urusan saya, sebab wanita ini (menunjuk Gia) datang bersama Saya jadi dari awal ikut dan hingga nanti pulang Dia akan jadi tanggung jawab Saya” ujar Aufar.
Halan kesal dan memukul Aufar, namun Aufar berhasil menghindar dan meledeknya. Semakin geram Halan membabi buta namun pukulannya itu justru tidak mengenai Aufar karena Adiknya sudah menjadi tameng dan dari bibirnya sudah mengalir darah segar. Gia meringis kesakitan, Aufar yang melihat itu langsung secara tiba-tiba melempar Halan. Halan kesakitan dan manager tempat itu melerai mereka, Aufar ditarik paksa oleh Gia keluar dari tempat itu. sepanjang perjalanan pulang Gia hanya diam hingga membuat Aufar bingung dan Ia meminggirkan mobilnya mengajak Gia mencari angin sebentar. Gia menolaknya tidak mau beradu pendapat akhirnya Aufar lebih memilih berjalan menuju minimarket terdekat. Begitu kembali Aufar terkejut melihat Gia sudah menangis histeris, ia memukul-mukul dirinya sendiri sadar ada orang didekatnya Gia memeluk Aufar. Aufar terpaku dan menjatuhkan barang bawaannya.