Setelah suaminya pergi, handphone miliknya Gia berdering tanda ada pesan masuk. Pesan itu dari Halan, Gia tersenyum membaca pesan itu kemudian ia mengetik balasannya. Adit menghampirinya setelah diizinkan masuk kamar barulah ia menghampiri kakaknya sambil mengajak main keponakannya.
“Kak barusan dapat pesan dari kak Halan ya ,” tanya Adit.
“Iya, kamu juga dapat pesan dari kak Halan?,” tanya Gia balik.
“Syukur deh, kak Halan dalam keadaan baik,”ujar Adit.
“Iya kak, kata kak Halan juga mohon doanya hari ini dia mau presentasikan makanan buatannya di depan para tamu VIP tempat ia kerja,”terang Gia.
“Ia semoga dia sukses ya kak,”tambah Adit.
“Kak, makasih ya,”ujar Adit.
“Makasih untuk apa?,”tanya Gia bingung.
“Udah jadi kakak terbaik untuk aku dan walaupun kak Halan telat sadarnya kalau dia punya adik kayak kak Gia,”ledek Adit.
“Intinya aku beruntung banget punya kakak kayak kak Gia dan untuk kak Halan biasa aja,” ujar Adit lagi.
“Kamu gak boleh gitu, mau bagaimanapun juga kak Halan itu adalah kakak kita,”ujar Gia menasehati adiknya itu.
“Kak yang sabar ya sama mama, entah kenapa semenjak kak Halan keluar dari rumah sikap mama makin parah sama kakak,”ujar Adit
“Kakak jadi ingat kejadian malam itu,”tutur Gia sendu.
“Iya, Adit juga” ujar kedua kakak beradik itu sendu lalu menerawang mengingat kejadian yang membuat kakak sulung mereka pergi meninggalkan rumah.
Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul satu malam namun Halan belum pulang juga ke rumah. Maulana merasa khawatir sebab putranya itu tidak seperti biasanya yang selalu memberi kabar jika pulang terlambat.
“Udah ngapain harus khawatir sih mas, mungkin banyak yang harus dia lakukan secara dia itu calon dokter jadi yaw ajar kalau pulangnya telat,”ujar Sara santai.
“Bukan,Cuma perasaan Papa gak enak aja,” ujar Maulana cemas.
“Udahlah mas gak perlu khawatir, tenang aja percaya deh pasti gak ada apa-apa kok,” tambah Sara santai.
“Ya sudah kalau mama mau nunggu Halan di rumah silahkan papa mau cari dia,” ujar Maulana dan masuk rumah hendak mengambil kunci mobilnya.
“Gia ikut papa ya,”ucap Gia penuh dengan sangat pada papanya itu.
“Kamu di rumah aja ya nak,”ujar Maulana singkat lalu pergi menuju pintu keluar.
“Gia tahu dimana kak Halan sekarang”teriak Gia menghentikan langkah papanya itu.
Sementara itu Halan yang sedang bekerja di tempatnya biasa, Ia melayani tamu VIP dari club itu. Walaupun Ia menolak setiap kali para tamu itu mengajaknya melakukan hal ‘itu’ tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat para tamu itu sudah mulai meraba tubuhnya atau sekedar duduk di pangkuannya. Namun hal ini harus ia lakukan agar bisa dengan cepat mendapatkan uang banyak untuk membayar biaya sekolah sesuai cita-cita yang diinginkannya. Malam ini ia harus melayani para tamu wanita yang tampaknya berasal dari kalangan atas sebab dari pakaian dan benda yang mereka bawa saja semuanya adalah barang bermerek terkenal dan harganya mahal. Salah satu dari wanita itu tampak diam namun matanya akan berubah tajam saat melihat wanita yang sibuk minum dihadapannya bergerak. Wanita yang sibuk minum itu menghampiri Halan dan kemudian duduk di pangkuannya. Ia membelai wajah Halan inci demi inci, dan kemudian memaksa Halan untuk minum, namun pria itu menolak dengan dalih bahwa dirinya masih bekerja. Sepintas Halan melihat teman dari wanita itu memasukan serbuk pada minuman mereka.
Sebagai seorang calon dokter ia tahu bahwa serbuk itu bukanlah obat atau vitamin, melainkan obat-obat terlarang. Seorang pria menghampiri mereka dan memberikan minuman itu pada wanita yang duduk di pangkuannya itu. Wanita itu menolaknya namun sang pria terus memaksa dan akhirnya Halan mulai emosi membuat wanita yang dipangkuannya terjatuh dan memandang tajam seolah menantang pria yang dihadapannya.
Sementara itu Maulana mencari putra sulungnya ke tempat biasa praktek. Namun setelah ditanya pada karyawan di sana bahwa Halan sudah tidak masuk praktek di tempat itu semenjak dua bulan yang lalu. Merasa bingung Maulana tidak tahu lagi harus mencari putranya itu kemana lagi.
“Gimana Pa, kak Halan ada di sana ?.”Tanya Gia, Maulan menggeleng.
“Pa, sekarang Papa mau ikut ke tempatnya kak Halan, tapi papa harus janji untuk enggak marah sama kak Halan,”pinta Gia dengan sangat.
“Memangnya ada apa nak,” telpon milik pak Maulana berbunyi dan beliau langsung mengangkat. Beliau sepertinya terlibat percakapan serius yang terlihat jelas dari mimic wajahnya. Setelah menutup telpon ia tampak terburu-buru menuju mobil bahkan tidak mendengarkan pertanyaan putrinya.
“Ayo nak, cepat ke mobil,” pinta Maulana terburu-buru pada putrinya.
“Ada apa pa?,” Tanya Gia pada papanya.
“Kakakmu sekarang ada di kantor polisi,”ujar Maulana datar pada putrinya kemudian menyalakan mobil.
Selama perjalanan menuju kantor polisi, Gia hendak menceritakan pada Papa nya tentang pekerjaan kakaknya itu. Maulana segera menahannya dan mengatakan untuk Halan saja yang menceritakan semuanya. Mereka sudah sampai di kantor polisi dan segera bergegas menuju ruangan yang diinformasikan tadi. Saat berada di ruangan tersebut Maulana terkejut melihat putra sulungnya itu duduk lesu dengan tangan diborgol wajahnya yang penuh lebam. Maulana dan Gia segera menghampiri Halan, kemudian seorang polisi menghampiri mereka. Polisi itu menjelaskan bahwa Halan tidak terbukti mengenakan sabu hanya terlibat sebuah pertengkaran dengan tersangka lainnya. Maulana yang begitu tahu akan sifat anaknya yang tidak gampang tersulut emosi itu mencoba membela.
“Anak saya terlibat pertengkaran, saya yakin pasti ada yang memicunya hingga anak saya ini menjadi emosi,” ujar Maulana membela putranya.
“Iya itu benar pak, kakak saya tidak mungkin memukul seseorang tanpa sebab,” ujar Gia.
“Itu benar pak, “ ujar seseorang tiba-tiba sambil berjalan menuju meja tempat Maulana dan Gia.
“Dia menolong saya dari tindakan pelecehan terhadap saya yang dilakukan oleh pacar saya sendiri, pacar saya tadi memanfaatkan kondisi mabuk saya untuk memaksa saya meminum minuman yang menurut pria ini (menunjuk Halan) sudah dicampur sabu-sabu, dan saya justru berterimakasih pada dia karena sudah menyelamatkan saya,” terang wanita itu.
“Apa benar yang dikatakan nona ini?,”Tanya polisi itu pada Halan.
“Dia tidak akan mengakuinya, jadi lepaskan saja dia pak biarkan saya yang menjaminnya kalau pria ini sama sekali tidak bersalah,” ujar wanita itu lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dalam perjalanan pulang Halan hanya diam begitu juga dengan Maulana. Gia hanya bisa memandangi keduanya dengan cemas karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Maulana hanya bicara sekali pada putranya itu selepas dari kantor polisi.
“Ceritakan semuanya secara rinci di rumah dan papa harap tidak ada yang kamu tambahkan dan kurangi ceritanya paham,” ujar Maulana tegas memandang tajam pada putranya dan Halan hanya mengangguk pelan.