Gia yang sudah terbangun sebelum subuh, sibuk sudah menyiapkan sarapan, bekal dan membereskan rumah. Ia melihat sang suami yang sibuk mengenakan pakaiannya. Gia membantu Ahmad mengancing baju dan menggunakan jam tangannya. Lalu kemudian keduanya keluar kamar sementara putri mereka sudah digendong duluan oleh Adit. Melihat anak dan menantunya keluar dari kamar Maulana langsung mengajaknya sarapan begitupun dengan Sara.
“Kamu udah gajian kan, mana sini jatah buat bayar listrik sama airnya,” ujar Sara pada Ahmad.
“Sejak kapan kamu minta uang listrik dan air bulanan sama Ahmad?,”tanya Maulana heran.
“Bukannya aku udah kasih tiap bulannya sama kamu,” tambah Maulana.
“Iya tapi belum cukup Pa, lagipula bukannya hal yang wajar mama minta uang sama mereka untuk bayar tagihan bulanan,” terang Sara.
“Apa kamu bilang belum cukup, sebenarnya kamu pakai apa uang itu sampai kamu bilang belum cukup,”tanya Maulana.
“Pa kebutuhan pokok harganya naik semua,tagihan air listrik juga naik ya jadinya uang yang kamu kasih belum cukup,” terang Sara.
“Pa, Mama benar ini juga udah jadi kewajiban Ahmad ikut membantu kebutuhan rumah ini,” ujar Ahmad mencoba melerai mertuanya.
“Menantu kamu gak keberatan kenapa kamu yang sewot sih,” ucap Sara.
“Nanti transfer ke rekening yang biasa ya Mad,” tambah Sara lagi.
Saat hendak berangkat kerja Ahmad melupakan sesuatu dan kembali lagi ke kamarnya. Gia yang melihat suaminya itu balik lagi ke kamar mereka bertanya.
“Ada apa Mas,?” tanya Gia.
“Aku mau ambil dompet ketinggalan di nakas,”ujar Ahmad dan tersenyum melihat dompetnya. Gia yang memperhatikan suaminya itu merasa heran.
“Mas, kamu masih pakai dompet itu?,”tanya Gia.
“Iya dong pasti ini dompet pemberian dari kamu jadi ya harus aku pakai,” terang Ahmad.
“Ya walaupun yang punya dompet ini bukan cuma aku” ucap Ahmad.
“Iya, soalnya waktu itu aku bingung mau kasih apa ke kalian yang udah bantu aku pas gaji pertama” ucap Gia sambil senyum.
Sudah sebulan Gia bekerja dan hari ini Ia mendapat gaji pertamanya sebagai seorang karyawan. Dengan gaji yang lumayan Ia berencana mentraktir keluarganya malam ini untuk makan malam. Ia membuat reservasi khusus di resto favoritnya lalu mengirim pesan di pesan grup keluarganya jika mala mini Ia akan mentraktir mereka. Aufar memperhatikan Gia yang senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu ada yang lucu?,”tanya Aufar tak peduli.
“Enggak kak, gak ada apa-apa kok,”jawab Gia sambil senyum manis pada Aufar.
“Udah jangan senyum-senyum kerja sana, gaji gak di dapat dari senyum-senyum aja,” ujar Aufar ketus kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya.
“Iya kak,”jawab Gia sambil tersenyum lagi. Kemudian sepintas ia juga memikirkan hadiah ucapan terima kasih pada anggota tim-nya.
“Pagi-pagi udah menung aja kenapa,”sapa Ahmad tiba-tiba dan membuat Gia kaget.
“Oh, itu gak ada apa-apa kok kak,” jawab Gia gugup.
“Ada apa kak, apa ada yang perlu dibantu?,”tanya Gia lagi.
“Kebetulan banget kamu tanya, nanti sepulang kerja kamu mau gak nemenin saya ke mall?,” tanya Ahmad.
“Memangnya mau apa ke mall kak?,” tanya Gia bingung.
“Besok adik saya ulang tahun saya bingung mau kasih kado apa ke dia secara dia perempuan, makannya saya ajak kamu yang kayaknya paham deh seleran adik saya itu,”terang Ahmad.
“Kenapa harus ajak Gia memangnya Gia udah pernah ketemu sama adik kamu?,”ujar Aufar sinis.
“Lagian anggota perempuan kan gak cuma Gia masih ada Vina atau Vinni kenapa gak ajak mereka aja, kayaknya mereka lebih paham tentang perempuan,” ujar Aufar tak acuh sambil terus mengetik.
“Kalau Vina atau Vinni itu feminim sementara adik saya itu agak tomboy jadi Gia pasti tahu selera perempuan tomboy,” terang Ahmad.
“Gimana ya Kak, tapi malam ini saya udah punya acara,”ujar Gia merasa segan.
“Sebentar aja gini deh nanti pulang dari mall saya antar kamu ke tempat acara gimana,”Ahmad memelas.
“Gak bisa dia udah ada acara kenapa maksa sih,”ujar Aufar jengah.
“Kenapa jadi kamu yang sewot sih, Gia nya aja belum jawab,”ujar Ahmad.
“Jadi gimana bisa kan?,” tanya Ahmad.
“Ya udah deh, kebetulan ada beberapa barang juga yang mau saya beli,”ujar Gia akhirnya menerima ajakan Ahmad.
Sesuai kesepakatan sebelumnya Gia menemani Ahmad ke mall untuk membeli hadiah. Ahmad terus bertanya pada Gia tentang hadiah yang cocok untuk adiknya. Gia bertanya tentang apa yang disukai oleh adiknya Ahmad itu mulai dari barang, warna, olahraga, dan hobinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk membelikan adik Ahmad itu sepatu olahraga.
“Nanti kalau udah selesai lihat-lihatnya kasih tau ya kak, aku mau ke situ dulu sebentar ada yang harus dibeli,”ujar Gia pada Ahmad yang sedang sibuk mencari sepatu cocok.
“Oke deh, oh iya boleh tahu ukuran sepatu kamu?,” tanya Ahmad.
“Buat apa kak?,”tanya Gia heran.
“Ukuran sepatu dia kayaknya sama dengan kamu,bukannya saya gak tahu ukuran sepatu adik saya tapi buat jaga-jaga aja kan,”terang Ahmad.
“Oh gitu ya, ukuran sepatu saya 38 kak,”jawab Gia kemudian langsung pergi meninggalkan Ahmad.
Setelah hampir 20 menit, Ahmad menghampiri Gia. Keduanya saling membalas senyum kemudian berjalan berdampingan keluar mall menuju tempat parkir. Sesuai janjinya Ahmad mengantar Gia ke tempat acaranya malam ini. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ahmad dan melihat seniornya itu sudah menjauh baru ia masuk ke resto itu. Gia berjalan riang menuju ruangan yang sudah direservasinya. Senyumannya semakin mengembang kala melihat semua keluarganya sudah berada di sana. Adit yang lebih dulu melihat sang kakak langsung menghampirinya dan mengajak duduk.
“Ada apa ini Nak, kenapa tiba-tiba ajak kami makan di sini?,” tanya Maulana pada putrinya itu.
“Hari ini Gia gajian Pa, jadi untuk merayakannya Gia mau traktir semuanya makan di sini,”ujar Gia sumringah.
“Baru bisa traktir makan malam aja bangga, coba kamu lihat Halan gaji pertamanya udah bisa beliin mama gelang emas,”ujar Sara merendahkan sambil memamerkan gelangnya itu. Gia hanya diam memandang Halan yang sudah menatapnya tajam.
“Bisa tidak sekali saja kamu menghargai apa yang diberikan oleh Gia,”ujar Maulana menasehati istrinya itu.
“Iya maaf, sekarang mana makanannya?,”ucap Sara.
“Bentar lagi datang Ma,”ujar Gia dan tak lama beberapa pelayang membawa makanan yang sudah dipesan.
“Wah makan enak nih malam ini, makasih ya kak,” ujar Adit bersemangat dan Gia yang melihatnya langsung senyum.
Keesokan paginya Aufar mendapati sebuah kotak yang terletak di mejanya. Ia membuka kotak itu dan isinya adalah dompet pria berwarna hitam ia juga mendapati sebuah note yang berisikan ucapan terima kasih dari Gia. Pria itu tersenyum sumringah dan dengan semangat memindahkan isi dompet ke dompet barunya. Alex yang kebetulan lewat langsung menegur Aufar.
“Wah hari ini bakal hujan,”ledek Alex.
“Kenapa memangnya Kak?,”tanya Aufar masih memperhatikan dompet barunya itu.
“Seorang Aufar sudah senyum-senyum sendiri sejak pagi soalnya,”ujar Alex lagi, sadar menjadi bahan candaan ketuanya itu. Dia Aufar langsung mengubah ekpresinya dan mulai bekerja.
Siang harinya secara kebetulan Ahmad, Aufar dan Alex sedang menikmati minuman mereka. Ketiganya mengutarakan niat mereka untuk mentraktir satu dengan yang lainnya. namun saat di meja kasir langkah mereka bertiga berhenti karena mendapati dompet mereka yang percis sama. Ahmad merasa bête dan langsung berjalan keluar café diikuti oleh Aufar, sementara Alex yang heran dan langsung berlari dengan cepat setelah membayar minuman mereka. Gia yang hendak berjalan keluar kantor berpapasan dengan ketiganya. Gia tersenyum dan hendak menyapa namun melihat wajah seniornya yang menatap tajam padanya senyum itu Ia tarik kembali.
Gia tertawa kecil, Ahmad yang melihat istrinya tertawa langsung marah.
“Terus, terus ketawa lucu ya,”ujar Ahmad marah.
“Iya habisnya waktu itu aku gak tahu harus beli apa buat kalian jadi ya aku inisiatif beli dompet aja,”terang Gia.
“Iya kirain aku cuma aku yang dikasih kiranya seragaman sama yang lain,”ujar Ahmad kesal.
“Iya maaf, besok-besok aku beliin kamu dompet yang limited edition deh,”bujuk Gia.
“Udah ah, aku berangkat kerja dulu ya nanti telat,”ujar Ahmad kemudian pamit pergi kerja setelah mengecup kening istrinya.