Setelah mengantar Gia pulang ke rumahnya, Ia Aufar fokus pada jalanan sambil memikirkan pelukan dari Karyawan juniornya itu. sejak pelukan itu jantungnya mulai tidak aman karena berdetak tidak seperti biasanya. Aufar menampik perasaan yang aneh dan pertama kali Ia rasakan. Ini bukanlah kali pertama dirinya mengantar Gia pulang namun kini perasaannya terasa berbeda.
“Apaan Sih Lo Far, gak mungkin Lo suka sama tu cewek” gumam Aufar sambil menyetir mobil.
Sementara itu di rumah Gia sudah ditunggu oleh ayah dan adiknya Adit. Gia yang tidak mau tampak buruk di hadapan keduanya langsung menepuk-nepuk mukanya lembut dan berjalan membuka pagar rumahnya. Sang ayah menatapnya lama sementara Adit hanya bersikap pura-pura marah sambil menahan tawanya..
“Darimana Kamu kok baru pulang, Kamu tadi gak bilang kalau pulangnya telat” tanya Maulana pada putrinya itu.
“Tadi ada rapat dadakan Pa, jadi gak sempet kasih tau Papa maaf ya Pa” ujar Gia lesu.
“Siapa tadi yang antar Kamu?” tanya Maulana tegas.
“Tadi Kak Aufar Pa, seniornya Gia di kantor” terang Gia.
“Kok Dia gak masuk nganter Kamu” tanya Maulana mulai posesif.
“Katanya tadi Dia takut ganggu Papa sama yang lain kalau Dia ikut masuk Pa” terang Gia ngarang padahal memang seniornya itu tidak suka berbasa-basi.
“Oh ya udah sana masuk” pinta Maulana, kemudian setelah putrinya masuk ke rumah, Ia menghampiri Adit.
“Kamu kenal sama Aufar?” tanya Maulana pada Adit.
“kurang kenal Pa, waktu itu aja memang sempet nganter Kak Gia juga Pa dan memang gak dia juga gak turun apalagi nganter Kak Gia masuk rumah Kayak Kak Ahmad” terang Adit.
“Iya bener Papa setuju Papa juga lebih suka Ahmad daripada siapa namanya tadi itu” ujar Maulana.
“Aufar Pa” sambung Adit.
“Tapi Kalau Mama lebih suka sama anak itu daripada anak yang bermodal motor doang yang waktu itu, Anak kita itu harus mendapatkan suami yang berkecukupan bukan orang yang gak bermodal kayak orang yang kamu setujui itu Pa” ujar Sara tiba-tiba nimbrung obrolan suami dan anak bungsunya itu.
“Ma bisa tidak menilai orang itu tidak dari harta dan apa yang mereka punya belum tentu orang yang berkecukupan itu baik” ujar Maulana.
“Pa, sekarang itu kita harus realistis bukan Cuma modal cinta doang, ah udahlah susah ngomong kalau sama kalian” terang Sara pada suami dan Adit.
Keesokan harinya Gia yang masih merasa tidak enak akan sikapnya pada Aufar malam tadi membuatnya tidak berani menyapa seniornya itu. hingga membuat gadis itu selalu menghindar dan menjauhi Aufar. Sementara Aufar yang kesal akan sikap Gia dan Ia menanggapi sikap Gia hari ini seolah meledeknya karena merasakan sesuatu hal yang tidak pernah Ia rasakan. Gia tampak terus berada di dekat Ahmad dan entah kenapa seorang Aufar mulai tidak suka melihat kedekatan keduanya. Saat makan siang pun Gia makan bareng dengan Ahmad sementara Aufar sendiri makan bersama Alex. Matanya selalu terus memandangi kedua rekannya itu dengan pandangan tidak suka namun sekali lagi Ia menampik perasaannya itu.
“Lo kenapa SIh Far, makin serem tau kalau wajah lo kayak gitu makin berkurang nanti cewek yang naksir” ujar Alex meledek rekan kerjanya itu.
“Diem Lo Kak” ujar Aufar kesal.
“Kenapa Lo marah kalau Gia lebih deket sama Ahmad bukan Sama Lo” ujar Alex sambil mengikuti arah pandangan Aufar.
“Tau ah, dan jangan Sok tau” ujar Aufar semakin kesal dan meninggalkan Alex sendirian.
Saat sudah jam makan siang, Alex meminta Gia dan Aufar untuk mendampingi Ahmad melakukan siaran pertama program mereka yang baru. Gia berujar bahwa dirinya tidak bisa mengoperasikan perangkat siaran langsung menolak dan meminta Vinni mengambil alih pekerjaannya. Namun Aufar justru tidak mau dan tetap memilih Gia untuk mendampinginya. Akhirnya Gia menurut dan mulai mengikuti Aufar. Saat sedang siaran Aufar membimbing dengan telaten juniornya dalam pengoperasian perangkat siaran. Aufar pada akhirnya memulai percakapan karena ingin tahu kenapa Gia menghidarinya seharian ini.
“Kenapa Kamu menghindar dari saya seharian ini?” tanya Aufar tanpa basa-basi.
“Itu Soalnya Saya malu Kak” jawab Gia sambil menundukkan kepalanya dan dengan nada suara agak takut.
“Malu, malu kenapa?” Aufar bertanya dan menahan senyum karena mendengar jawaban yang tidak terduga dari Gia.
“Ya malu Kak, soalnya semalam udah berani peluk-peluk Kakak Saya takut Kakak marah jadi makannya Saya gak berani nyapa Kakak dari tadi” terang Gia polos.
“Jadi Kamu takut Saya marah, makannya jangan sembarangan peluk-peluk orang” ujar Aufar sambil mencoba menahan senyumnya dan sekaligus entah kenapa ada perasaan lega.
“Iya Kak, maaf” ujar Gia lagi. Kemudian melihat sepintas ke Aufar dan melihat senyuman manis terukir di wajahnya. “Wah, Kak Aufar senyum manis banget” puji Gia.
“Udah Diem kerja sana” ucap Aufar dengan wajah yang tersipu namun sayangnya Gia tidak melihat itu.
Saat sudah selesai siaran Ahmad menghampiri Gia dan langsung mengajaknya mengobrol tanpa mempedulikan Aufar yang ada di dekat mereka. Aufar merasa kesal dan pergi mendahului kedua rekannya itu. menatap heran pada Aufar tapi karena merasa tidak melakukan apa-apa dan tidak menyinggungnya Ahmad kembali mengajak Gia mengobrol.
“Gia, besok kamu ada acara gak?”tanya Ahmad.
“Enggak, memangnya kenapa Kak” tanya Gia balik.
“Gimana kalau besok kita kerja diluar kan besok hari sabtu jadi bebas dong” ujar Ahmad.
“Tapi apa gak apa-apa Kak, kalau karyawan baru seperti Saya pergi begitu saja pada saat orang-orang kerja” tanya Gia ragu.
“Gak apa-apa lah, apalagi kalau perginya bareng karyawan Senior kamu tenang aja nanti Saya yang minta Izin sama Kak Alex juga yang lain” bujuk Ahmad.
“Kakak yakin” tanya Gia masih ragu.
“Yakin dong, gimana mau gak?” desak Ahmad.
“Ya udah deh Mau tapi beneran ya Kak gak apa-apa” ucap Gia masih ragu.
“Nah gitu dong, besok jam 8 Saya jemput ya ke rumah” ucap Ahmad girang.
“Iya Kak” ujar Gia.
Keesokan harinya Gia yang baru saja bangun tidur langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Kemudian Ia langsung duduk di kursi meja makan, matanya menangkap sosok yang Ia kenal dan langsung menyapa. Sesaat kemudian Ia mendapatkan kesadarannya dan kemudian berteriak sekeras mungkin dan segera berlari secepat mungkin ke kamarnya.
“Nah kan Kak udah Adit bilang kalau harus tutup telinga” ucap Adit pada Ahmad.
“udah diam Kamu, Ayo nak sarapan saja paling 15 menit lagi Dia udah siap” ucap Maulana pada Ahmad yang hanya bisa tersenyum.
Ahmad mendusel-dusel kepalanya ke perut Gia seperti seekor kucing yang sedang manja pada majikannya
“Tapi janji ya kamu gak akan meluk orang lain lagi selain aku,”ujar Ahmad manja sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
“Iya Mas, karena sekarang dan selamanya yang jadi suami aku itu kamu,” ucap Gia mengusap lembut kepala Ahmad.
“Kapan sih kamu selesai nifasnya gak sabar tahu pengen langsung nyerang kamu tahu,”rayu Ahmad manja.
“Apaan sih kamu Mas, udah sekarang mendingan kita tidur,”ajak Gia pada suaminya.
“Gak bisa ya, sebentar aja,”protes Ahmad frustasi.
“Enggak Mas,tidur yu,”ajak Gia lagi.
“Kalau meluk aja boleh kan?,” rayu Ahmad
“Mas kamu itu udah jadi ayah, apa kata Yumi kalau dia tahu tingkah ayahnya manja kayak gini,” tutur Gia lembut.
“Biar aja, lagian nanti Yumi juga akan selalu deket aku secara dia anak perempuan,” tutur Ahmad yang mengundang senyum, karena paham maksud perkataan suaminya itu.